Oleh: HA. Suyuti
*) Wartawan Radar Bromo
SEMINGGU di Kota Probolinggo (Semipro) – tapi tahun ini digelar 10 hari (Apa namanya tetap Semipro?)-, kembali dihelat. Pertama kali digelar tahun 2009. Artinya, 17 tahun warga Kota Probolinggo disuguhi event yang diklaim menjadi ikon Kota Probolinggo ini.
Pertanyaannya sekarang, masih menarikkah event ini bagi warga Kota Probolinggo? Bagi wisatawan domestik maupun luar negeri? Atau sekadar menjadi event rutin tahunan dan seremonial belaka?
Mari flashback melihat latar belakang Semipro dibuat. Saat itu, ada fenomena Kota Probolinggo jarang dikunjungi wisatawan. Bahkan, banyak warga Kota Probolinggo yang memilih keluar kota saat liburan sekolah, maupun akhir tahun.
Sementara branding Kota Probolinggo telanjur sebagai “Kota Transit”. Bukan “Kota Tujuan”. Artinya, positioning Kota Probolinggo hanya menjadi tempat pemberhentian sementara. Bukan tempat jujugan liburan.
Akhirnya, wisatawan hanya mampir makan di Kota Probolinggo. Atau sekadar ke kamar kecil untuk pipis. Jika tol Probowangi beroperasi, bisa jadi mereka tidak melewati Kota Probolinggo. Tapi bablas dan turun di exit tol Probolinggo barat. Akhirnya, “Kota Transit”, bukan. Apalagi menjadi “Kota Tujuan”.
Bagaimana dengan wisatawan yang ke Gunung Bromo? Ternyata, banyak stay di kawasan wisata Bromo. Bukan di Kota Probolinggo. Bahkan saat ini, menginapnya di Surabaya dan Malang.
Padahal, menurut catatan Balai Besar TNBTS, tahun 2025 saja, kunjungan wisatawan mencapai 600.000 orang.
Bisa dibayangkan, kalau mereka menginap dan berbelanja di Kota Probolinggo. Omzet dan perputaran uang di Kota Probolinggo bakal naik. Produk UMKM lokal laku diborong wisatawan. Rumah makan ramai pengunjung. Okupansi hotel dan guest house full booked.
Pemkot Probolinggo melihat potensi ini. Mengincar wisatawan domestik dan mancanegara, agar berlama-lama di Kota Probolinggo. Menginap, makan dan berbelanja oleh-oleh khas Kota Probolinggo.
Demikian juga, warga lokal tidak perlu liburan ke luar kota. Karena, sudah disiapkan event menarik yang murah meriah.
Maka, dibuatlah Semipro. Sebuah event yang tidak menjual wisata alam (karena tidak punya) selama 7 hari full. Siang dan malam. Event-nya beragam. Mulai seni budaya lokal. Hiburan musik dan olahraga. Hingga pameran produk UMKM, otomotif, perbankan dan ekonomi kreatif lainnya.
Lalu, bagaimana dengan Semipro saat ini?
Pameran Jadi Pasar Malam
Ada pergeseran konsep pameran. Dari tahun ke tahun, pameran berubah menjadi pasar malam. Peserta pameran mayoritas bukan warga Kota Probolinggo. Mereka tidak menjual produk UMKM lokal atau ekonomi kreatif lainnya. Hanya makanan dan minuman. Termasuk pakaian dan alat-alat kebutuhan rumah tangga.
Untuk menarik pengunjung, mereka membawa permainan anak. Seperti odong-odong, komedi putar, istana boneka, ontang anting dan kora kora.
Pendek kata, Semipro memang ramai pengunjung. Tapi bukan untuk membeli produk UMKM. Tapi membeli produk pasar malam.
Hal ini yang selalu dijadikan indikator keberhasilan pelaksanaan Semipro setiap tahunnya. Pemkot Probolinggo menghitung omset selama seminggu. Padahal, omset tersebut tidak berputar di Kota Probolinggo. Melainkan dibawa ke luar Kota Probolinggo.
Warga lokal tidak berbelanja produk asli Kota Probolinggo. Tapi, produk dari luar Kota Probolinggo. Tidak menaikkan pendapatan warga Kota Probolinggo. Sebaliknya, menaikkan pendapatan warga luar Kota Probolinggo.
Karena itu, omset yang dilaporkan itu hanyalah pendapatan semu. Tidak riil. Lalu di mana letak kesuksesan Semipro?
Pawai Budaya, Jangan Latah!
Salah satu acara yang ditunggu warga Kota Probolinggo adalah pawai budaya. Sesuai dengan namanya, yang ditampilkan tentu budaya lokal. Termasuk kreativitas lain yang betul-betul berasal dari Kota Probolinggo. Bukan asal men-jiplak event daerah lain.
Masalahnya, kadang latah mengadopsi event daerah lain. Setelah jadi, hasilnya jauh dari yang di-jiplak. Penampilannya tidak semenarik aslinya. Bahkan terkesan asal-asalan. Padahal, masih banyak budaya lokal yang bisa dieksplorasi dan dikreasi menjadi tampilan yang menarik.
Seharusnya, peserta pawai bisa disiapkan jauh-jauh hari. Berkolaborasi dengan para pelaku seni budaya. Mendiskusikan konsep yang akan dibawakan. Sehingga pawainya bukan ala kadarnya. Tapi benar-benar menampilkan potensi lokal.
Jika ingin melibatkan daerah lain, undang mereka sebagai peserta. Ini pernah dilakukan sebelumnya. Beberapa daerah ikut berpartisipasi.
Mereka datang tidak hanya sebagai peserta. Tapi juga menginap dan berbelanja. Termasuk mengunjungi tempat wisata di Kota Probolinggo.
Pun sebaliknya. Ketika mereka menggelar event serupa, maka Kota Probolinggo mengirimkan kontingen pawai budaya. Kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak.
Kolaborasi Antarpelaku Wisata
Salah satu kunci sukses pelaksanaan Semipro bukan hanya di acara. Melibatkan stakeholder lain juga sangat menentukan. Tanpa dukungan dan kolaborasi yang baik, event Semipro kurang greget. Bahkan, akan menjadi event tanpa makna.
Stakeholder yang bisa dilibatkan seperti hotel, restoran, UMKM dan travel atau pengusaha transportasi. Termasuk perusahaan swasta. Pemkot Probolinggo harus duduk bareng. Mengajak bekerjasama dan berkontribusi selama Semipro.
Misalnya membuat program diskon selama seminggu. Hotel, restoran dan travel wajib memberikan diskon khusus. Warga Kota Probolinggo dan luar kota, bakal merasakan atmosfer yang berbeda dibanding hari biasanya.
Tamu mendapat welcome drink, minuman khas Kota Probolinggo saat menginap. Pun demikian di restoran ada menu khusus selama Semipro. Untuk transportasi, disiapkan informasi seputar Semipro. Toko-toko membuat big sale.
Bagi pelaku UMKM, menyiapkan produk terbaiknya. Jangan sampai, pengunjung sulit mencari oleh-oleh. Suguhan makan dan minum Semipro, menggunakan produk UMKM.
Selain meningkatkan pendapatan UMKM. Bisa menjadi peluang untuk mendapat pesanan dari luar kota.
Dengan banyak fasilitas menarik, Semipro akan ditunggu-tunggu. Karena ada yang berbeda dari hari biasa. Bukan hanya acaranya. Tapi juga layanannya.
Berbasis Komunitas
Bagaimana cara mendatangkan pengunjung dari luar kota? Salah satunya menggelar event berbasis komunitas. Bisa disesuaikan dengan kalender event di tingkat nasional, maupun regional. Mereka pasti datang karena sudah terjadwal.
Beberapa event yang pernah digelar di Kota Probolinggo misalnya, lari, balap sepeda hingga lomba burung berkicau. Untuk tingkat lokal yang rutin digelar setiap event Semipro adalah karapan kambing dan karapan sapi brujul.
Event tersebut banyak diikuti peserta luar kota. Mereka datang sebelum event digelar. Mereka butuh tempat menginap, tempat makan hingga oleh-oleh. Mereka akan membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sebelum dan selama event berlangsung.
Karena berbasis komunitas, maka akan mudah memobilasi pengunjung. Baik sebagai peserta atau hanya menonton.
Promosi Lebih Awal
Bagaimana mungkin orang luar Kota Probolinggo mau datang ke Semipro, jika informasinya disampaikan mendekati acara? Sementara, warga lokal dan luar kota, sudah mengagendakan liburan ke daerah lain.
Karena itu, woro-woro Semipro harus dilakukan lebih awal (pre event branding). Buatkan teaser-teaser yang membuat penasaran pengunjung. Buatlah tagline yang mudah diingat. Video singkat. Kuis interaktif. Termasuk membuat count down.
Melakukan konferensi pers. Tidak hanya lokal. Tapi regional atau nasional. Maka, informasinya akan tersebar masif. Tidak hanya dalam negeri. Bisa juga ke luar negeri.
Kalau hanya tingkat lokal, apalagi berdekatan dengan acara, informasinya akan terbatas. Kunjungan warga luar kota tidak akan maksimal. Karena untuk berlibur, mereka sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Menghitung budget hingga menyiapkan semua kebutuhannya.
Promosi tidak hanya offline. Tapi bisa online. Era medsos seperti saat ini, tidak sulit untuk menginformasikan sebuah event. Bukan hanya acaranya. Tapi bisa promosi pendukung lainnya. Misalnya destinasi wisata di Kota Probolinggo.
Informasi seputar hotel, rumah makan, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata, juga dibutuhkan. Menyiapkan map barcode untuk memudahkan pengunjung. Termasuk contact person dan sekretariat kegiatan.
17 tahun sudah Semipro digelar. Saatnya kembali ke khittah. Seperti tujuan awal dibuatnya event tahunan ini. Yakni: event yang membuat warga lokal tidak berlibur ke luar Kota Probolinggo. Sementara, warga luar kota datang berlibur ke Kota Probolinggo. (*)
Editor : Muhammad Fahmi