Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harmoni Perayaan Nyepi di Lereng Bromo, Warga Muslim Ikut Halau Wisatawan yang Datang

Agus Faiz Musleh • Jumat, 20 Maret 2026 | 10:53 WIB

BERJAGA: Warga muslim Suku Tengger bersama aparat keamanan bahu-membahu melakukan penjagaan di Desa Wonokerto, Kamis (19/3).

BERJAGA: Warga muslim Suku Tengger bersama aparat keamanan bahu-membahu melakukan penjagaan di Desa Wonokerto, Kamis (19/3). (Polsek Sukapura for Radar Bromo)

SUKAPURA, Radar Bromo - Suasana peringatan Hari Raya Nyepi di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, berlangsung khidmat dan kondusif.

Selama Nyepi, warga muslim Tengger bersama aparat keamanan bahu-membahu melakukan penjagaan di Desa Wonokerto, Kamis (19/3).

Penjagaan dilakukan 24 jam penuh, dimulai sejak Kamis pukul 06.00 hingga Jumat (20/3) pukul 06.00. Sekitar 20 personel dari berbagai unsur terlibat dalam penjagaan itu. Terdiri atas TNI, Polri, Jagabaya, dan Linmas.

Kepala Desa Wonokerto Heri Dri Hartono menjelaskan, pengamanan kemarin umumnya melibatkan warga muslim.

Sementara warga Hindu Tengger khusyuk merayakan Nyepi.

“Besok ternyata sudah Idul Fitri, maka Jumat (20/3) pukul 04.00 kami akan dilukir dan diganti warga Hindu Tengger,” ujarnya.

Berbeda dari tahun sebelumnya, titik penjagaan tahun ini diletakkan di depan Hotel Yoshi.

Perubahan lokasi ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian. Sebab, simpang tiga Desa Wonokerto akan dimanfaatkan untuk kegiatan warga menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Selama memperingati Nyepi, akses wisata menuju Gunung Bromo melalui Kabupaten Probolinggo ditutup sementara. Penutupan dilakukan sekaligus untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Penutupan dilakukan mulai Kamis, 19 Maret 2026 pukul 06.00 hingga Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00.

Selama periode tersebut, seluruh aktivitas wisata menuju kawasan Gunung Bromo dihentikan total, khususnya melalui jalur Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura.

Kebijakan ini mengacu pada Surat Edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Nomor 604/SE/PHDI-KAB/II/2026.

Penutupan dilakukan untuk menghormati masyarakat Tengger yang melaksanakan Hari Raya Nyepi dengan mengedepankan keheningan dan kekhusyukan.

Selama penutupan Bromo, menurut Heri, akses menuju kawasan atas dibatasi secara ketat.

Tidak ada kendaraan yang diperbolehkan melintas melewati pos penjagaan, kecuali untuk kepentingan darurat.

“Yang boleh lewat hanya kondisi emergency seperti orang sakit atau ibu melahirkan. Selain itu, termasuk wisatawan juga kami minta untuk putar balik,” tegas Heri.

Pembatasan ini membuat sejumlah wisatawan yang terlanjur datang ke kawasan Sukapura, harus putar balik.

Sedikitnya, ada 10 kendaraan wisatawan yang terpaksa diarahkan kembali.

“Mereka kami halau karena memang sedang Nyepi dan wisata Gunung Bromo juga tutup. Ada yang akhirnya memilih mampir ke kafe atau resto sekitar, tapi sebagian besar memutuskan pulang karena pembukaan Bromo masih Sabtu (21/3),” jelasnya.

Kapolsek Sukapura AKP Ardhi Bita Kumala memastikan situasi selama pelaksanaan Nyepi tahun ini berjalan aman dan kondusif.

Pihaknya menempatkan personel di pos penjagaan, sementara patroli keliling di perkampungan dilakukan oleh unsur Jagabaya.

“Secara umum kondisi aman, nyaman, dan kondusif. Penjagaan di pos dilakukan bersama, sedangkan patroli lingkungan dilakukan oleh Jagabaya,” ujarnya.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi  menegaskan, kebijakan ini merupakan bentuk toleransi antarumat beragama. Sehingga, warga bisa beribadah dengan khusyuk.

“Penutupan akses wisata ini adalah bentuk penghormatan terhadap masyarakat Tengger yang melaksanakan Hari Raya Nyepi. Di sisi lain, kami memberikan kesempatan bagi para pelaku wisata yang merayakan Idul Fitri untuk melaksanakan ibadah dan berkumpul bersama keluarga,” terangnya diwakili Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Umi Subiyantiningsih.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak memaksakan diri berkunjung selama masa penutupan. Sebab, seluruh akses wisata dipastikan tidak dapat dilalui.

“Bagi wisatawan yang berencana berkunjung setelah pembukaan kembali pada 21 Maret 2026 siang, kami sarankan untuk melakukan pemesanan tiket secara online jauh-jauh hari, karena biasanya terjadi lonjakan kunjungan pasca penutupan,” tambahnya. (gus/mu/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#warga muslim #wisatawan #bromo #nyepi #penyekatan