Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kunci Sukses Dunia Akhirat

Jawanto Arifin • Jumat, 29 Mei 2020 | 16:30 WIB
Photo
Photo
SETIAP orang pasti ingin sukses. Mulai sukses dalam pekerjaan, keluarga, pendidikan, dan lainnya. Biasanya untuk mencapai kesuksesan, setiap orang akan bekerja keras. Karena secara fitrah, manusia ingin mendapatkan kesuksesan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Islam mengajarkan sukses tidak hanya urusan dunia. Tapi ada yang lebih hakiki, yakni sukses di akhirat. Untuk mencapai semua itu, Allah SWT memberikan panduan dalam Alquran Surat Hud ayat 112 yang artinya: "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat besertamu dan janganlah kamu melampaui batas."

Ibnu Katsir menjelaskan, Allah SWT memerintahkan Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk teguh dan selalu tetap istiqamah. Sebab, hanya itulah cara terbaik untuk mendapatkan pertolongan untuk meraih kemenangan atas musuh-musuh. Selain itu, bisa menghindari bentrokan dan terhindar dari perbuatan melampaui batas.

Jika diklasifikasi, ada tiga perkara utama. Pertama, istiqamah. Kedua, bersama orang-orang yang tobat. Ketiga, tidak melampaui batas.

Istiqamah sangat penting. Karena tanpa keistiqamahan iman dan Islam seseorang akan mudah goyah, rapuh, dan pada akhirnya runtuh. Karena itu, ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi perihal urusan paling penting dalam hidup yang ia tidak perlu bertanya kepada siapapun. Nabi berpesan tegas,”Katakanlah aku beriman lalu istiqamahlah." (HR Muslim).

Istiqamah yang dimaksud adalah terhadap segala hal yang diperintahkan Allah SWT. Ini berarti tidak ada yang lebih patut diutamakan dalam hidup ini, selain menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bagaimanapun situasi dan kondisinya. Misalnya, perintah salat. Apapun kondisinya, menjalankan salat harus istiqamah sampai akhir hayat.
Seperti yang kita tahu, di zaman sekarang, banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk sukses. Mulai menjadi koruptor, pengedar narkoba, hingga menjadi pelaku kejahatan. Hal tersebut semata-mata mereka lakukan demi mendapatkan kesuksesan. Padahal, semua itu akan mendapat ketidaktenangan batin.

Sedangkan orang yang Istiqamah, akan senantiasa berusaha dan berjuang dalam ketaatan kepada Allah SWT. Orang tersebut akan menjalani kehidupannya sesuai dengan ketentuan syariat. Dengan keistiqamahan, niscaya pintu keberhasilan akan dibukakan oleh Allah SWT.

Selanjutnya, bersama orang-orang yang bertobat. Artinya, untuk menjaga keistiqamahan, kita harus memperhatikan lingkungan. Tidak sembarangan bergaul, sehingga akan menggoyahkan keistiqamahan kita. Karena pada dasarnya, lingkungan akan sangat berpengaruh kepada kehidupan kita. Pada saat kita berkumpul dengan komunitas orang yang suka beribadah. Maka, kita akan ikut beribadah. Demikian juga kalau kita berkumpul dengan pelaku kejahatan, kita juga ikut di dalamnya.

Terakhir, tidak melampaui batas. Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Allah SWT juga melarang untuk berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Karena itu sikap yang tercela dan dilarang syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya dan tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.

Allah berfirman dalam Alquran Syrat Al Maidah ayat 77 yang artinya: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.
Beribadah, salat sunah, misalnya, tidak dianjurkan sampai semalam suntuk. Termasuk bersedekah, juga tidak boleh berlebihan. Apalagi kemudian harus hidup kesulitan, misalnya sampai meminta-minta. Tapi, beribadah itu sesuai dengan kemampuan. Karena amal terbaik menurut Allah SWT adalah yang dikerjakan secara istiqamah, meski sedikit.
Pernah pada masa Rasulullah SAW seorang sahabat tidak mau makan (puasa terus-menerus), tidak mau tidur (salat malam semalam suntuk), bahkan tidak pula mau membersamai istrinya. Rasulullah SAW menegur dan mengatakan, hiduplah sebagaimana Nabi hidup. Ada kalanya puasa, tapi juga tetap berbuka. Mengisi malam dengan salat. Tetapi juga tetap tidur. Dan tidak meninggalkan kewajiban membersamai istri. Wallahu A’lam. (*) Editor : Jawanto Arifin
#kajian jumat #hm buchori #mantan wali kota probolinggo