SUKAPURA, Radar Bromo–Pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Bromo, resmi dimulai. Senin (13/4), ground breaking dilakukan dengan penancapan sebuah patok beton oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Penancapan patok beton itu dilakukan di bakal rest area Cemorolawang, Desa Ngadisari, Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Dilanjutkan dengan peresmian dua tandon air.
Khofifah mengatakan, penataan JLKT memiliki panjang sekitar 13 kilometer dengan kebutuhan 9.725 patok beton dan lebar jalan 18 meter. Selain itu, kawasan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas penunjang wisata.
“Kami mendengarkan sejumlah saran dari para wisatawan terkait rest room. Maka nantinya akan ada tiga rest area dengan jumlah rest room yang memadai,” katanya.
Adapun dua tandon air yang diresmikan ada di rest area Cemorolawang dan Watu Gedhe. Masing-masing tandon memiliki kapasitas 12.000 liter.
Pembangunan sarana air bersih tersebut memiliki nilai pekerjaan sebesar Rp 1.588.890.000. Dananya bersumber dari P-APBD 2025 Provinsi Jawa Timur.
Di rest area Cemorolawang, debit air mencapai 0,5 liter per detik dengan potensi layanan sekitar 2.160 pemanfaat per hari.
Total jaringan pipa yang digunakan mencapai 5.854 meter dengan material HDPE berbagai ukuran.
Sementara di Watu Gedhe, debit air sebesar 0,2 liter per detik dengan kapasitas layanan 864 pemanfaat per hari. Jaringan pipa yang dipasang sepanjang 2.920 meter menggunakan pipa GI dan HDPE.
Khofifah menambahkan, penataan JLKT tidak hanya mencakup jalan dan fasilitas wisata. Namun juga penataan infrastruktur lingkungan.
Selain rest area, penataan JLKT juga termasuk pembangunan empat titik kantong parkir. Juga 60 titik sumur resapan di kawasan lautan pasir.
“Di tengah-tengah itu, juga ada 17 area yang disakralkan yang harus tetap dijaga. Kami berupaya menyeimbangkan harmonisasi antara ekosistem, perekonomian, adat, dan budaya yang ada di sini,” tuturnya.
Bupati Probolinggo Muhammad Haris mengatakan, Bromo memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat, tidak hanya sebagai destinasi wisata. Ada banyak kultur dan agama di dalamnya.
Ia menceritakan, Gunung Bromo merupakan gunung purba yang meletus ratusan tahun lalu dan membentuk bentang alam yang indah.
Mulai dari Gunung Batok, Kawah Bromo, hingga Lautan Pasir yang harus dijaga.
“Ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan bagi anak cucu yang harus dijaga bersama kelestariannya,” katanya.
Ia juga mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam penataan kawasan. Termasuk pemulihan lingkungan melalui penutupan sementara wisata.
“Kami sangat mengapresiasi hal tersebut. Kami berharap adanya penataan JLKT ini dapat melestarikan alam Bromo, meningkatkan perekonomian masyarakat, dan melestarikan budaya serta adat yang ada,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi