Jalur Kereta Api Menuju Pasuruan Kritis, DJKA Rencanakan Relokasi Lintasan

BANGIL, Radar Bromo– Selama 20 tahun sudah ditinggikan 3 meter. Namun, jalur kereta api penghubung Surabaya-Pasuruan-Malang yang melintasi kawasan Lumpur Lapindo masih terus ambles. Relokasi pun diusulkan sebagai solusi.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan mengatakan, kondisi lintasan saat ini sudah memasuki fase kritis. Selama hampir dua dekade, jalur kereta terus ditinggikan untuk menyesuaikan dengan penurunan permukaan tanah.
“Selama kurang lebih 20 tahun, elevasi jalur sudah dinaikkan hampir tiga meter dari kondisi awal. Namun pada periode 2022 hingga 2026 masih terjadi penurunan sekitar satu meter. Ini menunjukkan stabilitas jalur sudah berada pada kondisi kritis,” ujarnya.
Di sisi lain, jalur kereta api yang melintasi kawasan Lumpur Lapindo merupakan bagian dari lintas utama Surabaya–Pasuruan–Malang. Serta jalur menuju wilayah timur Jawa.
Gangguan pada lintasan tersebut berpotensi memengaruhi operasional perjalanan kereta api di kawasan Pasuruan dan sekitarnya apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Dengan kondisi kritis, upaya peninggian maupun pengembangan infrastruktur di lokasi tidak lagi layak dilakukan sebagai solusi permanen.
Karena itu, Direktorat Jendral Perkeretaapian (DJKA) menyiapkan langkah penanganan bertahap.
Dalam jangka pendek, perawatan rutin tetap dilakukan melalui peninggian jalur. Termasuuk pemadatan lintasan menggunakan Multi Tie Tamper (MTT), serta penambahan batu balas.



