Festival kali ini diikuti puluhan pengusaha mebel dari Bukir. Ada pameran di dalam tenda-tenda yang disediakan di halaman pasar mebel. Festival juga diikuti para perajin di lapak-lapak dalam Pasar Mebel Bukir yang baru direvitalisasi.
Beragam karya mebel dipamerkan. Mulai yang unik, bernuansa vintage, minimalis, hingga industrial. Semuanya dibanderol dengan harga yang tak biasa. Festival tersebut memang sengaja menyediakan berbagai furniture yang terjangkau.
”Harga yang murah, tapi berkualitas. Perajin juga tetap dapat untung,” kata Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf setelah membuka festival kemarin (3/3).
Dia meminta para perajin lebih kompak dalam berinovasi. Festival mebel yang digelar selama tiga hari ke depan itu menjadi ajang bagi para perajin untuk mengembalikan kejayaan industri mebel seperti dulu.
”Waktunya berhenti mengeluh. Yang penting semangat untuk bangkit karena kualitas mebel Pasuruan ini yang terbaik,” katanya.
Gus Ipul menambahkan, produk mebel Kota Pasuruan pernah berjaya. Bahkan, dulu, para perajin kawasan mebel Jepara pun belajar ke Kota Pasuruan. ”Tapi, kita tidak perlu kecil hati. Kita pernah jaya dan sekarang saatnya kita bangkit. Kita kejar ketertinggalan,” tambahnya.
Gus Ipul yakin industri mebel Bukir bisa kembali menguasai pasar. Asalkan, perajinnya konsisten. Pertama, meningkatkan kualitas dan mengikuti kemauan pasar. Selain itu, mebel Bukir harus mudah diakses dan dicari. Promosi di media sosial harus ditingkatkan. Dan, soal harga, harus bisa bersaing juga.
”Ini kunci yang harus dilakukan para perajin supaya produk mebel kita bisa kembali menguasai pasar,” ujarnya. (tom/far) Editor : Ronald Fernando