Santri-santri Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah punya cara tersendiri agar permainan tradisional tetap membumi. Sekaligus tetap dikenal anak masa kini. Mereka menggelar festival bertajuk Dolanan Yok. Sudah enam tahun terakhir ini festival itu diadakan.
”Alhamdulillah, kali ini bisa digelar secara offline. Tahun lalu harus secara virtual karena pertimbangan pandemi,” kata Widad Bariroh, pembina OSIS Bayt Al-Hikmah, di sela-sela pembukaan Festival Dolanan Yok, Jumat (28/1).
Ning Widad –sapaannya- menyampaikan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya bagi para siswa. Festival Dolanan Yok menjadi salah satu kegiatan rutin yang dikemas dalam bentuk lomba. Pesertanya ialah anak-anak SD dan MI di Kabupaten maupun Kota Pasuruan.
”Dan, memang di jenjang SD-MI, permainan tradisional pun masuk kurikulum materi olahraga. Sehingga festival ini juga sinkron dengan pembelajaran siswa,” jelasnya.
Beberapa jenis permainan tradisional yang dilombakan, antara lain, bola tembak, egrang, benteng-bentengan, patil lele, dan gobak sodor. Widad menyatakan, permainan tradisional itu bukan sekadar sarana bermain. Semuanya memiliki filosofi masing-masing.
”Kami ingin mengajak anak-anak merasakan bagaimana bahagianya bermain permainan tradisional,” ungkapnya.
Beragam jenis permainan tradisional juga mengajarkan kesabaran, ketangkasan, dan kekompakan dengan membangun team work yang solid. Beberapa nilai penting tersebut tak bisa didapatkan dari permainan modern. Sensasi dan keseruan dalam permainan tradisional dijamin tidak ditemukan dalam permainan di dalam gadget.
Meski demikian, lanjut Widad, para santri harus tetap mengikuti perkembangan zaman. Mereka tak boleh ketinggalan. Tetapi, juga tetap mempertahankan akar tradisi dan budaya yang sesuai dengan nilai keagamaan.
”Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong kemandirian santri. Mereka benar-benar bisa belajar merancang kegiatan secara penuh. Mulai awal hingga akhir,” beber Widad.
Suryani Firdaus, istri Wakil Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo, menyatakan bangga dengan Festival Dolanan Yok itu. Terlebih permainan tradisional kini memang sudah jarang ditemui. Karena, di era digital, kata Ani –sapaan Suryani Firadus- permainan serba online.
”Kami bangga PP Bayt Al-Hikmah mengadakan festival permainan tradisional. Sehingga permainan zaman dulu masih bisa dimainkan anak-anak masa kini,” bebernya. (tom/far) Editor : Jawanto Arifin