Sejak beberapa hari terakhir, angin kencang dan gelombang tinggi melanda perairan Pasuruan. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sampai awal tahun ini. “Angin kencang diprediksi mencapai 36 knot. Dengan tinggi gelombang antara 20 hingga 125 sentimeter,” ujar Kasubnit Lidik Satpolairud Pasuruan Aipda Laswanto.
Ia mengimbau nelayan waspada bila terjadi hujan lebat bersamaan dengan pasang air laut. Mereka juga diminta lebih berhati-hati dan membawa alat keselamatan ketika mencari ikan di tengah laut.
“Kalau melaut minimal harus bawa pelampung jaket atau ban. Bila cuaca buruk disertai angin dan ombak, nelayan jangan memaksakan melaut,” ujarnya.
Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan Mualif Arif mendorong nelayan memiliki sumber penghasilan selain melaut. Tahun lalu pihaknya membentuk dua kelompok usaha bersama untuk budi daya penggemukan kepiting. Dengan begitu, diharapkan keluarga nelayan tetap punya penghasilan ketika cuaca di laut tak memungkinkan.
“Ini masih percontohan. Kami ajak 20 nelayan untuk pelatihan. Sekarang mulai uji coba penggemukan kepiting sebagai salah satu hasil tangkapan,“ jelasnya.
Menurut Ayik -sapaan Mualif Arif-, langkah semacam ini bisa menjadi alternatif bagi nelayan. Agar bisa tetap memiliki penghasilan ketika cuaca laut sedang mengancam. Budi daya penggemukan kepiting juga bisa dilakukan untuk menambah penghasilan.
“Sehingga, tidak menggantungkan hanya pada satu sumber penghasilan. Kalau uji coba sukses, kami akan kembangkan untuk nelayan yang lain,” janjinya.
Di sisi lain, angin kencang memang dirasakan dampaknya oleh nelayan. Salah satunya Safii, 47, nelayan asal Panggungrejo yang biasa menggunakan perahu. Sejak Sabtu (29/12) libur melaut karena angin kencang. Alhasil, yang dilakukan saat ini memperbaiki jala agar bisa digunakan kembali saat angin kencang mereda.
Safii hafal betul dengan kondisi angin. Dia menyebut angin ini adalah muson barat. Tiap tahun, katanya, angin selalu ada. Selama libur, Safii beruntung sudah memiliki tabungan. “Biasanya angin kencang terjadi selama sepekan hingga sepuluh hari. Setelah angin ini selesai, biasanya ikan di perairan banyak,” katanya saat ditemui di dermaga pelabuhan Pasuruan.
Jika dipaksakan melaut, katanya, memang membahayakan. Namun kata Safii, teman-temannya tetap ada yang melaut. Biasanya perahu besar. Namun sejauh ini, kata dia, hasilnya tidak maksimal. “Ikannya dapat sedikit, bahkan gak nutut dengan operasional. Beberapa kawan-kawan juga banyak yang kembali karena ikan dapat sedikit,” katanya. (tom/rud) Editor : Jawanto Arifin