------------------
JIKA ingin mengunjungi wisata ini, cukup mudah. Lokasinya dari Jalan raya Rejoso, hanya berjarak sekitar 7 kilometer. Kendaraan roda dua maupun roda empat bisa masuk ke dalam lokasi wisata. Hanya menyisiri sisi timur sungai Rejoso ada sebuah pertigaan dan tinggal mengikuti jalur tersebut.
Jalur menuju lokasi wisata saat ini kondisinya ada yang rusak karena banyak dilalui oleh kendaraan besar. Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Setelah itu, wisatawan akan tiba di tempat parkir dan loket pembelian tiket.
Meskipun telah mengantongi tiket, wisatawan masih belum sampai ke tujuan. Untuk sampai, masih harus menggunakan perahu. Satu perahu, berisikan 15 orang. Kemudian akan diantar ke tujuan. Kira-kira perjalanan memakan waktu 10 menit. Panjang jalur sungai yang ditempuh sekitar 2 kilometer.
Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhkan pemandangan menarik. Kanan-kiri sungai dan muara, ditumbuhi oleh mangrove dan pepohonan. Jika beruntung, mereka akan melihat aneka satwa burung yang hinggap mencari makan.
Bila tiba di tujuan, ada sebuah dermaga pemberhentian yang terbuat dari kayu. Dengan cat warna warni, dermaga itu menjadi daya tarik tersendiri.
"Ini awal tracking yang akan dilalui oleh setiap pengunjung. Dari sini panjang tracking ini sekitar 500 meter," kata Ali Muhtasor, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pateguran yang mengelola wisata itu.
https://www.youtube.com/watch?v=jNwwFrQKw4s
Menurutnya, ada banyak fasilitas yang disediakan di tempat wisatanya. Mulai dari jogging track tersebut, spot selfie, gazebo, toilet, cafe di tengah hutan yang menjadikan kesan tersendiri untuk sekadar menikmati kopi. Wisatawan juga tak perlu risau, bila masuk waktu salat. Sebab di lokasi juga sudah ada musala.
Ali menyebutkan, wisatawan beruntung bila bisa menemui satwa seperti burung ataupun kera. Mereka ada yang hidup di pepohonan mangrove tersebut. "Mereka memang hidup di hutan ini," katanya.
Menurut Ali, wisata ini dibangun pada 2019 lalu. Sejak itu, sudah banyak yang berkunjung. Bahkan, setiap harinya bisa mencapai sekitar ratusan orang yang datang.
"Awal dibuka sekitar 500 orang ada yang berkunjung. Tetapi kini menyusut sudah karena faktor pandemi," ungkapnya.
Ali mengaku, pokdarwis sejatinya sudah memiliki rencana untuk memperbanyak spot selfie. Tujuannya, agar semakin banyak wisatawan yang hadir. Dengan begitu, maka akan mengerek perekonomian masyarakat.
"Wisata ini mulanya kan memang untuk mengerek ekonomi masyarakat. Karena itu, untuk ke lokasi menggunakan perahu milik masyarakat. Itu sudah include dengan tiket yakni Rp 15 ribu per orang," ungkapnya.
Ia menuturkan, sebenarnya selain wisata mangrove andalannya adalah melihat hiu tutul. Setelah berpuas di tengah hutan mangrove, wisatawan bisa melanjutkan ke laut untuk melihatnya.
Namun, untuk bisa menikmati fasilitas itu wisatawan harus merogoh kocek lebih dalam. Yakni menambahkan uang sebesar Rp 10 ribu.
"Kami juga ada paket makan menunya ada ikan dan kepiting. Juga bisa melakukan sewa lokasi untuk acara, kan ada aulanya," ungkapnya.
Saat ini, ia berharap ada perbaikan jalan. Sebab, itu sudah menjadi keluhan wisatawan. Menurutnya, jika jalan diperbaiki dimungkinkan bakal banyak wisatawan datang. (sid/fun)
Tentang Hutan Mangrove Pateguran
- Dibangun sejak 2019 oleh kelompok sadar wisata Desa Pateguran.
- Fasilitas yang dapat dinikmati adalah wisata alam, jogging track, cafe di tengah hutan, menyisiri muara dengan perahu hingga spot selfie.
- Tiket yang dikenakan hanya Rp 15 ribu, include untuk naik perahu menuju lokasi.