Beragam program dilakukan Pemerintah Desa Lemah Kembar untuk memulihkan perekonomian warga terdampak pandemi. Salah satunya dengan menyediakan lapangan pekerjaan.
Sejumlah warga diajak untuk menggarap proyek pembangunan di desa melakukan program padat karya. Di antaranya membersihkan dan normalisasi drainase sepanjang 1,2 kilometer mulai dari Dusun Kalisat hingga Dusun Tanah Merah. Drainase ini berada di perbatasan antara Desa Lemah Kembar dengan Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih.
Proyek ini digarap selama empat hari. Ada 25 pekerja yang dilibatkan. Terdiri atas masyarakat sebanyak 20 orang dan lima orang perangkat desa. Mereka menerima upah Rp 50 ribu. Dengan upah itu, mereka bekerja mulai pukul 06.00 hingga pukul 10.00. Kini, pengerjaannya sudah rampung.
“Anggaran padat karya ini dialokasikan Rp 6 juta. Masing-masing dapat upah Rp 50 ribu per orang per hari. Ada konsumsi dan rokok juga,” ujar Pj Kepala Lemah Kembar Rasid.
Normalisasi ini dilakukan atas kesepakatan pemerintah desa. Sebab, setiap musim hujan jalan di sisi drainase ini sering tergenang akibat luapannya. Padahal, jalan ini merupakan akses utama warga. Termasuk jalan antardesa.
Normalisasi menggunakan alat manual, seperti cangkul dan arit. Selama empat hari pengerjaan, di aliran sungai ini ditemukan batang tanaman dan rumput. Kondisi ini membuat air tidak bisa mengalir dengan lancar, sehingga meluber ke jalan.
“Pengendara yang melintas sering tidak nyaman. Karena kalau sudah meluap, terkadang mereka terkena cipratan dari pengendara lain,” jelasnya.
Selain padat karya, Pemerintah Desa Lemah Kembar juga menyiapkan bantuan langsung tunai dana desa (BLT-DD). Tahun ini jumlah penerimanya lebih banyak dibanding tahun lalu. Jika tahun sebelumnya hanya 50 keluarga penerima manfaat (KPM), tahun ini ada 123 keluarga.
Ratusan KPM ini akan mendapatkan Rp 300 ribu per bulan. Jumlah penerima bertambah, karena jatah dari Pemerintah Pusat lebih banyak. Yakni, minimal 40 persen dari dana desa.
“Ini sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 110 tentang BLT-DD itu dianggarkan 40 persen dari pagu dana desa tahun ini,” ujar Bendahara Desa Lemah Kembar Salam.
Tuntaskan Perbaikan Jalan Permukiman
Masyarakat Desa Lemah Kembar dipastikan bakal semakin nyaman saat melintas di jalan permukiman. Sejumlah jalan yang masih tanah akan diperbaiki. Tahun ini ada tiga jalan yang akan dipaving.
Pj Kepala Desa Lemah Kembar Rasid mengatakan, tiga jalan yang akan dipaving semuanya berada di RT 12/RW 3 Dusun Tanah Merah. Satu titik sudah mulai digarap. Panjangnya 94,4 meter dengan lebar 2 meter. Kini pengerjaannya sudah separo jalan.
“Sebelumnya, jalan ini sudah pernah di aspal pada 2012. Cuma karena faktor usia dan setiap hari terkena hujan, aspalnya mengelupas,” ujarnya.
Pihaknya memutuskan memperbaikinya menggunakan paving, karena jalannya relatif pendek. Serta, jika diaspal, dikhawatirkan butuh waktu lebih lama. Sementara, jalan ini perlu segera diperbaiki karena kondisinya semakin parah.
Dua jalan lainnya berukuran 50x1,8 meter dan 45x2 meter. Dua jalan ini masih berupa tanah. Saat hujan sering becek. Rencananya, pengerjaannya akan dimulai pada pertengahan tahun ini. “Kalau jalan permukiman lainnya sudah baik. Tidak ada yang masih tanah. Makanya tahun ini fokus di tiga titik itu,” kata Rasid.
Door to Door Percepat Vaksinasi
Pemerintah Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, terus berusaha melindungi warganya dari serangan Covid-19. Salah satunya dengan terus menggalakkan vaksinasi.
Bahkan, pemerintah desa bersama tenaga kesehatan (nakes) rela turun ke rumah-rumah warga. Mereka melakukan vaksinasi secara door to door. Dari jumlah total penduduk sekitar 4.265 orang, 80 persen di antaranya sudah divaksin.
Pj Kepala Desa Lemah Kembar Rasid mengatakan, warga Desa Lemah Kembar yang telah melakukan vaksin tahap pertama dan kedua sekitar 80 persen. Pada awal tahun ini ada sekitar 70 orang yang melakukan vaksin di balai desa.
Untuk menyukseskan vaksinasi, pihaknya mengalokasikan anggaran Rp 84 juta untuk sembako. Masyarakat yang datang ke balai desa divaksin, saat pulang akan mendapatkan sembako. Berupa beras lima kilogram, 10 bungkus mi instan, satu kilogram gula, dan satu kilogram telur.
“Kalau ditotal setiap orang mendapatkan sembako senilai Rp 100 ribu. Memang aturan dari pemerintah, desa bisa menyiapkan delapan persen untuk ini,” jelasnya.
Menurutnya, adanya bantuan sembako cukup berdampak. Banyak warga yang sebelumnya tidak mau divaksin, akhirnya datang ke balai desa. Tapi, ada juga yang tetap tidak datang karena takut.
“Kalau yang takut ini kami datangi ke rumahnya. Ada petugas dari puskesmas yang datang secara door to door, tapi mereka tidak dapat sembako,” katanya. (riz/rud/*)