PADA 1988, bisa dibilang merupakan masa keemasan angkutan kota (angkot). Saat itu, angkot benar-benar menjadi transportasi pilihan masyarakat.
Puluhan tahun berlalu, kini angkot semakin terpinggirkan. Terlebih dengan banyaknya tranportasi online dan menjamurnya kendaraan pribadi. Pendapatannya semakin tak menentu.
Matahari belum beranjak pergi hari itu. Namun, Jono, 55, memilih membelokkan angkutan kota (angkot) F miliknya masuk ke Sub Terminal Kebonagung, Kota Pasuruan.
Usai berputar dua kali melewati trayek yang rutin dilaluinya tiap pagi, ia memutuskan tidak lagi mencari penumpang.
Keinginan untuk bisa mendapatkan banyak penumpang jauh dari harapan. Hari itu, ia hanya bisa membawa pulang uang Rp 25 ribu.
Jono menjadi satu dari puluhan sopir angkot di Kota Pasuruan, yang memilih bertahan di tengah semakin sepinya penumpang.
“Cuma bisa bawa pulang Rp 25 ribu. Sepi. Hanya ada empat penumpang tadi yang naik,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Menurutnya, menarik angkot saat ini tidak mudah. Penumpang semakin sepi, sementara saingan transportasi makin banyak.
Ia tidak memiliki pilihan, mencari pekerjaan lain tidak mudah. Karenanya, ia memutuskan bertahan.
“Tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Bensin bisa habis Rp 50 ribu jika keliling trayek tiga kali," jelasnya.
Ketua Primer Koperasi Angkutan Darat (Primkopangda) Kota Pasuruan Mashudi mengatakan, kondisi angkot di Kota Pasuruan, semakin terjepit.
Penumpang makin sepi. Jauh berbeda saat kali pertama Primkopangda dibentuk pada 1988. Saat itu, angkot benar-benar menjadi transportasi pilihan masyarakat.
Semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi dan banyaknya pilihan transportasi dalam kota, membuat situasi angkot menjadi sulit.
Tidak hanya bersaing dengan transportasi online, namun juga terhimpit oleh keberadaan becak bermotor (betor).
“Angkot dalam situasi serbasulit. Dihimpit oleh transportasi online, masih harus bersaing dengan betor," jelasnya.
Jumlah angkot yang beroperasi setiap tahun semakin menyusut. Dari total angkot 120 unit, kini hanya sekitar 60 unit yang bertahan.
Sisanya memilih tidak mencari penumpang, karena hasilnya tidak sebanding dengan biaya operasional.
Ada 11 trayek angkot di Kota Pasuruan. Yakni, angkot D3, D1, F, D2, C, G3, BP, B2, B1, B2, dan A2. Yang masih berjalan hanya delapan trayek. Sisanya, tiga trayek mati suri. Tiga trayek ini adalah B1, B2, dan A2. Penumpang di trayek ini sudah “tidak ada.”
Sebenarnya tiga trayek yang tidak jalan ini berada di jalur padat permukiman dan melewati sekolah. Tapi, rata-rata pelajar tidak lagi naik angkot.
Mereka diantar-jemput oleh orang tuanya, naik transportasi online, hingga membawa kendaraan pribadi.
“Selama ini penumpang angkot orang yang mau ke pasar atau ke toko. Sudah jarang pelajar yang naik angkot,” jelas Mashudi.
Padahal, tarif angkot tidak berubah sejak 2022. Lebih murah dibandingkan transportasi online atau betor. Jarak jauh-dekat, penumpang umum dikenakan Rp 6.000, sementara untuk pelajar ditarik Rp 3.000.
“Justru kami punya kelebihan dibanding bentor. Kami jauh lebih aman. Apalagi kalau ada kecelakaan, betor tidak bisa dikover asuransi," jelas Mashudi.
Bendahara Primkopangda Sugiyono menambahkan, rata-rata sopir angkot hanya jalan dua kali trayek setiap harinya. Alasannya, penumpang sepi.
Sebelum Dzuhur mereka sudah masuk terminal untuk beristirahat. Baik di Sub Terminal Kebonagung, Terminal Baru, ataupun di Sub Terminal Karangketug.
“Rata-rata cuma bisa bawa pulang Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. Untung keluarga di rumah mengerti,” ujar Giyono.
Berharap Wacana Angkutan Pelajar Terwujud
Sepinya angkot di Kota Pasuruan, menjadi atensi dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan.
Dishub berencana menjadikan angkot sebagai angkutan pelajar. Kini, tengah dilakukan review kebutuhan biaya yang diperlukan untuk setiap angkot.
Kepala Dishub Kota Pasuruan Andriyanto mengatakan, wacana menjadikan angkot sebagai angkutan pelajar mulai mengemuka sejak 2018. Saat itu, rencana ini muncul atas keinginan membantu angkot yang semakin sepi.
Banyak sopir yang mengeluh tidak bisa membayar retribusi saat masuk sub terminal, karena penghasilan minim. Pihaknya sempat merumuskan biaya yang diperlukan untuk setiap angkot dalam sebulan.
Namun, wacana ini tertunda karena adanya Pandemi Covid-19 pada 2019-2021. Setelah itu, wacana ini sempat tarik ulur, karena penggantian pimpinan daerah. Wacana ini kembali mengemuka tahun ini.
Dalam forum lalu lintas angkutan jalan (LLAJ), Primkopangda sempat menanyakannya. Karena itu, pihaknya berniat mengusulkan subsidi angkot sebagai angkutan pelajar pada 2026. Kini, Dishub tengah me-review kebutuhan anggarannya.
"Ini meliputi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan servis kendaraan tiap bulan. Saat ini kami review untuk diusulkan," jelasnya.
Jika wacana ini terealisasi, kata Andri, maka angkot harus mengantar pelajar pulang dan pergi. Kemungkinan nanti ada titik jemput. Siswa tidak perlu mengeluarkan biaya apapun karena sudah ditanggung pemkot.
“Jika wacana ini disetujui, nanti kami yang bayar melalui APBD. Angkot bisa menjadi sarana transportasi utama siswa," jelas Andri.
Sebagai dampak sepinya angkot, sejak 2022, Dishub telah meniadakan penarikan retribusi bagi angkot yang masuk Sub Terminal Kebonagung ataupun Sub Terminal Karangketug.
Selain itu, pihaknya rutin menyosialisasikan bagi angkot agar rutin melakukan uji kir. Apalagi uji kir ini tidak dipungut biaya.
“Pembebasan retribusi terminal juga salah satu upaya kami pada keberlangsungan angkot di Pasuruan," ujar mantan Kabid Lalu Lintas ini.
Ketua Primkopangda Mashudi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi wacana Pemkot menjadikan angkot sebagai angkutan pelajar.
Wacana ini sangat positif dan bisa membantu sopir angkot. Pihaknya berharap bisa segera terealisasi.
Sembari menunggu wacana ini terealisasi, pihaknya berharap kebijakan Pemkot mendukung keberlangsungan angkot.
Di antaranya, rutin melakukan operasi betor. Sebab, keberadaan betor cukup mempengaruhi angkot. Tidak jarang masyarakat lebih memilihnya.
Padahal, transportasi ini jelas terlarang dan membahayakan. Selama ini operasi sudah berjalan, namun perlu lebih rutin. Misalnya, sepekan sekali, sehingga mereka jera untuk menarik betor di Kota Pasuruan.
Pihaknya ingin ada penataan keberadaan odong-odong. Sebab, sering TK atau SD mengadakan outing class dengan menyewa odong-odong. Padahal, kendaraan ini membahayakan.
Asuransi tidak berlaku jika terjadi kecelakaan tunggal. “Kalau bisa outing class menggandeng angkot,” harap Mashudi.
Bertahan dengan Jasa Sewa
Minimnya minat masyarakat untuk menggunakan angkot sebagai transportasi utama membuat pengemudi harus pandai mencari sumber penghasilan lain.
Tidak sedikit yang bertahan dengan menyediakan jasa carter atau jasa sewa kendaraan bagi masyarakat untuk satu kegiatan.
Ketua Primkopangda Mashudi mengatakan, jika mengandalkan trayek rutin hari-hari, biaya operasional angkot tidak bisa tertutupi. Karena itu, banyak pemilik angkot memilih menyewakannya bagi yang butuh kendaraan.
Misalnya, untuk wisata ziarah, keliling wisata Kota Pasuruan, hingga menghadiri walimahan atau acara pernikahan. Masyarakat yang ingin menyewa dikenakan tarif Rp 150 ribu pulang pergi.
Meski tidak setiap hari, namun jasa ini tidak pernah sepi permintaan. Rata-rata setiap angkot bisa menerima satu sampai dua kali permintaan selama sepekan.
“Jasa carter jadi solusi agar angkot tetap bisa jalan dan dapur di rumah tetap mengepul. Rp 150 ribu untuk pulang pergi," jelasnya.
Ia berharap Pemkot akan lebih memberdayakan angkot saat ada kegiatan massal yang membutuhkan transportasi.
Seperti pernah dilakukan pada 2023, ketika Kota Pasuruan, menjadi tuan rumah untuk kegiatan MTQ ke-30 Tingkat Jawa Timur. Saat itu, 95 angkot disewa untuk kendaraan peserta MTQ.
Ia berharap keinginan Dishub menambah bus sekolah tetap mendukung angkot. Rute yang dipakai bukan rute yang dilewati angkot.
Melainkan rute yang memang tidak dilewati angkot. Seperti rute bus sekolah saat ini yang melalui pesisir.
“Kalau bisa kami diberdayakan sebagai transportasi massal setiap ada kegiatan. Bisa juga untuk menunjang wisata kota," ujar Mashudi.
Kepala Dishub Kota Pasuruan Andriyanto mengatakan, sebenarnya beberapa waktu lalu, Dishub berniat menjadikan angkot sebagai transportasi wisatawan.
Untuk mendukung wisata heritage dan wisata religi yang tengah dikembangkan. Namun, rencana ini urung.
Alasannya, kondisi angkot cukup tua. Rata-rata berumur di atas 30 tahun. Untuk memperbaiki, sehingga kendaraan dalam kondisi prima tidak murah. Satu angkot bisa menyedot anggaran Rp 20 juta. Sama dengan biaya membeli angkot baru.
Namun, pihaknya tidak melarang angkot menyediakan jasa carter bagi masyarakat. Selain itu, saat ini Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) rutin menggandeng angkot dan sekolah untuk memperkenalkan heritage di Kota Pasuruan. Mereka menyewa angkot dan mengajak pelajar berkeliling di sejumlah cagar budaya.
“Kalau angkot menyewakan kendaraan untuk masyarakat, itu malah bagus. Tentu kami sangat mendukung," ujar Andri. (riz/rud)
Editor : Ronald Fernando