Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Banjir Masuk Kolam, Ribuan Lele Milik Pembudidaya di Beji Mati

Jawanto Arifin • Jumat, 26 November 2021 | 18:27 WIB
TERCEMAR?: Sungai Wrati yang kena banjir. Inset, bangkai ikan lele di kolam warga yang mati setelah kebanjiran. (Foto: Istimewa)
TERCEMAR?: Sungai Wrati yang kena banjir. Inset, bangkai ikan lele di kolam warga yang mati setelah kebanjiran. (Foto: Istimewa)
BEJI, Radar Bromo - Warna air Sungai Wrati sungguh tidak biasa saat banjir terjadi Selasa (23/11). Air bah yang meluap dari sungai biasanya berwarna cokelat pekat. Namun, saat itu warnanya berubah kehitaman. Air itu pun masuk ke kolam budi daya ikan. Besoknya, ribuan ikan lele mati. Bertumbangan.

”Air itu sudah bercampur limbah dari perusahaan,” tuding anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan, Najib Setiawan. Nadanya kesal dan marah.

Najib terang-terangan menuduh perusahaan di kawasan Kecamatan Beji memanfaatkan banjir untuk membuang limbah industri. Yang rugi, kata dia, tentu para peternak lele di Desa Kedungringin. Ribuan ikan mati mendadak.

Menurut Najib, tidak hanya ke Sungai Wrati. Limbah juga digelontorkan ke saluran air lain di Kedungringin. Dampaknya, ketika air sungai meluap, air bah campur limbah masuk ke permukiman. Termasuk kolam-kolam ikan.

”Warga Kedungringin benar-benar waswas. Perusahaan membuang limbah sembarangan. Ikan-ikan mati gara-gara kolam tercemar,” tandas legislator asal Partai Keadilan Sejahtera itu.

Saat ini, ungkap Najib, baru kolam milik seorang warga yang tercemar limbah. Namun, pembudidaya lele lainnya ikut waswas. Mereka khawatir terjadi hal serupa. Di Kedungringin, ada puluhan pembudidaya ikan lele. Mereka takut kolamnya tercemar limbah.

Najib mewanti-wanti perusahaan di wilayah Wonokoyo, Cangkringmalang, Kecamatan Beji, agar tidak memanfaatkan hujan dengan membuang limbah berbahaya ke sungai. Itu merugikan warga.



Dia mengaku sudah mencurigai perusahaan mana saja yang memanfaatkan banjir untuk membuang limbah. ”Lihat saja! Kalau sampai berbuat hal serupa, kami akan mengambil sikap,” tegasnya.

Najib mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan agar tidak berpangku tangan. Harus mengambil langkah. ”DLH jangan duduk manis. Harus ada tindakan. Kami sudah sampaikan di forum-forum, bahkan paripurna. Tapi, seolah tidak ada tindakan nyata,” imbuhnya.

Dikonfirmasi soal ini, Kepala DLH Kabupaten Pasuruan Heru Ferianto belum memberi tanggapan. Saat dihubungi melalui sambungan selulernya, tidak ada jawaban.

Persoalan limbah di Sungai Wrati dan jaringan irigasi lain di wilayah Kedungringin, Kecamatan Beji, sudah lama mengundang protes. Air sungai tidak lagi bersih. Warna kerap pekat. Warga menduga sungai tersebut tercemar oleh limbah perusahaan-perusahaan di wilayah Cangkringmalang, Gununggangsir, serta Wonokoyo, Kecamatan Beji. (one/far) Editor : Jawanto Arifin
#limbah kabupaten pasuruan #budi daya lele #air tercemar