Dari belasan rumah itu, di antaranya milik Artik, 37 dan Sri Ernawati, 42. Mereka tinggal di RT 2/RW 1, Dusun Pesisir, Desa Gili Ketapang. Rumah keduanya diterjang ombak Jumat, 23 Desember 2022. Kebetulan rumah mereka bersebelahan. Rumah Sri berada di sisi timur rumah Artik.
Akibat terjangan ombak, Artik mengaku kehilangan lebih dari separo rumahnya. Genting hingga dinding rumah sisi utara yang berukuran 6x8 meter itu hilang terbawa ombak. Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 35 juta.
Ia berharap mendapatkan bantuan dari Pemkab Probolinggo untuk memperbaiki rumah. Perbaikan butuh biaya besar, sedangkan suaminya tidak bisa mendapatkan penghasilan. Cuaca di laut masih tidak bersahabat.
“Barang-barang saya juga hilang. Dua unit kulkas dan perabotan elektronik lainnya hingga kasur dibawa ombak. Sementara, ya tinggal di rumah kakak. Kebutuhan sehari-hari, seperti makan ditanggung kakak,” ujarnya.
Hal senada diutarakan Sri Ernawati. Seorang ibu rumah tangga ini mengaku sangat ingin segera memperbaiki rumahnya yang ambrol diterjang ombak. Namun, dananya belum tersedia. Sama dengan Artik, ia berharap ada bantuan dari pemerintah.
Seperti Artik, rumahnya yang berukuran sekitar 5x7 meter, juga rusak dihantam gelombang. Terutama di bagian utara. “Harga kayu tidak murah. Kerusakan juga parah. Kira-kira butuh Rp 30 jutaan agar bisa seperti dulu. Kami tidak punya uang sebanyak itu. Suami juga belum bisa bekerja karena cuaca tidak memungkinkan untuk melaut,” terang Sri.
Jawa Pos Radar Bromo sudah berupaya meminta konfirmasi dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Rahmad Waluyo. Namun, yang bersangkutan enggan memberikan keterangan.
Diketahui, gelombang tinggi disertai angin kencang di perairan Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, menghantam permukiman warga, Jumat, 23 Desember 2022. Tercatat ada 12 rumah dan 25 kapal rusak. Selain itu, tanggul sepanjang 800 meter di sisi utara pulau ini juga jebol. (riz/rud) Editor : Ronald Fernando