KALAU saja Samsul (nama samaran), 30, tak dipenjara, mungkin rumah tangganya masih utuh. Dia ditinggal Maimunah (juga nama samaran), 29, yang akhirnya tak tahan karena rasan-rasan tetangga hingga kemudian malu jika punya suami mantan narapidana.
Semuanya berawal saat Samsul kecanduan judi online. Aktivitas yang sebenarnya Samsul ketahui dilarang oleh agama. Bahkan, saat dia masih kecil, dia begitu membenci yang namanya judi.
“Tapi saat kerja di pabrik, teman-teman pada main semua. Akhirnya ketularan karena saya ada di circle itu,” kata pria asli Kabupaten Pasuruan itu.
Pernikahan Samsul dan Maimunah sebenarnya juga baru seumur jagung. Belum genap tiga tahun. Mereka menikah saat pandemi lalu.
Kenalan dari teman yang membuat Samsul dan Maimunah berpacara hingga lanjut ke jenjang pernikahan.
Saat mengenal pertama kali, Maimunah menganggap Samsul layak jadi imam. Selain pengurus takmir masjid di kampungnya, Maimunah menilai Samsul adalah sosok yang visioner. Betapa tidak, saat mereka berpacaran, Samsul sudah merancang bagaimana jika dia berumah tangga kelak.
“Membeli rumah dan menabung buat pendidikan anak. Apalagi setelah lulus kuliah, kami sudah sama-sama berpenghasilan,” kenang Samsul.
Di awal menikah, rumah tangga keduanya juga bahagia. Meski mereka belum dikaruniai anak, Samsul menganggap belum rezekinya. “Mantan saya juga menganggap, anak itu anugerah dari Allah yang Mahakuasa,” terang Samsul.
Di situlah keuangan Samsul dan Maimunah terbilang berlebih. Mereka bisa menabung dan menggemukkan rekening. Keduanya juga makin giat bekerja dan tak merasa terbebani walau banyak keluarga yang bertanya: “Kapan mau punya momongan?”
Samsul biasanya menjawab, “Nunggu dikasih sama Allah. Meski sebenarnya ada sih rasa-rasa stres jika ditanya ibu kandung,” kata Samsul.
Hingga suatu ketika, Samsul yang terbilang kelebihan uang, tersandung judi. Dia tidak ingat apa alasannya saat bertaruh pertama kali di sebuah situs. “Padahal saya dulunya anti. Tapi pas lihat serunya teman-teman bermain slot, saya kok tertarik,” kata Samsul.
Mulanya, dia hanya menaruh deposito dengan angka ratusan ribu rupiah. Pernah beberapa kali menang, walau lebih banyak kalahnya.
Dari ketegangan-ketegangan itulah, dia merasakan judi bisa jadi hobi. “Tiap kali istirahat di pabrik, kami berkumpul dan main slot bareng. Haduh…haduh…” katanya.
Deposito yang dibuat Samsul makin besar. Dari yang awalnya ratusan ribu, merambah ke jutaan rupiah. Dan itu semua dari uang gajinya hingga Maimunah mulai curiga terhadapnya.
Tapi Samsul selalu ngeles saat ditanya, ke mana saja uangnya. “Saya selalu beralasan, baru kirim ke adik yang butuh biaya kuliah. Padahal, amblas,” terangnya.
Celakanya, Samsul tak hanya menggunakan uang gajinya. Dia mulai tergiur untuk berbuat kriminal, seperti yang dilakukan kawan-kawan di tempat kerjanya.
Barang yang stock opname digelapkannya. Uang dari penjualan barang haram itulah yang dia gunakan untuk menaruh deposito di situs judi online.
Singkatnya, perbuatannya diketahui tempat kerja. Samsul langsung dipecat. Bahkan dia dipidanakan. Maimunah pun mengetahui perbuatannya. Samsul langsung menangis sesenggukan saat dia disambangi di tahanan.
“Saya bilang khilaf dan dia (Maimunah, red) seperti kecewa berat. Tapi saya berbohong, kenapa bisa sampai mencuri. Saya ndak bilang kalau kecanduan judol. Saya malu kalau ngaku,” kenang Samsul.
Setelah melalui proses pengadilan, Samsul akhirnya divonis penjara 9 bulan. Dia hanya meratapi nasibnya.
Di bulan keempat dia mendekam, tiba-tiba datang surat dari pengadilan agama. Samsul digugat cerai Maimunah. Alasannya, dia tak bisa memberikan nafkah.
“Saya sudah curiga karena saat di awal saja dia menjenguk. Sebulan terakhir termasuk ketika bulan puasa, nggak blas. Sampai muncul surat gugatan,” kata Samsul.
Begitu melihat surat gugatan, dia tidak merasakan kapan dia akan keluar. Nasi di dalam penjara juga sudah tidak berasa lagi, walaupun lauk kiriman dari ibunya dimasakkan istimewa. Dia hanya ingin segera keluar dan menanyakan ke Maimunah langsung.
Samsul baru bisa menemui Maimunah setelah Idul Fitri. Dia langsung menangis dan bertanya, namun tidak ada jawaban tegas dari wanita yang dicintainya tersebut.
“Dia hanya bilang, saya sudah membuat kecewa. Kata-kata taubat yang saya ucapkan, tidak didengarnya. Dia bilang, malu punya suami seperti saya karena jadi narapidana,” beber Samsul.
Hingga setelah dia bebas, dia langsung pulang ke rumah ibunya dan melihat lemari di kamarnya, sudah tak ada lagi baju-baju Maimunah. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid