Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sembunyi-sembunyi Konsumsi Pil KB

Fuad Alyzen • Sabtu, 25 April 2026 | 11:10 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

USIA Nikmah (nama samaran) yang sudah memasuki seperempat abad membuat wanita asal Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan ini selalu dituntut untuk segera menikah.

Kata orang tuanya, itu sudah masuk perawan tua. Dengan berat hati Nikmah akhirnya mengiyakan saat dijodohkan dengan seorang anak dari kawan ibunya.

Sebelum menikah, Nikmah sempat ingin minggat dari rumah. Dia mengaku belum siap untuk mengurus rumah tangga.

Apalagi pria yang dijodohkannya, belum bekerja. Bahkan saat dikenalkan pertama kali, Nikmah sempat tak yakin.

Tapi karena desakan orang tua, Nikmah akhirnya menerima pinangan. Dia cuma meminta syarat agar tetap diperbolehkan bekerja. “Saya hanya takut, karena alasan ekonomi, rumah tangga berantakan,” kata Nikmah.

Hingga pertengahan 2025 lalu, dia resmi menjadi istri dari Faiz (juga nama samaran). Pria yang lebih tua lima tahun dari Nikmah. Pernikahan mereka digelar sederhana. Hanya mengundang keluarga dan orang terdekat.

Tak disangka, sebulan setelah menikah, Faiz mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan yang ada di Pandaan. Nikmah pun lega karena suaminya sudah memiliki penghasilan tetap walaupun statusnya masih karyawan kontrak.

Nikmah juga senang karena sang suami tak menyuruhnya untuk berhenti bekerja.

“Karena sedari awal saya memang tau mau menumpukan beban kepada suami. Apalagi di rumah ada ibu yang sudah sepuh. Dua kakak saya juga sudah berkeluarga semua,” kata Nikmah.

Penghasilan Nikmah memang tak seberapa besar. Dia hanya bekerja di sebuah gerai UMKM yang tentu saja upahnya tak sebesar UMK. Sementara suaminya yang berstatus karyawan kontrak, juga sama.

Sehingga mereka memutuskan untuk menunda kehamilan dahulu, sampai Faiz nantinya diangkat menjadi karyawan tetap.

Nikmah menyadari, sebenarnya sang suami tak ingin menunda kehamilan. Sebab usianya sudah kepala tiga.

“Tapi dari hitung-hitungan ekonomi, rasa-rasaya tak cukup bila kami memiliki anak. Apalagi kami masih menumpang di rumah orang tua,” kata Nikmah.

Beberapa kali Faiz dan Nikmah bertengkar hanya karena persoalan “karet pengaman” Suaminya mengaku selalu tak nyaman jika disuruh memakai alat pencegah kehamilan. Alasannya, sudah menikah mengapa harus pakai pengaman segala.

Hingga Nikmah akhirnya berkonsultasi ke kawannya yang merupakan seorang bidan. Dia disarankan untuk mengkonsumsi pil KB. Meski ada risikonya, Nikmah akhirnya memakai cara itu.

“Saya harus sembunyi-sembunyi sampai saat ini. Karena bila ketahuan, saya yakin suami pasti marah. Pil-pil itu tidak saya bawa pulang. Tapi taruh di rak tempat saya bekerja,” beber Nikmah.

Genap setahun pernikahannya, tentu ada omongan miring yang harus didengarnya. Terutama dari mertuanya yang sudah mulai menagih anak. Alasannya, mertua ingin menggendong cucu.

Nikmah pun selalu punya alasan untuk menjawab. “Paling simple ya bilang saja belum diberi kepercayaan. Hingga saya pernah mau diajak untuk periksa ke dokter. Tapi begitu tahu harganya, suami jadi mundur dan percaya bahwa anak adalah anugerah dari sang kuasa.

“Mertua juga sebenarnya sudah memiliki cucu dari kakak-kakak suami. Sehingga sampai saat ini, saya masih sembunyi-sembunyi mengkonsumsi pil KB,” kata Nikmah. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pil kb #pernikahan #hamil