Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dua Tahun Proyek Umbulan Berjalan, Warga Rasakan Debit Irigasi Menurun

Ronald Fernando • Rabu, 31 Mei 2023 | 17:08 WIB
SEGAR: Kawasan di sekitar mata air Umbulan di Kecamatan Winongan. Sudah dua tahun ini air dari Umbulan dimanfaatkan untuk ribuan masyarakat di Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
SEGAR: Kawasan di sekitar mata air Umbulan di Kecamatan Winongan. Sudah dua tahun ini air dari Umbulan dimanfaatkan untuk ribuan masyarakat di Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
SEMENJAK diresmikan Presiden Joko Widodo tahun 2021 silam, proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan sudah bisa dinikmati ribuan masyarakat di lima daerah. Proyek strategis nasional tersebut sudah berjalan sekitar dua tahun. Mata air yang punya debit 5.000 liter per detik itu mulai terpengaruh.

Hanya sedikit yang berubah di lokasi mata air Umbulan. Warga masih diperbolehkan masuk di sekitar mata air. Aktivitas seperti mencuci masih terlihat, yang umumnya dilakukan warga Desa Umbulan dan sekitar.

Jika melihat sumber yang tertampung, secara kasat mata memang tidak terlihat ada perubahan besar. Kolam masih penuh akan air. Begitu juga sumber buangan air yang ada di kawasan Umbulan. Masih sama seperti sebelum proyek SPAM Umbulan ada. Jauh sebelum transmisi pipa mata air terpasang.

Tetapi, perubahan yang dirasakan warga adalah mereka yang punya lahan sawah dan memanfaatkan saluran mata air Umbulan. Setahun ini, mereka merasakan saluran irigasi debitnya berkurang.

Kondisi ini makin terasa kurun dua tahun terakhir. Atau sumber mata air sudah mulai disalurkan lima daerah.

Chusnul Arifin, salah seorang warga Desa Sidepan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, mengatakan, semenjak proyek Umbulan resmi dialirkan, saluran air mulai berkurang. Namun, itu tak langsung. Berkurangnya debit air terjadi perlahan.

"Perlahan. Sedikit-sedikit gitu. Terasanya paling ketara ya kalau musim kemarau. Seperti tahun lalu," katanya saat didatangi Jawa Pos Radar Bromo.

Chusnul mengaku, jika kemarau debitnya semakin menurun. Bahkan, pada 2022 lalu, para petani pernah melakukan pembersihan saluran irigasi. Sampah, rumput, dan benda-benda lain yang dianggap menghalangi laju air, dibuang.

"Kami sampai ke hulu. Kami kerja bakti bersama para petani. Ini saking kecilnya debit air yang keluar," terangnya.

Kepala Desa Sidepan Muhammad Musa menambahkan, air yang mengalir ke daerah persawahan di desanya itu merupakan limpahan dari arah timur sumber air utama Umbulan. Karena itu, jika air berkurang, tak ada tambahan yang bisa dimasukkan.

"Kami meminta agar ada DAM. Tujuannya, untuk mengatur sumber air yang keluar ke saluran irigasi. Kasihan para petani. Kalau musim hujan nggak begitu terasa. Tapi, kalau kemarau ya terasa sekali," tuturnya.

Meskipun begitu, memang tak pernah ada penelitian jika debit irigasi berkurang setelah ada proyek. Warga mengklaim debit air yang berkurang itu hanya dengan melihat secara kasat mata ketinggian air di saluran irigasi.

Di sisi lain, Kepala UPT PSDA WS Welang Pekalen Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur Anton Dharma mengatakan, pihaknya belum mengetahui terkait keluhan warga soal debit irigasi yang berkurang. Menurutnya, selama ini tak ada laporan penurunan debit air.

Bahkan, berdasarkan penghitungannya, debit air yang masuk ke saluran irigasi berlebih. "Berdasarkan hitungan air yang masuk ke sawah itu dua liter per detik per hektare. Dan itu lebih dari kebutuhan sawah," katanya.

Karena itu pula, Anton mengaku, pihaknya bakal melakukan pengoptimalan penggunaan air di saluran irigasi itu. Optimalisasi dilakukan dengan cara pembangunan pintu air. Fungsinya untuk mengontrol saluran air.

"Kebutuhan sawah itu hanya satu liter per detik per hektare sawah. Dan itu yang cukup. Kalau selama ini, saya kira enggak ya (terjadi penurunan debit, Red)," tandasnya.

Namun demikian, pihaknya bakal mengecek langsung. Apakah memang ada penurunan debit. "Nanti kami cek. Ini kan masih hujan. Kalau kemarau ya mungkin aja," tandasnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pasokan Kompensasi SPAM Belum Merata

Sebelum SPAM Umbulan jalan, tarik ulur proyek bernilai triliunan rupiah ini sempat terjadi. Musababnya, masih banyak daerah di Kabupaten Pasuruan yang belum tercukupi kebutuhan air bersih.

Photo
Photo
BIAR LANCAR: Warga Sidepan gotong royong membersihkan saluran air untuk irigasi dari Umbulan agar air lancar. Sebagian warga Sidepan yang irigasinya memanfaatkan limpahan mata air Umbulan mengaku, debit air mulai berkurang. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

Agar mulus, pemerintah pusat memberikan kompensasi penyediaan air bersih kepada masyarakat. Bukan hanya untuk warga sekitar Umbulan saja. Tapi, kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pasuruan.

Hanya saja kompensasi ini belum maksimal. Tilik saja seperti di Desa Sidepan. Masih ada beberapa daerah yang belum teraliri.

Kepala Desa Sidepan, Kecamatan Winongan, Muhammad Musa mengatakan, di desanya sudah terpasang pipanisasi. Setiap hari, air bersih mengalir ke rumah-rumah warga.

"Kalau mengalir memang iya sudah mengalir. Tapi, nggak lancar. Sehari itu hanya dua kali. Pagi dan sore," katanya.

Tentu saja kondisi tersebut tidak membuat nyaman. Sebab, pagi dan sore itu hanya mengalir selama dua jam. Padahal, waktu itu kebutuhan air masyarakat cukup tinggi. "Warga sangat butuh. Kalau hanya dua jam, nggak cukup. Ngisi air di kamar mandi kan nggak cukup," ungkapnya.

Pihaknya telah membangun tandon air. Tapi, masih belum terisi karena beberapa alasan.

Hal senada juga dikatakan oleh Sekretaris Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Iksan. Menurutnya, di desanya sudah terpasang pipanisasi. Bahkan, dari enam dusun, satu di antaranya telah teraliri. "Sudah termanfaatkan satu dusun. Tinggal lima lagi. Insyaallah tahun ini semuanya sudah termanfaatkan," ungkapnya.

Tak termanfaatkannya pipanisasi yang telah terpasang bukan tanpa alasan. Itu, disebabkan karena pemasangan yang dilakukan secara asal-asalan. Sehingga, kini pihaknya melakukan perbaikan sendiri."Ini kami yang memperbaiki. Yang dulu asal-asalan," ungkapnya.

Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Ridwan Harris mengklaim bahwa adanya proyek SPAM Umbulan membantu mengatasi kekeringan yang ada di daerahnya. Utamanya sekitar Umbulan sendiri.

"Sangat membantu. Sekarang angka daerah yang mengalami kekeringan menurun drastis," katanya.

Seperti halnya di Desa Umbulan, Sidepan, Kedungrejo, Jeladri. Semuanya kini bisa merasakan manfaatnya. Walaupun mungkin tak seratus persen satu desa, tapi minimal ada dua tiga dusunnya yang sudah merasakan.

"Kecamatan Lumbang sekarang tinggal dua desa. Dulu ada beberapa. Yang pasti sangat terbantu," ungkapnya.

Bukan hanya pipanisasi di desa-desa. Pemerintah pusat di tahun 2022 menggelontorkan uang Rp 35 miliar untuk pembangunan jaringan pipa ke rumah-rumah warga di empat kecamatan. Masing-masing Pohjentrek, Rejoso, Gempol, dan Beji. Lebih dari 3 ribu sambungan rumah sudah direalisasikan.

Menurut Kepala Bidang Cipta Karya Dinas SDA, Cipta Karya, dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan Hario Hartoko, pemerintah pusat mengucurkan lagi anggaran besar untuk menyokong program pembangunan jaringan pipa untuk rumah tangga. Setidaknya Rp 17 miliar dialokasikan melalui dana alokasi khusus (DAK) 2023. Proyeksinya, sekitar 1.700 SR bakal direalisasikan.

 

Semua Reservoir SPAM Termanfaatkan

Sampai saat ini, reservoir kompensasi dari proyek SPAM Umbulan terus dikerjakan. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pasuruan mengklaim, pemanfaatannya sudah mencapai 80 persen.

Photo
Photo
MASIH DITEMUI: Warga mencuci di sekitar area mata air Umbulan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Ada lima reservoir yang dibangun. Lima reservoir  tersebut pengelolaannya diserahkan kepada PDAM Kabupaten Pasuruan. Reservoir di Kecamatan Rejoso, Rembang, Beji, Gempol, dan Kraton. Pada 2021 lalu, hanya dua yang termanfaatkan. Tapi, tahun ini diklaim termanfaatkan semuanya.

Kepala Bagian Teknik PDAM Kabupaten Pasuruan Eko Christian mengatakan, tahun ini semua reservoir akan aktif semua. Reservoir akan mengaliri 24 desa di 5 kecamatan. Jika dihitung sekitar 80 persen.

"Untuk reservoirnya sudah 80 persen tahun ini. Jadi semuanya sudah melayani masyarakat," tuturnya.

Ia menjelaskan, meskipun begitu, sebenarnya masih jauh dari target. Pasalnya, pemanfaatan reservoir itu diharapkan mampu menjaring sebanyak 23 ribu pelanggan. Target itu, dipatok hingga 2024.

"Rencana awal pemanfaatan sambungan rumah ditargetkan 23.000. Tapi, sampai sekarang ini yang sudah terpasang 9.980 sambungan rumah tangga," ungkapnya.

Tahun ini, pihaknya juga merencanakan pembangunan jaringan dan SR. Tapi, perihal pendanaan masih diusulkan ke Kementerian PUPR. Ia juga mengklaim, telah ada daftar tunggu yang sudah terjaring sebanyak 1.700 sambungan.

Support dana dari kementerian miliaran rupiah tersebut memang  masih banyak kendala yang dihadapi. Para calon pelanggan sambungan rumah tidak memenuhi target. Selain itu, banyak masyarakat saat pekerjaan pemasangan jaringan, memilih mundur. Mereka tidak jadi berminat.

"Kami terus memaksimalkan untuk pelayanan. Hingga nanti bisa terpenuhi," tutur Eko Christian. (sid/fun) Editor : Ronald Fernando
#mata air umbulan #sumber air #air bersih #proyek spam umbulan