Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Martina Ari Saraswati, Pemain Teater Asal Prigen dan Prestasinya

Fandi Armanto • Jumat, 15 Januari 2021 | 15:13 WIB
TOTAL: Martina Ari Saraswati, saat pementasan monolog Perirana di Auditorium Teater ISI Jogjakarta. Inset: Martina Ari Saraswati (Foto: Martina Ari Saraswati for Jawa Pos Radar Bromo)
TOTAL: Martina Ari Saraswati, saat pementasan monolog Perirana di Auditorium Teater ISI Jogjakarta. Inset: Martina Ari Saraswati (Foto: Martina Ari Saraswati for Jawa Pos Radar Bromo)
Kemampuannya sebagai pemain teater terbilang komplet. Selain aktor, Martina Ari Saraswati juga jadi penulis naskah. Berkat kepiawaiannya berseni peran, Ari telah melanglang buana mentas di berbagai daerah.

 

MELIHAT paras dan perawakannya yang langsing, sepintas terlihat sebagai seorang seniman tari. Namun ternyata bukan, Martina Ari Saraswati merupakan seorang pemaian teater profesional dan berprestasi.

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini mengaku tak pernah punya mimpi untuk menjadi pemain teater profesional seperti saat ini. Bahkan, seni peran ini bukan yang dicita-citakan. Sejak kecil, perempuan 29 tahun asal Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, ini mengaku ingin menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB).

Namun, putri kedua dari pasangan suami-istri, Ki Bagong Sabdo Sinukerto (ketua Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur) dan Emy Sulistyani, ini harus beralih haluan. “Menggeluti seni teater hingga seperti sekarang ini semua karena dorongan orang tua. Terutama ayah yang juga seniman,” ujar perempuan yang akrab disapa Ari ini.

Photo
Photo
ASLI PASURUAN: Martina Ari Saraswati saat pementasan  Mainan Dari Gelas, di gedung societtet Taman Budaya Yogyakarta. (Foto: Martina Ari Saraswati for Jawa Pos Radar Bromo)

Karenanya, begitu lulus dari SMPN 1 Prigen, Ari melanjutkan ke SMKN 9 Surabaya atau sekolah seni pertunjukkan jurusan teater. Kemampuannya berteater semakin matang setelah menempuh sarjana strata satu di Institut Seni Indonesia  (ISI) Jogjakarta melalui program beasiswa. Di sana, ia mengambil jurusan teater di Fakultas Seni Pertunjukkan.

“Saat di SMK dan kuliah di ISI Jogjakarta, saya maksimal menggeluti dan mendalami seni teater. Akhirnya menjadi suka dan semakin tertarik,” ujarnya.

Menurutnya, teater bukan sekadar memerankan akting dan blocking. Namun, banyak nilai-nilai dan hal-hal lain yang harus dikuasi. Termasuk masalah psikologi. “Ketika di kehidupan nyata, kadang sosok karakter atau tokoh yang diperankan juga ikut terbawa dan sulit dilepas. Ini hal yang wajar dan biasa,” ujarnya.

Photo
Photo
TOTAL: Martina Ari Saraswati, saat pementasan monolog Perirana di Auditorium Teater ISI Jogjakarta. Inset: Martina Ari Saraswati (Foto: Martina Ari Saraswati for Jawa Pos Radar Bromo)

Photo
Photo


Meski tinggal di Pasuruan, selama menggeluti teater, Ari lebih sering mentas di luar daerah. Seperti Padang Panjang, Sumatera Barat; Jogjakarta; Jakarta; Bandung; Pontianak; dan Nusa Tenggara Timur. Ia juga pernah tampil di Jombang dan Blitar. “Paling sering tampil di luar provinsi. Di Pasuruan, juga pernah, tapi jarang sekali,” ujarnya.

Ari mengaku banyak mendapat pengalaman menarik ketika bermain teater. Salah satunya yang sulit dilupakan adalah ketika tampil di Jogjakarta, beberapa tahun lalu. Selepas manggung, Ari mengaku merasakan letih dan mudah capai. Kondisi ini tak biasa dialaminya selama mentas. Ternyata, setelah memeriksakan diri ke dokter, istri Sammy Rian Afanto ini sedang hamil muda.

Apresiasi dari penonton juga sering didapatkannya. Salah satunya ketika menampilkan monolog Balada Sumarah di Padang Panjang. Ari mengisahkan seorang tenaga kerja wanita (TKW) yang dihukum pancung.

“Khusus monolog Balada Sumarah, pertama kali tampil di Padang Panjang. Seusai pementasan, para penonton banyak yang menangis memeluk saya. Karena banyak yang suka, kami kembali tampilkan di Jakarta dan Jogja,” ujar ibu dari Kinanti Sita Saraswati ini.

Segudang prestasi dalam bidang ini juga pernah diraihnya. Di antaranya, juara II monolog se-Jogjakarta dan nominasi aktor terbaik Festival Teater Jogjakarta. Lalu, lima monologer terbaik Dramakala Fest tingkat Nasional di Bekasi dan grup terbaik festival pembacaan lakon virtual Kemendikbud (penulis naskah dan aktor).

Kini, Ari tak hanya berteater. Ia juga menulis naskah. Termasuk menulis skenario televisi dan FTV. Sebagai warga Kabupaten Pasuruan, ia juga berkeinginan memajukan seni teater di tempat kelahirannya. “Teater tidak sebatas akting dan panggung, tetapi kehidupan. Saya belajar hidup dari teater,” ujarnya, tersenyum. (zal/rud/fun) Editor : Fandi Armanto
#pemain teater asal prigen #pemain teater kabupaten pasuruan #martina ari saraswati pemain teater #seniman pasuruan