PASURUAN, Radar Bromo–Musim kemarau di Jawa Timur terus menunjukkan tren menguat. Setelah dalam beberapa pekan terakhir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan meningkatnya hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah daerah, pembaruan analisis iklim hingga akhir Juli menunjukkan kondisi tersebut semakin meluas. Bahkan, sebagian wilayah telah memasuki kategori kekeringan ekstrem.
Berdasarkan Informasi iklim dasarian Provinsi Jawa Timur yang dirilis Stasiun Klimatologi Jawa Timur per 31 Juli 2026, hasil analisis periode 21–31 Juli mencatat HTH berturut-turut di Jawa Timur kini bervariasi.
Mulai kategori sangat pendek (1–5 hari), pendek (6–10 hari), menengah (11–20 hari), panjang (21–30 hari), sangat panjang (31–60 hari) hingga kekeringan ekstrem atau lebih dari 60 hari tanpa hujan. Meski demikian, masih terdapat beberapa titik yang sesekali diguyur hujan maupun masih dalam proses pembaruan data.
Perkembangan itu sejalan dengan distribusi curah hujan pada dasarian III Juli 2026 yang secara umum berada pada kategori rendah. Hampir seluruh wilayah Jawa Timur didominasi curah hujan minim, hanya sebagian kecil wilayah yang masih mencatat intensitas hujan lebih tinggi.
Kondisi tersebut diperkirakan belum akan berubah dalam waktu dekat. BMKG memprediksi pada dasarian I Agustus 2026 atau periode 1–10 Agustus, curah hujan di Jawa Timur masih didominasi kategori rendah dengan tingkat keyakinan atau probabilitas lebih dari 90 persen. Artinya, peluang hujan dengan intensitas berarti pada awal Agustus semakin kecil.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, mengatakan perkembangan ini menunjukkan musim kemarau di Jawa Timur masih berlangsung cukup dominan.
"Hasil analisis iklim terbaru menunjukkan curah hujan di Jawa Timur pada akhir Juli secara umum masih berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut diprakirakan berlanjut pada dasarian pertama Agustus dengan peluang lebih dari 90 persen. Karena itu masyarakat perlu mengantisipasi dampak musim kemarau, terutama potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.
Rendy mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar. Sementara bagi sektor pertanian, informasi iklim ini diharapkan menjadi acuan dalam mengatur pola tanam dan pengelolaan irigasi agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan.
Dengan perkembangan tersebut, masyarakat di Pasuruan dan wilayah lain di Jawa Timur diminta tetap memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim dari BMKG, mengingat puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. (zen/fun)
Editor : Fandi Armanto