Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perayaan Nyepi Meriah Lagi setelah Pandemi 

Ronald Fernando • Rabu, 22 Maret 2023 | 15:01 WIB
ANTUSIAS: Masyarakat Suku Tengger Tosari iring-iringan menabuh musik baleganjur saat mengarak Ogoh-ogoh Selasa (21/3). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
ANTUSIAS: Masyarakat Suku Tengger Tosari iring-iringan menabuh musik baleganjur saat mengarak Ogoh-ogoh Selasa (21/3). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
Perayaan hari raya Nyepi Suku Tengger di Tosari tahun ini, lebih meriah dari tahun lalu. Tidak ada lagi pembatasan. Pawai Ogoh-ogoh bahkan digelar berbarengan dan disentralkan di satu lokasi. Masyarakat menyambutnya dengan suka cita.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

MUKHAMAD ROSYIDI, Tosari, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

TERHITUNG dua tahun, perayaan Nyepi sempat dibatasi yakni tahun 2020 dan 2021. Selama itupula warga Suku Tengger di Tosari, tak bisa menggelar pawai Ogoh-ogoh. Tahun lalu sejatinya sudah digelar, namun di lingkup desa.

Tentu saja saat tak ada lagi pembatasan, masyarakat sangat antusias. Ribuan masyarakat turun ke jalan. Dengan ciri khas memakai udeng di kepala, mereka ingin memeriahkan pawai yang digelar untuk menyambut tahun baru caka 1945 tersebut.

Bukan hanya Suku Tengger. Warga lainnya pun memanfaatkan momen tersebut untuk mencari hiburan. Mereka mengabadikan dengan kamera. Bahkan sabar menunggu sampai Ogoh-ogoh dari 10 desa di tiga kecamatan itu dibawa ke rest area Tosari. 

"Ini memang dirayakan meriah. Seperti sebelum adanya covid. Jadi ya ramai," ungkap kata Singgih salah seorang tokoh pemuda Ngadiwono.

Persiapan masyarakat tengger dalam acara ini terbilang cukup lama. Persiapan dilakukan selama sebulan. Mereka membuat sendiri ogoh-ogohnya. "Kami membuat sendiri. Untuk biaya mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 25 juta untuk satu ogoh-ogohnya," Kariadi, salah seorang warga Suku Tengger.

Photo
Photo
ANTUSIAS: Masyarakat Suku Tengger Tosari iring-iringan menabuh musik baleganjur saat mengarak Ogoh-ogoh Selasa (21/3). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Dalam ritual pawai Ogoh-ogoh, bukan hanya warga Hindu Tengger. Tapi juga warga sekitar dan wisatawan. Tampak mereka berjubel memadati lokasi. Salah satunya, Nurkaromah Rohma, wisatawan yang datang dari Gempol. Bersama suami dan anaknya, dia begitu senang melihat pawai.

"Di Pasuruan ternyata juga ada Ogoh-ogoh. Saya taunya dulu hanya di Bali. Karena itu saat ini saya lihat bersama keluarga," ungkapnya.

Bukan hanya sekedar berwisata. Tapi dia sengaja datang untuk mengajarkan kepada sang buah hati kebudayaan yang ada di daerahnya. Juga mengenalkan keberadagaman. "Mumpung masih kecil jadi diajarkan banyak hal. Salah satunya keberagaman budaya dan agama. Kelak kalau besar biar toleran," jelasnya sembari menunggu pemberangkatan.

Fatimah, 24, wisatawan asal Rejoso mengatakan, ia datang bersama dengan teman-temannya. Kedatangannya untuk melihat ritual tawur kesanga. Selain itu juga untuk membuat video dokumenter.

Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, ada sekitar 10 desa yang mengikuti ritual itu. Rinciannya delapan desa dari Kecamatan Tosari yakni Desa Tosari, Wonokitri, Podokoyo, Ngadiwono, Baledono, Mororejo dan Sedaeng. Kemudian Desa Keduwung, Kecamatan Puspo dan Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kecamatan Tosari Parji mengatakan, ritual tawur kasanga tahun ini memang digelar berbeda. Wisatawan dan masyarakat yang bukan hindu diperbolehkan datang.

"Memang ramai. Pandemi kan sudah landai. Jadi wisatawan bisa datang," ungkapnya.

Menurutnya, pawai itu sendiri dilakukan sehari sebelum ritual nyepi. Ogoh-ogoh disimbolkan sebagai energi negatif. Karenanya rupa dari ogoh-ogoh menyeramkan dan bertubuh besar seperti buta kala. Nantinya, setelah diarak pawai akan dibakar untuk pembersihan. 

Pada 2022 lalu Kecamatan Tosari dinobatkan sebagai Kecamatan Bhinneka Tunggal Ika oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Ini karena Tosari merepresentasikan toleransi antar umat beragama. Ada Hindu, Islam, Kristen. Meskipun berbeda-beda tetap rukun. Bahkan tiap kali ada kegiatan antar umat beragama saling membantu.

Seperti halnya pada acara kemarin (21/3) lalu itu. Terlihat banser turut menjaga keamanan dan kelancaran acara. Mereka berbaur dengan umat Hindu yang memiliki hajat. (fun) Editor : Ronald Fernando
#ogoh-ogoh tosari #nyepi tahun baru caka 1945