Mulai dari PKL kuliner, hingga jasa sewa penginapan seperti vila, mengaku pemasukannya turun drastis. Tilik saja seperti di daerah Tanjung hingga Magersari, di Kelurahan Pecalukan. Sejak petang hingga menjelang subuh, tempat ini lengang. Pun demikian dengan jalan Arjuno, depan hotel Surya. Jejeran lapak PKL tak lagi banyak.
“Pengunjungnya sangat minim dan sepi sekali. Ada, tapi sedikit. Itu, terjadi dari sore hingga malam hari. Omzet kami dapatkan juga lainnya turun hingga 80 persen,” ucap Yasin, 45, pedagang nasi goreng asal Kelurahan Pecalukan.
Ia menuturkan, kalaupun ada, pembeli jarang yang duduk atau marung. Kebanyakan bungkus dan langsung dibawa pulang. Para pembelinya juga hanya didominasi warga sekitar. Sementara pembeli dari wisatawan luar daerah, minim sekali.
“Karena ada imbauan dari muspika untuk social distancing terkait virus korona, tiap stan PKL di masing-masing lapaknya dibuatkan tulisan ‘Pesan, bungkus, dan dibawa pulang. Terasa sekali dampak ekonominya bagi kami para PKL kuliner,” tukasnya.
Keluhan serupa juga di rasakan pengelola dan penjaga vila kamaran di kawasan wisata Tretes. Seperti di Pesanggrahan, Watuadem, Magersari, Pecalukan, dan lainnya. Selama ini menjadi jujukan tamu bermalam maupun sekedar singgah dan istirahat dari luar daerah. Saat weekend, biasanya pengunjung dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto, berdatangan. Tetapi saat ini sangat jarang.
“Untuk vila kamaran, tamu yang bermalam di hari normal selalu ada. Sekarang sejak adanya virus korona ini sepi sekali. Bahkan, seharian tidak ada sama sekali. Pusing merasakannya, mudah-mudahan wabah ini segera sirna,” ujar salah seorang penjaga vila kamaran di Pesanggrahan yang enggan disebutkan namanya. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin