Oleh : *Intan Sudarmadi
Dokter Spesialis Neurologi/Kepala Dinas Kesehatan PPKB Kota Probolinggo.
KETIKA hutan terbakar dan kabut asap menyelimuti permukiman, kekhawatiran kita biasanya tertuju pada mata yang perih, batuk, sesak napas, dan meningkatnya penyakit saluran pernapasan. Jarang terlintas bahwa udara yang sama juga dapat membawa ancaman bagi pembuluh darah otak.
Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara paparan asap kebakaran hutan dan meningkatnya risiko stroke.
Temuan ini mengajak kita melihat pencegahan stroke dari sudut yang lebih luas: tidak hanya apa yang kita makan, seberapa sering kita bergerak, atau bagaimana tekanan darah dikendalikan, tetapi juga kualitas udara yang setiap hari kita hirup.
Partikel Kecil, Dampak yang Tidak Sederhana
Asap kebakaran hutan merupakan campuran gas dan partikel pencemar. Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer.
Karena ukurannya sangat halus, partikel ini mampu mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparannya dapat memicu peradangan sistemik, stres oksidatif, gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endotel), serta perubahan proses pembekuan darah.
Proses tersebut dapat memperberat gangguan pembuluh darah yang telah ada. Pada stroke iskemik (sumbatan), aliran darah ke suatu bagian otak terhambat, sehingga jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi.
Polusi udara diduga berperan sebagai salah satu faktor yang menambah beban risiko vaskular, terutama pada orang yang telah memiliki penyakit penyerta.
Tentu saja, menghirup asap tidak berarti seseorang pasti terkena stroke. Risiko bergantung pada konsentrasi pencemar, lama paparan, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lainnya.
Hubungan yang ditemukan dalam penelitian tidak boleh disederhanakan menjadi kesimpulan sebab-akibat pada setiap individu.
Temuan Penelitian yang Patut Diperhatikan
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di European Heart Journal menelaah sekitar 25 juta peserta Medicare berusia 65 tahun ke atas di Amerika Serikat, menggunakan data periode 2007–2018.
Peneliti memperkirakan paparan partikel halus yang secara khusus berasal dari kebakaran hutan, kemudian menghubungkannya dengan kejadian stroke.
Hasilnya, setiap kenaikan 1 mikrogram per meter kubik pada rata-rata paparan PM2.5 dari asap kebakaran hutan selama tiga tahun berhubungan dengan peningkatan risiko stroke sekitar 1,3 persen.
Besarnya peningkatan relatif itu memang tampak kecil, tetapi pada populasi yang sangat besar, implikasinya bagi kesehatan masyarakat tidak dapat diabaikan.
Perlu ditekankan bahwa penelitian ini bersifat observasional dan dilakukan pada kelompok usia lanjut di Amerika Serikat. Angkanya tidak dapat langsung digunakan untuk memprediksi risiko setiap orang atau menggambarkan kondisi Indonesia.
Meski begitu, hasilnya menambah bukti bahwa polusi dari kebakaran hutan tidak cukup dipandang sebagai masalah paru-paru semata.
Pencegahan Stroke Juga Urusan Lingkungan
Masyarakat sudah cukup akrab dengan anjuran mengendalikan hipertensi, diabetes, kolesterol, berhenti merokok, menjaga berat badan, dan berolahraga.
Pesan-pesan tersebut tetap merupakan fondasi pencegahan stroke. Namun, perlindungan kesehatan tidak sepenuhnya bisa dibebankan pada pilihan individu ketika udara di lingkungannya tercemar.
Saat terjadi kabut asap, terutama ketika indeks kualitas udara menunjukkan kondisi buruk, kegiatan fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung, paru, atau riwayat stroke membutuhkan perhatian lebih.
Apabila harus keluar di tengah polusi partikel, respirator seperti N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan. Pintu dan jendela dapat ditutup ketika kualitas udara luar memburuk, dengan tetap memperhatikan ventilasi dan keselamatan di dalam rumah.
Di tingkat kebijakan, pencegahan kebakaran dan pembakaran terbuka, pemantauan kualitas udara, penyampaian peringatan dini, serta perlindungan kelompok rentan perlu menjadi bagian dari upaya kesehatan masyarakat. Dinas kesehatan, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan sektor lingkungan hidup dapat bergerak bersama, karena persoalan ini tidak mengenal batas administrasi maupun batas profesi.
Hari Stroke Sedunia: Setiap Menit Berharga
Peringatan Hari Stroke Sedunia pada 29 Oktober 2026 mengangkat kampanye “Every M1nute Counts” atau setiap menit berharga, dengan ajakan #ActFAST. Pesan utamanya sederhana: kenali tanda-tanda stroke dan segera cari pertolongan medis. Pencegahan penting, tetapi kecepatan penanganan ketika gejala muncul tidak kalah menentukan.
Waspadai wajah yang tiba-tiba mencong, lengan atau tungkai yang mendadak lemah pada satu sisi, dan bicara pelo atau sulit berbicara. Gangguan penglihatan maupun keseimbangan yang terjadi mendadak juga harus dicurigai.
Jangan menunggu gejala hilang, jangan mengandalkan pijat atau pengobatan rumahan, dan segera menuju pelayanan gawat darurat yang mampu menangani stroke.
Kita memang tidak dapat mengendalikan seluruh faktor risiko stroke. Namun, kita dapat memperkecil risikonya melalui perilaku sehat, lingkungan yang lebih bersih, dan pelayanan kesehatan yang tanggap.
Di balik kepulan asap kebakaran hutan, ada ancaman yang mungkin tidak langsung terlihat, tetapi layak mendapat perhatian.
Menjaga kesehatan otak bukan hanya soal mengontrol tekanan darah dan gula darah. Ini juga tentang menjaga udara yang kita hirup bersama. Karena bagi otak, udara bersih adalah bagian dari ikhtiar hidup sehat, dan ketika stroke menyerang, setiap menit sungguh berharga. (*)
REFERENSI
Hao H, Xu K, Zhang D, et al. Long-term exposure to wildfire smoke particulate matter and incident stroke: a US nationwide study. European Heart Journal. 2026. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehaf875
World Stroke Organization. World Stroke Day 2026: Every M1nute Counts #ActFAST. https://www.world-stroke.org/world-stroke-day-campaign/world-stroke-day-2026
Editor : Muhammad Fahmi