Kepala Program Studi Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan Nanik Kholifah berpendapat, trauma itu harus segera diatasi agar tidak berdampak jangka panjang. Memang, tidak ada waktu pasti untuk memulihkan trauma seperti itu.
Yang jelas, penanganannya perlu cepat. Kalau tidak, bisa muncul masalah psikis. Seperti, gangguan kecemasan, depresi, obsessive compulsive disorder, atau post-traumatic stress disorder.
”Jika berkepanjangan, berbahaya bagi kehidupan anak selanjutnya. Misal, karena takut akan virus, anak akan superprotektif. Takut ketemu orang dan lainnya,” papar Nanik.
Menurut dia, mengobati orang trauma bergantung pada individunya. Seberapa berat orang tersebut mengalami trauma. Ada yang sebulan bisa selesai. Ada yang berbulan-bulan belum juga selesai.
"Itu dilihat tingkat traumanya. Bisa dilakukan pendampingan hingga traumanya benar-benar hilang. Dan, anak kembali seperti sediakala,” terangnya.
Di Kabupaten Pasuruan, ada sekitar 400 anak yang kehilangan orang tuanya akibat Covid-19. Di Kota Pasuruan tercatat 130-an anak juga ditinggal mati orang tuanya karena terkena Covid-19. Anak-anak itu menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu.
Mereka harus menghadapi nasib yang begitu berat meski masih usia anak-anak. Pemkab Pasuruan menyiapkan skema penanganan untuk anak-anak tersebut. Semua organisasi perangkat daerah (OPD) dilibatkan. Mulai Dispendukcapil, Dispendik, Dinsos, hingga Dinas KBPP. Tujuannya, memberikan penanganan yang maksimal bagi mereka. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin