MELIHAT paras dan perawakannya yang langsing, sepintas terlihat sebagai seorang seniman tari. Namun ternyata bukan, Martina Ari Saraswati merupakan seorang pemaian teater profesional dan berprestasi.
Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini mengaku tak pernah punya mimpi untuk menjadi pemain teater profesional seperti saat ini. Bahkan, seni peran ini bukan yang dicita-citakan. Sejak kecil, perempuan 29 tahun asal Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, ini mengaku ingin menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB).
Namun, putri kedua dari pasangan suami-istri, Ki Bagong Sabdo Sinukerto (ketua Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur) dan Emy Sulistyani, ini harus beralih haluan. “Menggeluti seni teater hingga seperti sekarang ini semua karena dorongan orang tua. Terutama ayah yang juga seniman,” ujar perempuan yang akrab disapa Ari ini.
Karenanya, begitu lulus dari SMPN 1 Prigen, Ari melanjutkan ke SMKN 9 Surabaya atau sekolah seni pertunjukkan jurusan teater. Kemampuannya berteater semakin matang setelah menempuh sarjana strata satu di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta melalui program beasiswa. Di sana, ia mengambil jurusan teater di Fakultas Seni Pertunjukkan.
“Saat di SMK dan kuliah di ISI Jogjakarta, saya maksimal menggeluti dan mendalami seni teater. Akhirnya menjadi suka dan semakin tertarik,” ujarnya.
Menurutnya, teater bukan sekadar memerankan akting dan blocking. Namun, banyak nilai-nilai dan hal-hal lain yang harus dikuasi. Termasuk masalah psikologi. “Ketika di kehidupan nyata, kadang sosok karakter atau tokoh yang diperankan juga ikut terbawa dan sulit dilepas. Ini hal yang wajar dan biasa,” ujarnya.
Meski tinggal di Pasuruan, selama menggeluti teater, Ari lebih sering mentas di luar daerah. Seperti Padang Panjang, Sumatera Barat; Jogjakarta; Jakarta; Bandung; Pontianak; dan Nusa Tenggara Timur. Ia juga pernah tampil di Jombang dan Blitar. “Paling sering tampil di luar provinsi. Di Pasuruan, juga pernah, tapi jarang sekali,” ujarnya.
Ari mengaku banyak mendapat pengalaman menarik ketika bermain teater. Salah satunya yang sulit dilupakan adalah ketika tampil di Jogjakarta, beberapa tahun lalu. Selepas manggung, Ari mengaku merasakan letih dan mudah capai. Kondisi ini tak biasa dialaminya selama mentas. Ternyata, setelah memeriksakan diri ke dokter, istri Sammy Rian Afanto ini sedang hamil muda.
Apresiasi dari penonton juga sering didapatkannya. Salah satunya ketika menampilkan monolog Balada Sumarah di Padang Panjang. Ari mengisahkan seorang tenaga kerja wanita (TKW) yang dihukum pancung.
“Khusus monolog Balada Sumarah, pertama kali tampil di Padang Panjang. Seusai pementasan, para penonton banyak yang menangis memeluk saya. Karena banyak yang suka, kami kembali tampilkan di Jakarta dan Jogja,” ujar ibu dari Kinanti Sita Saraswati ini.
Segudang prestasi dalam bidang ini juga pernah diraihnya. Di antaranya, juara II monolog se-Jogjakarta dan nominasi aktor terbaik Festival Teater Jogjakarta. Lalu, lima monologer terbaik Dramakala Fest tingkat Nasional di Bekasi dan grup terbaik festival pembacaan lakon virtual Kemendikbud (penulis naskah dan aktor).
Kini, Ari tak hanya berteater. Ia juga menulis naskah. Termasuk menulis skenario televisi dan FTV. Sebagai warga Kabupaten Pasuruan, ia juga berkeinginan memajukan seni teater di tempat kelahirannya. “Teater tidak sebatas akting dan panggung, tetapi kehidupan. Saya belajar hidup dari teater,” ujarnya, tersenyum. (zal/rud/fun) Editor : Fandi Armanto