Bangunan yang tinggi menjulang itu akan direvitalisasi. Pemkot Pasuruan mengalokasikan Rp 600 juta dari APBD 2023. Bagian dalamnya dimanfaatkan untuk museum mini. Sebab, lokasi itu menjadi jujukan pertama bagi wisatawan luar kota.
“Saat ini, sudah dalam tahap persiapan untuk proses lelangnya,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan Basuki.
Tidak hanya menjadikannya museum mini. Menara air yang sudah tidak berfungsi itu akan dijadikan ikon baru. Bangunannya bakal dicat total dan dihiasi dengan lampu-lampu. Bahkan, revitalisasi menara air itu juga bakal ditopang CSR. “Pengecatannya ada CSR perusahaan,” jelas Basuki.
Anggota Komisi III DPRD Kota Pasuruan Abdul Ghofur pun menyambut positif rencana tersebut. Hanya saja, dia juga meminta pemerintah mendudukkan revitalisasi menara air itu secara proporsional. Apalagi ada keterlibatan program corporate social responsibilty (CSR) di dalamnya.
“Artinya, akan ada dua sumber pembiayaan dalam pekerjaan yang sama. Ini yang harus diklirkan dulu,” ungkap Ghofur.
Politisi Hanura itu menyebut, pemerintah harus memiliki perencanaan yang jelas. Mana yang akan dikerjakan rekanan dan mana yang akan ditanggung CSR. Kendati saat hearing di komisi III, Disparpora sudah memastikan bahwa CSR yang didapatkan berupa cat saja.
“Tapi, bagaimana pun harus ada batasan-batasan yang jelas antara CSR dengan tanggung jawab rekanan. Jangan sampai kemudian pekerjaannya tumpang tindih,” ujarnya. (tom/hn) Editor : Jawanto Arifin