Tekad Wulandari, 39, meningkatkan minat baca anak-anak Kota Probolinggo sangat kuat. Berawal dari hobinya membaca, kini ia menjadi founder “Baca di Taman”. Sebuah inovasi untuk mengajak anak-anak membaca buku di taman.
INNEKE AGUSTIN, Kanigaran, Radar Bromo
Setelah merantau cukup lama di ibu kota Jakarta, Wulandari pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Kanigaran pada 2023.
Selama dua tahun itu, dia melihat perbedaan yang sangat jauh antara kegiatan literasi di kota dan daerah.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor, ada beragam kegiatan literasi yang seru. Hobinya membaca bisa dikata sangat terpuaskan selama tinggal di Jakarta.
Sementara di daerah, aktivitas literasi cenderung sepi. Akses membaca buku di daerah, mayoritas masih terbatas pada perpustakaan dan sekolah. Itu pun waktu dan koleksinya juga terbatas.
Kondisi itu, membuat Wulan berinisiatif mengembangkan kebiasaan membaca buku tak hanya di perpustakaan dan sekolah. Sekitar setahun lalu, dia menempatkan buku-buku di taman, dengan harapan anak-anak yang bermain ke taman memiliki variasi kegiatan.
Mereka tak hanya bermain, namun juga bisa membaca di taman. Dan pada akhirnya, masyarakat jadi lebih dekat dengan buku bacaan.
“Saya ingin kota tempat saya lahir memiliki kegiatan literasi yang seru juga. Makanya, saya menginisiasi kegiatan Baca di Taman,” tuturnya.
Taman dipilih karena fasilitas ini hampir selalu ada di tiap perumahan. Begitu pun di pojok-pojok kota, juga ada taman. Sehingga, buku-buku ini dapat dibaca oleh pengunjung taman.
Di luar negeri, menurutnya, kegiatan serupa juga banyak dilakukan. Namanya mini library. Melalui mini library, tiap orang menaruh buku kemudian dibaca. Ada juga yang dibawa pulang lalu keesokannya dikembalikan.
“Namun untuk kegiatan Baca di Taman ini, saya menganjurkan baca di tempat saja alias di taman. Tidak diperbolehkan dibawa pulang,” kata Wulan.
Mulanya Wulan membuat kegiatan Baca di Taman ini di taman wilayah perumahan tempatnya tinggal. Sebab, tiap hari taman tersebut tak pernah sepi. Selalu banyak anak-anak bermain di sana.
“Dari sini timbul ide membuat kotak buku yang diisi dengan beberapa buku. Harapannya saat lelah bermain, anak-anak bisa membaca buku tersebut,” kata ibu dua anak ini.
Tak hanya itu. Wulan terkadang juga mengadakan kegiatan seperti membaca bersama di taman, membuat origami, dan nature work.
“Selain baca bersama, kami juga bermain bersama. Jadi anak-anak diajak berkreasi dan berkeliling taman, misalnya cari belalang,” tambahnya.
Setahun kemudian, Wulan mulai memperluas jaringan Baca di Taman dengan meletakkan kotak baca dan sejumlah buku di Taman Semeru, Kecamatan Kademangan.
Satu titik kotak kini telah terpasang di sana, lokasinya di dekat area perosotan di sebelah selatan taman.
“Sebelum memasang, tentu saya sudah berkoordinasi dengan DLH Kota Probolinggo. Alhamdulillah disambut baik. Semoga ke depan bisa diletakkan di taman-taman lainnya juga,” ujarnya.
Kotak tersebut terbuat dari kayu. Di dalamnya ditata buku-buku khusus untuk anak-anak. Seperti majalah, novel, komik, dan buku-buku pengetahuan lainnya.
Wulan membatasi materi dalam buku yang disediakan maksimal untuk anak-anak berusia 13 tahun. Sehingga, bila ada donatur yang hendak memberikan buku bekas, disarankan komunikasi dengan Wulan lebih dahulu.
Sebab, dia harus mengecek isi buku, apakah layak dibaca oleh anak-anak atau tidak. “Kalau layak dibaca anak-anak, baru akan diletakkan di kotak baca,” tuturnya.
Saat ini, projek teresbut masih dalam pengembangan. Tiap minggu ia datang untuk mengecek buku-buku yang ada di kotak. Memastikan buku dalam kondisi baik dan jumlahnya lengkap.
Meski kadang ada saja beberapa buku yang hilang. Namun, Wulan tetap semangat dan berbaik sangka.
Dia berharap, ke depan kegiatan ini bisa menggerakkan banyak orang yang mau bahu membahu mengambangkan inovasi ini.
“Saya ingin melihat seberapa ketahanan kotak di alam terbuka, termasuk buku-bukunya. Kami tetap semangat saja, berbaik sangka pada society. Kalau tidak dicoba dan khawatir terus, tidak akan pernah tahu hasilnya,” lanjutnya.
Adapun asal buku-buku yang diletakkan di kotak itu beragam. Ada yang merupakan buku bekas milik anak-anaknya, donasi dari lembaga atau perorangan, serta buku-buku yang ia beli di toko buku bekas.
“Satu kotak sebetulnya bisa muat 60 buku, tapi saya isi 40 saja. Sebab kalau diisi full, khawatir susah mengambilnya dan biar ada variasi. Jadi tiap minggunya saya ganti-ganti isinya,” kata Wulan.
Untuk menjaga buku-buku tersebut, Wulan rutin merotasi buku dengan buku yang masih tersedia di rumahnya.
“Sambil merotasi, saya juga mengecek. Bila ada yang rusak, kalau tidak parah ya saya lem. Kalau parah, berarti harus sampul ulang,” ujarnya.
Semua ini tentu saja dilakukan Wulan dengan dukungan keluarga. Mulai dari anak-anaknya yang menyumbangkan buku bekas milik mereka. Sementara modal masih biaya pribadi. Namun, sudah ada beberapa donatur buku.
“Suami saya turut memikirkan desain kotaknya serta mengantarkan saya ke mana-mana untuk mengurus kegiatan ini. Harapannya, ke depan ini tidak hanya menjadi kegiatan keluarga, tapi menjadi komunitas Baca di Taman,” katanya.
Wulan berharap kegiatan Baca di Taman bagi anak-anak Kota Probolinggo dapat menjaga buku-buku tersebut dengan baik. Dia juga sangat senang saat mengetahui ada yang membaca buku itu dan menjaganya.
Sehingga, nantinya banyak masyarakat yang juga turut membaca. Minimal suka pada buku lebih dulu dan mau memegang buku.
Baru kemudian suka membaca buku dan pada gilirannya, akan memperluas pengetahuan, kesadaran diri, dan cita-cita.
“Mungkin dengan membaca biografi seseorang lantas bercita-cita bisa menjadi seperti tokoh tersebut. Atau ketika membaca buku pengetahuan, ia jadi tahu ilmu baru. Semoga ada efek-efek seperti itu,” katanya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi