Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gawat... Temuan DBD di Kota Pasuruan Capai 492 Kasus, Lebih Tinggi Dibanding Tahun Lalu

Fahrizal Firmani • Rabu, 24 Desember 2025 | 20:05 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PASURUAN, Radar Bromo - Temuan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Pasuruan, sepanjang 2025, tergolong tinggi.

Naik dua kali lipat dibanding 2024. Tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) menerima laporan 492 kasus.

Temuan DBD ini meningkat jika dibandingkan 2024 yang hanya 210 kasus. Meski begitu, tidak ada temuan yang meninggal dunia imbas DBD ini.

Kepala Dinkes Kota Pasuruan, dr Shierly Marlena menghimbau masyarakat lebih waspada karena saat ini masuk musim hujan.

Ia mengingatkan, agar mereka harus memastikan tidak ada genangan di lingkungan rumahnya.

Seperti menutup tong bekas hingga membuang atau mengubur ban. Sebab ini bisa menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

"Saat musim hujan, DBD lebih rawan terjadi. Sebab bisa memicu genangan. Dan genangan ini, bisa menjadi penyebab menyebarnya DBD," jelas Shierly.

Ia menyebutkan, munculnya DBD dipengaruhi oleh jentik nyamuk aedes aegepty.

Tanda-tanda penderitanya bisa dikenali dengan gejala panas tinggi antara 3-7 hari, ada bintik-bintik di kulit, bahkan terkadang ada mimisan hingga menyebabkan pendarahan dari hidung dan gusi.

Jika sampai terlambat penanganannya, penderita bisa jatuh dalam stadium shock (dengue strong shock).

Dan ini, dapat menyebabkan kematian bagi penderitanya. Sebab adanya kebocoran pada plasma atau pembuluh darah.

“Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat, baik klinik ataupun puskesmas saat ditemukan gejala DBD. Agar bisa segera tertangani,” tutur Shierly.

Langkah Dinkes untuk mengurangi temuan DBD, dengan program satu rumah satu juru pengawas jentik (jumantik).

Jumantik bertanggung jawab mengawasasi jentik di setiap rumah. Selain itu, pihaknya memaksimalkan program 3 M+ yakni menguras, membuang, mengubur dan menabur.

"Juga melakukan abatesasi selektif. Berupa pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan," jelas Shierly. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kota pasuruan #nyamuk #dbd #dinkes #aedes aegypti