Salah satunya Ali, 40. Warga Wonoasih ini mengaku penjualan peci di bulan Ramadan tetap ramai meskipun kondisi pandemi. “Tahun lalu menjelang Idul Fitri bisa menjual sampai 400 peci dalam sehari. Biasanya semakin mendekati Lebaran, semakin banyak yang membeli,” ujarnya.
Namun untuk saat ini di pertengahan Ramadan, penjualan peci masih terbilang standar. Rata-rata per hari bisa menjual 70 peci. “Nanti saat memasuki hari ke 25 ramadan biasanya sudah naik penjualan. Sehari bisa 200 peci, bahkan pernah 400. Ada kebiasaan orang-orang untuk mengganti peci saat Lebaran,” ujarnya.
Ali mengungkapkan bahwa untuk konsumen di daerah Kota Probolinggo untuk harga tidak ada pertimbangan khusus. Mereka berpatokan pada kualitas bahannya.
“Warga yang di daerah tengah kota tidak masalah harganya agak mahal, yang penting kualitas bagus. Tapi kalau yang di daerah selatan atau daerah pedesaan biasanya mematok maksimal mencari harga Rp 30 ribu,” ujarnya.
Tidak hanya Ali yang mendulang keuntungan dari penjualan peci saat Ramadan, Lilis, 40, warga Sumber Taman juga merasakan hal yang sama. “Saya ada langganan tetap yang pesan peci ke saya. Peci rajut buat anak-anak, sekali pesan langsung 200 buah. Ini bukan untuk dijual lagi. Tapi buat bingkisan anak-anak. Jadi kalau ada anak yang datang selain dapat uang, juga dapat peci,” tambahnya.
Selain dari orderan pelanggan seperti ini, Lilis juga menjual peci di pinggir jalan. Saat pertengahan Ramadan seperti saat ini per hari bisa menjual sampai 50 peci.
“Kalau semakin dekat Idul Fitri bisa menjual 100-120 peci. Kalau ada yang tidak habis, peci ini ya dijual lagi Ramadan tahun depan,” ujarnya.
“Beda dengan baju yang model sering berganti. Kalau untuk peci, trennya relatif sama. Jadi kalau yang dijual sekarang dijual tahun depan masih terjual,” tambahnya. (put/fun) Editor : Jawanto Arifin