LECES, Radar Bromo- Sulthan Maulana Mahdy, 19, remaja asal Leces, Kabupaten Probolinggo yang meninggal tertabrak kereta api (KA) di Leces, Kabupaten Probolinggo dikenal sosok yang rajin.
Semasa hidupnya, Sulthan Maulana Mahdy kerap salat di Masjid Ar Rohmah, Leces.
Bahkan, korban kerap kali sudah berada di masjid sebelum azan Subuh berkumandang.
“Biasanya dia memang sudah di Masjid Ar Rahmah. Bahkan, sebelum subuh,” kata Kepala Desa Leces Zainal.
“Kemungkinan memang anaknya mau ke sana (masjid). Ntah hafalan dulu di stasiun itu, saya kurang paham,” ujar Zainal
Ketika korban keluar rumah, pihak keluarga tidak mengetahui. Keluarganya mengetahuinya setelah ditanya kepolisian.
“Saya tanya ke keluarga, juga bingung. Karena keluarga tidak tahu anaknya keluar. Anaknya memang tidak ada di rumah. Keluarga kaget. Kami juga belum dapat meminta keterangan lebih lanjut,” ujar Kanitreskrim Polsek Leces Aipda Andri Okta.
Kepolisian masih menyelidiki penyebab kecelakaan korban. Apakah karena fokus menghafal Alquran atau tengah tertidur.
“Belum bisa dipastikan penyebabnya apa, namun kalau menyeberang, itu tidak mungkin jika melihat lukanya,” katanya.
Setelah pemeriksaan, tidak ditemukan adanya luka lain di tubuh korban, selain luka di wajah dan kepala.
Menurutnya, kemungkinan korban sedang jongkok, sehingga wajah dan kepalanya terhantam badan KA. “Kalau duduk, biasa kakinya juga terkena tabrak, sedangkan ini tidak,” katanya.
Diketahui, kecelakaan maut yang melibatkan kereta api (KA) kembali terjadi di Kabupaten Probolinggo.
Seorang remaja asal Desa/ Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Sulthan Maulana Mahdy, 19, ditemukan meninggal dunia, Selasa (26/11).
Sulthan Maulana ditemukan meninggal dengan tangan memegang Alquran tak jauh dari rel kereta api (KA).
Ia diduga tertabrak KA Mutiara Timur, yang berjalan dari Banyuwangi menuju arah Surabaya. Kereta ini sampai di Stasiun Leces sekitar pukul 01.40. (mg/rud)
Editor : Muhammad Fahmi