FIRMANI, Kademangan
PENETAPAN Hari Raya Idul Fitri tidaklah menentu. Terkadang penetapan hari raya mengalami perbedaan antara suatu daerah dan daerah lain. Penyebabnya adalah cara menentukan Hari Raya Idul Fitri.
Cara menentukan Lebaran sebenarnya terdapat dua metode. Metode rukyah dan hisab. Dari sinilah timbul sebuah perbedaan cara untuk menentukan Hari Raya Idul Fitri. Tetapi, hal ini tetap mengacu pada sebuah hadis.
“Jika kalian melihat hilal -Ramadan- maka berpuasalah, dan jika melihat hilal -Syawal- maka berbukalah, dan jika terlihat mendung di atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (H.R.Bukhori dan Muslim).
Dari perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri tersebut, sebenarnya para ulama telah memberikan solusi atau cara agar menentukan Idul Fitri tidak hanya dengan akal-akalan saja. Tetapi, melalui metode-metode yang baik untuk penetapkannya di suatu daerah tersebut. Sehingga, masyarakat setempat tidaklah ragu untuk menentukan apakah memang bener-bener telah terjadi Hari Raya Idul Fitri (awal bulan Syawal ) atau tidak.
Karena cara para ulama untuk menentukan awal bulan Syawal (Hari Raya Idul Fitri) sesuai metode ru'yatul hilal dan hisab. Metode ru'yatul hilal adalah terlihatnya bulan di atas ufuk setelah ijtima’ atau konjungsi. Metode ini mempunyai pengaruh yang lebih kuat dibanding metode hisab. Para ulama bahkan bersepakat bahwa penentuan awal bulan yang didapat melalui ru’yatul hilal dapat diamalkan untuk memulai puasa Ramadan serta mengakhirinya.
Sedangkan, metode hisab ialah memastikan penetapan Hari Raya Idul Fitri (awal bulan Syawal) dengan hitungan tanggal. Dengan gambaran, jika Ramadan sudah memasuki tanggal 30, maka kebesokannya sudah masuk 1 Syawal. Wallahu a'lam bisshowab. (*) Editor : Jawanto Arifin