MAYANGAN, Radar Bromo- penutupan areal Wisata Kumkum oleh UPT PPP Mayangan Kota Probolinggo, ternyata tidak sepenuhnya dipatuhi. Banyak pengunjung masih nekat berendam di tempat itu.
Padahal, UPT PPP Mayangan juga sudah memasang banner larangan untuk pengunjung di beberapa titik. Dalam banner itu disebutkan, “Pengunjung Wisata Dilarang Berenang di Kawasan Pantai Kumkum.” Namun, pengunjung masih boleh menikmati pemandangan laut sembari menyantap camilan.
Seperti yang terlihat Kamis (9/11) sore. Areal Wisata Kumkum yang berada di sisi selatan dipenuhi pengunjung yang sedang berendam. Mereka seolah tidak menggubris penutupan areal itu.
Kondisi ini disayangkan oleh Ketua Komunitas SCB Sutanto. Sutanto mengaku, pihaknya sudah menutup areal Wisata Kumkum di sisi utara. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian pada bocah yang meninggal saat berendam di sana, Minggu (5/11).
Namun, faktanya masih ada pengunjung yang berendam di sisi selatan. Dia pun berharap, UPT PPP Mayangan bisa tegas. Sehingga, tidak ada kejadian serupa. Sebab, areal di sisi selatan tidak memiliki safety atau keamanan.
“Kalau kami memiliki petugas terlatih. Yang melatih petugas kami yaitu tim SAR BPDD Jatim. Andai diminta untuk mengelola seluruh areal, kami sangat siap,” jelasnya.
Sutanto menjelaskan, selama ini keberadaan Wisata Kumkum berdampak positif bagi UPT PPP Mayangan. Karena banyak pengunjung datang, bahkan juga dari luar kota.
Sehingga, pendapatan dari tarif parkir di UPT PPP Mayangan terdongkrak. Bahkan, ada kenaikan hingga 600 persen dari sebelumnya.
“Wisata Kumkum juga berdampak positif bagi pelaku UKM dan UPT PPP Mayangan. Jadi keberadaan wisata ini sangat bagus,” tutur Sutanto.
Kasi Pelayanan Teknis Syahbandar UPT PPP Mayangan Nonot Wijayanto mengatakan, pihaknya sudah meminta kepada SCB, pemilik warung, hingga pengunjung untuk saling mengingatkan. Sehingga, tidak ada pengunjung yang turun dan berendam di laut.
Bila kedapatan ada yang nekat berendam, akan diberi sanksi tegas. Sehingga, mereka jera dan kapok untuk berendam lagi. Misal menggembosi ban kendaraan mereka.
“Kami minta agar masyarakat saling mengingatkan. Tunggu dulu sampai ada petunjuk dari Gubernur,” tutur Nonot. (riz/hn)
Editor : Ronald Fernando