”Air itu sudah bercampur limbah dari perusahaan,” tuding anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan, Najib Setiawan. Nadanya kesal dan marah.
Najib terang-terangan menuduh perusahaan di kawasan Kecamatan Beji memanfaatkan banjir untuk membuang limbah industri. Yang rugi, kata dia, tentu para peternak lele di Desa Kedungringin. Ribuan ikan mati mendadak.
Menurut Najib, tidak hanya ke Sungai Wrati. Limbah juga digelontorkan ke saluran air lain di Kedungringin. Dampaknya, ketika air sungai meluap, air bah campur limbah masuk ke permukiman. Termasuk kolam-kolam ikan.
”Warga Kedungringin benar-benar waswas. Perusahaan membuang limbah sembarangan. Ikan-ikan mati gara-gara kolam tercemar,” tandas legislator asal Partai Keadilan Sejahtera itu.
Saat ini, ungkap Najib, baru kolam milik seorang warga yang tercemar limbah. Namun, pembudidaya lele lainnya ikut waswas. Mereka khawatir terjadi hal serupa. Di Kedungringin, ada puluhan pembudidaya ikan lele. Mereka takut kolamnya tercemar limbah.
Najib mewanti-wanti perusahaan di wilayah Wonokoyo, Cangkringmalang, Kecamatan Beji, agar tidak memanfaatkan hujan dengan membuang limbah berbahaya ke sungai. Itu merugikan warga.
Dia mengaku sudah mencurigai perusahaan mana saja yang memanfaatkan banjir untuk membuang limbah. ”Lihat saja! Kalau sampai berbuat hal serupa, kami akan mengambil sikap,” tegasnya.
Najib mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan agar tidak berpangku tangan. Harus mengambil langkah. ”DLH jangan duduk manis. Harus ada tindakan. Kami sudah sampaikan di forum-forum, bahkan paripurna. Tapi, seolah tidak ada tindakan nyata,” imbuhnya.
Dikonfirmasi soal ini, Kepala DLH Kabupaten Pasuruan Heru Ferianto belum memberi tanggapan. Saat dihubungi melalui sambungan selulernya, tidak ada jawaban.
Persoalan limbah di Sungai Wrati dan jaringan irigasi lain di wilayah Kedungringin, Kecamatan Beji, sudah lama mengundang protes. Air sungai tidak lagi bersih. Warna kerap pekat. Warga menduga sungai tersebut tercemar oleh limbah perusahaan-perusahaan di wilayah Cangkringmalang, Gununggangsir, serta Wonokoyo, Kecamatan Beji. (one/far) Editor : Jawanto Arifin