Berdiri pada 26 Juli 1999, Radar Bromo terbit untuk mengawal demokratisasi daerah saat itu. Memulai aktivitas di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, kini Radar Bromo berkembang menjadi salah satu media yang terus eksis di tengah era digital.
---------------------
Radar Bromo merupakan salah satu anak perusahaan Jawa Pos. Jawa Pos sendiri merupakan salah satu perusahaan media tertua di Jawa Timur yang masih beroperasi hingga saat ini. Kantornya berpusat di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Ketika muncul kebijakan otonomi daerah melalui Undang-Undang Nomor 22/1999, kemudian Jawa Pos menerbitkan koran lokal di Jawa Timur yang disebut Radar. Awalnya berdiri Seven Rad (tujuh radar). Antara lain, Radar Bromo, Radar Banyuwangi, Radar Jember, Radar Kediri, Radar Madiun, Radar Bojonegoro, dan Radar Madura.
Pada 2022, berdiri PT Jawa Pos Radar Timur yang membawahi 13 Radar. Antara lain, 9 Radar di Jawa Timur, 3 Radar di Jawa Tengah, dan satu Radar di Bali. Enam bulan kemudian, lahir Radar Kudus, Radar Magelang, dan Radar Tulungagung.
Sebagai media baru, saat itu antusiasme pembaca terhadap harian cetak Radar Bromo terbilang tinggi. Bahkan, dalam sehari, oplah rata-rata Radar Bromo mencapai 11.823 eksemplar.
Direktur Jawa Pos Radar Bromo H.A Suyuti mengatakan, salah satu tujuan dibentuknya Radar yaitu untuk membersamai semangat otonomi daerah. Harapannya, dengan adanya Radar di tiap-tiap daerah, dapat menampung lebih banyak berita lokal.
“Sebelumnya kan menjadi satu di Jawa Pos. Dan tidak semua berita tertampung karena memang halamannya terbatas,” jelasnya.
Radar Bromo sendiri berdiri pada 26 Juli 1999 dengan tagline “Dari Bromo Untuk Demokratisasi Daerah.” Wilayah edarnya terdiri atas Kota/Kabupaten Probolinggo, Kota/Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Lumajang.
Ada pun nama Radar Bromo merupakan ide dari Dahlan Iskan yang saat itu sebagai CEO Jawa Pos. Nama tersebut paling berbeda dengan nama-nama Radar lainnya yang menggunakan nama daerahnya.
“Kata Bromo dipilih karena Gunung Bromo merupakan salah satu ikon terkenal sebagai destinasi wisata. Selain itu, gunung tersebut berdiri di lima wilayah yaitu Kota/Kabupaten Probolinggo, Kota/Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Lumajang. Jadi nama Bromo ini bermakna sebagai pengikat,” katanya.
Namun, seiring perjalanan waktu, Jawa Pos Radar Bromo meliputi empat wilayah edar saja. Yaitu, Kota/Kabupaten Probolinggo dan Kota/Kabupaten Pasuruan. “Sementara untuk Kabupaten Lumajang, kini telah menjadi bagian dari Radar Jember,” kata Suyuti.
Berpindah Kantor Empat Kali
Di awal berdiri, Radar Bromo dipimpin oleh Noer Hidayat selaku general manager. Kantornya pun memanfaatkan rumah Bos Dayat (panggilannya) saat itu. Yaitu, di Jalan Wilis, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
“Saat itu, jumlah pegawainya tidak banyak seperti sekarang. Hanya 11 orang saja di Probolinggo dan Pasuruan,” kata Suyuti.
Wartawannya saat itu ada empat orang di Probolinggo dan dua orang di Pasuruan. Wartawan di Probolinggo yaitu Suyut, Imam Wahyudi, Tono, dan Heri. Sementara di Pasuruan yaitu Joko Hariyanto dan Rifan.
Tak lama kemudian, Radar Bromo berpindah kantor ke Jalan dr Mohammad Saleh hingga tahun 2001. Kantor ini adalah gudang PO Akas saat itu. Memanfaatkan sebuah rumah di sana sebagai tempat bekerja.
Lalu pada 2001 hingga 2004, kantor Radar Bromo pindah lagi. Yaitu, ke Jalan HOS Cokroaminoto, memanfaatkan bangunan bekas bengkel sepeda motor yang berada di tepi jalan. Tepatnya, di selatan Gang V.
“Kantor-kantor sebelumnya kami sewa. Lalu pada 2004, kami berhasil memiliki kantor sendiri di Jalan Soekarno Hatta. Alhamdulillah hingga kini, kami bertempat di kantor tersebut,” katanya.
Tak hanya kantor yang berpindah hingga empat kali. Pucuk pimpinan Radar Bromo juga beralih dari generasi ke generasi. Awalnya, Radar Bromo dipimpin oleh Noer Hidayat sebagai general manager.
Kemudian dipimpin oleh lima direktur. Antara lain, Zahidin H Muntaha, Cholili Ilyas, Taufik Lamade, dan Sholihuddin. “Kemudian saat ini dipimpin oleh saya selaku direktur,” tuturnya.
Mulai tahun 1999 juga, Radar Bromo memiliki kantor di Pasuruan. Pada awalnya, kantor tersebut dipimpin oleh Johar Mahmudi selaku kepala biro mulai 1999 hingga 2012. Dilanjutkan oleh Muhammad Hidayat sejak 2012 hingga 2018.
“Baru kemudian digantikan oleh saya sampai tahun 2024,” tutur Nurlaily Arifiyah yang kini menjabat manajer iklan Radar Bromo.
Perempuan yang akrab dipanggil Evi tersebut mengatakan, kantor Biro Pasuruan juga berpindah-pindah karena masih sewa. Kantor pertama di Jalan Pati Unus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Tepatnya di rumah Johar Mahmudi dengan jumlah karyawan masih 7 orang.
Setelah itu berpindah ke Jalan Gajahmada, Jalan Wironini, Perum Karya Bakti, Jalan Veteran, dan kemudian di Jalan Panglima Sudirman.
“Bahkan, kami pernah memiliki kantor di area pertokoan Little Shanghai di Taman Dayu saat memiliki Biro Pandaan,” kata Evi. (gus/hn)
Pertahankan Kualitas di Era Digital
Tahun ini, Radar Bromo sudah 25 tahun berdiri. Menjalani seperempat abad yang penuh tantangan dan perubahan. Baik dari sisi teknologi, maupun dinamika media.
Pada masa awal, koran Radar Bromo hanya menerbitkan 4 halaman. Namun, kini telah berkembang menjadi 8 halaman.
“Karena dulu wartawannya masih terbatas. Tiap orang diminta untuk mencari hingga delapan berita per hari. Beda dengan sekarang. Karena jumlah wartawannya telah tercukupi, maka target berita per hari hanya empat bagi tiap wartawan,” katanya.
Di awal berdiri pada tahun 1999, teknologi komunikasi juga tak semaju sekarang. Para wartawan mengandalkan kaset pita untuk merekam wawancara dan reportase atau menggunakan block note untuk mencatat.
Peralatan yang digunakan sangat sederhana, sehingga membutuhkan ketelitian ekstra. Kesalahan dalam merekam ataupun mencatat dapat berisiko menghilangkan informasi penting yang tak tergantikan.
Manajer Iklan Radar Bromo Nurlaily Arifiyah yang merupakan salah satu wartawan Radar Bromo generasi kedua mengatakan, saat itu kamera juga menggunakan teknologi digital biasa. Belum secanggih sekarang.
“Bahkan, di awal-awal dulu, masih pakai kamera yang menggunakan film. Sehingga, harus cuci cetak dulu, baru kemudian dikirim ke Jawa Pos untuk dicetak korannya,” jelas Evi, panggilannya.
Tidak adanya teknologi kamera yang menggunakan koneksi wifi saat itu. Sehingga, membuat wartawan harus mengeluarkan effort lebih untuk mengirim foto.
“Jadi ketika kami liputannya ke gunung, ya harus turun terlebih dahulu untuk memindah foto tersebut. Tidak bisa dikirim dari atas,” tuturnya.
Berbeda dengan saat ini, foto bisa langsung dikirim dari lokasi manapun menggunakan wifi. Termasuk pengetikan berita dapat dilakukan dari titik liputan menggunakan bantuan gawai ataupun laptop.
“Adanya teknologi saat ini mempermudah pekerjaan-pekerjaan tersebut. Sementara kami dulu harus kembali ke kantor untuk ngetik. Liputan di manan pun, harus kembali ke kantor,” kata Evi.
Saat itu, untuk pengiriman berita ke Jawa Pos, masih menggunakan disket atau keping CD yang dikirimkan melalui kurir bus ke Surabaya. Setelah masa itu, beralih menggunakan jaringan File Transfer Protocol (FTP).
“Namun, di sini yang berwenang untuk kirim berita tiap harinya melalui FTP hanya kepala biro. Karena menggunakan jaringan internet telepon, jadi ketika ada telepon masuk, otomatis jaringannya terputus. Sehingga, harus kirim ulang,” kata Kasir Radar Bromo Ruly Puspitawati, salah satu karyawan terlama di Radar Bromo.
Foto dan Desain Percantik Halaman
Hal serupa terjadi pada desain dan layout koran. Saat ini, desain dan layout makin cantik dengan bantuan sejumlah aplikasi komputer. Tak hanya desain, foto pun menjadi instrumen penunjang berita yang krusial. Melalui desain dan foto, pembaca seolah diajak masuk ke dalam alur berita.
Perkembangan teknologi desain dan layout koran juga membawa perubahan signifikan pada Radar Bromo. Sejak awal penerbitannya, koran ini terus berinovasi mengikuti tren dan kebutuhan pembaca. Transformasi yang paling mencolok terjadi pada penggunaan aplikasi untuk ilustrasi dan layouting, serta peningkatan spesifikasi komputer.
Radar Bromo juga kerap memenangkan kejuaran pada ajang lomba foto dan desain. Baik desain overall ataupun desain grafis. Beberapa di antaranya adalah sebagai koran terbaik untuk kategori Overall Desaign dan Info Grafis Newspaper pada 2016, serta koran terbaik I untuk kategori Overall Newspaper Design pada 2021. Selain itu, Radar Bromo juga dinobatkan sebagai koran terbaik untuk kategori foto dalam kompetisi product quality triwulan I tahun 2018.
Koordinator Desain Grafis dan Layout Achmad Syaifudin Abdillah mengatakan, pada masa awal terbit, Radar Bromo menggunakan aplikasi Freehand untuk membuat ilustrasi. Meskipun cukup mumpuni pada zamannya, aplikasi tersebut memiliki keterbatasan dalam variasi tools.
“Sehingga, seiring perkembangan zaman, beralih menggunakan Adobe Illustrator (AI). Aplikasi ini menawarkan sejumlah keunggulan seperti varian tools yang lebih banyak, sehingga hasil desain tampak lebih halus,” katanya.
Tidak hanya pada ilustrasi, perubahan signifikan juga terjadi pada proses layouting. Mulanya menggunakan pagemaker, kini digantikan dengan software yang lebih modern seperti InDesign dan Photoshop.
“InDesign menarwarkan fleksibilitas dan fitur yang memungkinkan membuat layout kompleks dan menarik dengan mudah. Sementara Photoshop digunakan untuk editing gambar dengan fitur yang sangat lengkap. Di sisi lain, karena ketiganya merupakan produk dari adobe, membuatnya saling terkoneksi dengan mudah satu sama lain,” tutur pria yang akrab dipanggil Udin ini.
Penggunaan aplikasi yang canggih tentu membutuhkan peningkatan spesifikasi komputer. Dari yang semula hanya menggunakan Pentium 2, kini tugas desain dan layouting dibantu oleh komputer-kumputer spek tinggi. Salah satunya menggunakan sistem operasi iOS.
“Komputer dengan spek tinggi tentunya memiliki kinerja yang lebih cepat. Sehingga memungkinkan desainer bekerja dengan aplikasi berat tanpa hambatan,” kata Udin.
Memasuki era digital yang semakin pesat, Radar Bromo mulai berinovasi dengan menambahkan platform digital sejak tahun 2016. Seperti website di www.radarbromo.jawapos.com; facebook Radar Bromo, dan channel YouTube Radar Bromo TV; Instagram Jawa Pos Radar Bromo, dan TikTok Radar Bromo.
Pada 2022, Radar Bromo meluncurkan Radar Bromo Digital. Platform digital ini memungkinkan pembaca untuk mengakses berita dan konten melalui perangkat gawai dengan menawarkan beragam kemudahan dan fleksibilitas.
Para pembaca juga dapat berlangganan e-Paper, menikmati sajian video-video Radar Bromo TV, dan event-event gelaran Radar Bromo. Peluncuran platform digital ini juga dapat memperluas cakupan area pembaca. Tak hanya dari Kota/Kabupaten Probolinggo dan Kota/Kabupaten Pasuruan, namun juga dari seluruh daerah di Indonesia.
“Meski demikian, kami memastikan bahwa kualitas konten tetap terjaga. Dalam menghadirkan berita, Radar Bromo selalu berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan edukatif, serta bebas dari hoaks,” kata Direktur Radar Bromo H.A Suyuti.
Suyuti mengatakan, dengan menggabungkan platform cetak dan digital, Radar Bromo menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi yang kuat di era digital. Kombinasi ini memungkinkan koran untuk menjangkau berbagai segmen pembaca. Juga memastikan bahwa pembaca tetap mendapatkan informasi yang berkualitas. Baik melalui cetak ataupun elektronik.
“Kami terus berinovasi dan berkembang bersama zaman. Menjaga relevansi di tengah perubahan tren media. Namun, tetap menjadi sumber informasi tepercaya bagi masyarakat Probolinggo dan sekitarnya,” tuturnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi