Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari berkesempatan mengunjungi langsung lokasi wisata yang baru rampung dibangun itu. Kedatangan orang nomor satu di kabupaten itu juga dalam rangka meresmikan lokasi wisata tersebut. Ratusan warga tampak berduyun-duyun ke tempat wisata tersebut untuk menyaksikan peresmiannya.
Saat bupati datang, ratusan warga bersama para sesepuh dan dukun adat lengkap dengan pakaian hitamnya berjejer di pintu masuk. Seolah menjadi pagar betis, mereka menyambut Tantri sembari bersalaman. Tarian selamat datang yang dibawakan bocah Tengger itu menjadi salam hormat bagi tamu undangan.
Usai menikmati tarian sambutan, Tantri diminta untuk merajut di atas awan. Bupati dua periode itu kemudian memakai syal rajutan khas warga Tengger. Selain tempat wisata, di lokasi juga bisa dilihat ibu-ibu membawakan tari.
Usai merajut di atas awan, Tantri langsung disuguhi Tarian Kentongan oleh bocah SD setempat. Selain Tarian Kentongan, juga ada fasion show yang dipadukan dengan dance modern.
Dalam kesempatan itu, Tantri mengapresiasi upaya pemerintah desa dan warga menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Ia juga berharap, ada peningkatan level yang ditunjukkan anak-anak. “Ada 80 desa yang tertinggal. Salah satunya, Desa Sariwani. Kita berharap pada tahun mendatang, desa ini naik peringkat menjadi desa berkembang,” terangnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Camat Sukapura Yulius Cristian. Menurutnya, dari seluruh desa yang ada di Kecamatan Sukapura, ada tiga desa yang masih tertinggal. Yakni, Desa Sariwani, Ngadirejo, dan Kedasih. Dengan diresmikannya wahana wisata baru ini, warga bersatu membuat yang terbaik untuk desanya.
Sementara itu, Kaur Keuangan Desa Sariwani Gunik Tinoto, 44, mengungkapkan bahwa acara selamatan itu sengaja dibarengkan dengan peresmian Seribu Selfie. “Acara ini memang sengaja kami barengkan dengan acara selamatan. Dengan harapan sampai ke depannya terus lancar,” terangnya
Tantri mengatakan, bahwa Seribu Selfie ini menjadi sebuah harapan bagi Probolinggo. Yang mana sesuai dengan visi-misi serta program daerah yang salah satunya mewujudkan infrastruktur, khususnya infrastruktur wisata.
“Saya terima kasih banyak pada perangkat desa dan Camat Sukapura, Bahwa hari ini kita melihat ada harapan baru. Masyarakat harus ngeh serta pemerintah memfasilitasi. Tentunya hal ini cukup bagus dan menjanjikan,” jelasnya.
Soal retribusi, pihak desa mengakui masih harus melakukan kajian. Sementara, saat ini masih belum ada retribusi. Sehingga, bagi warga atau pengunjung yang hendak ke sana, maka sementara gratis.
Kemudian, tanah yang dipakai di RT 5/RW 3, Dusun Kertowani, desa setempat itu merupakan tanah hutan lindung, milik Perhutani. Sehingga, jika berbicara retribusi, maka mereka juga harus dilibatkan. “Kami masih akan rembuk lagi mengenai retribusinya. Soalnya juga harus melibatkan beberapa pihak,” terangnya. (rpd /rf/mie)
Editor : Muhammad Fahmi