Banjir lewat itu terjadi dalam dua hari terakhir, yakni Kamis dan Jumat (3-4/3). Kepala Desa Penunggul Selamet Sunhaji mengatakan, Kamis lalu air sungai masuk perkampungan sekitar pukul 19.00. Air menggenangi permukiman itu setelah meluap dari Sungai Lawean.
”Dini hari langsung surut. Jadi, tidak sampai menggenang berhari-hari,” katanya.
Selamet menjelaskan, hampir seluruh rumah di Desa Penunggul terendam banjir. Tinggi air bervariasi. Ada yang 30 sentimeter maupun 80 sentimeter. Dua dusun yang terdampak banjir itu adalah Dusun Sawahan dan Dusun Pesisir.
”Totalnya sekitar 700 KK (kepala keluarga),” sebutnya.
Jumat (4/3) sore, banjir kembali menggenangi desa tersebut. Kali ini tinggi air antara 30 sentimeter sampai 40 sentimeter. Terhitung dalam sebulan banjir sudah empat kali melanda Desa Penunggul. Setelah banjir, biasanya warga membersihkan bekasnya sampai empat hari. Sebab, air bercampur lumpur.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Harris Ridwan, sejauh ini, yang lapor banjir hanya Desa Penunggul. Tidak sampai menggenang berhari-hari dan cepat surut.
”Ini airnya hanya lewat,” terangnya.
Banjir terjadi, kata dia, karena desa itu dekat dengan pantai. Sehingga ketika air laut meluap, ditambah air Sungai Lawean yang juga meluap, terjadilah banjir. ”Tidak ada fasum atau rumah warga yang rusak. Hanya lumpur ada di jalanan,” ungkapnya. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin