Setelah bertahun-tahun menutup hati, Yolanda (nama samara) mulai berani membuka diri kembali. Empat belas tahun lalu, ia pernah memiliki seseorang yang begitu ia sayangi. Lelaki itu memperlakukannya bak ratu. Selalu ada dan perhatian tanpa batas. Namun, takdir berkata lain. Hubungan mereka kandas meninggalkan luka yang dalam.
KEHILANGAN itu membuat Yolanda terpukul. Selama setahun penuh, hidupnya serasa berantakan. Berat badannya turun drastis, pikirannya kacau dan kesehariannya dipenuhi kehampaan. “Aku kehilangan seseorang yang selalu ada untukku,” kenangnya.
Meski begitu, waktu akhirnya membantunya bangkit. Namun, satu hal yang ia sadari, hatinya tak mudah terbuka lagi. Ia memiliki tipe lelaki idaman, lembut, cerdas, dan mampu memimpin.
“Aku keras kepala dan kadang teledor, jadi aku butuh seseorang yang bisa membimbing dengan bijaksana, bukan mengontrol,” ujarnya.
Sayangnya, mayoritas pria yang ia kenal merasa dirinya "sulit diatur." Padahal, masalahnya ada pada cara komunikasi yang kurang tepat, bukan karena ia membangkang.
Tahun 2025, Yolanda bertemu Tirta, seorang pria enam tahun lebih tua darinya. Mereka bekerja di bidang yang sama. Di bidang komunikasi dan informatika, sehingga kerap bertemu di lapangan.
Awalnya, hubungan mereka sebatas rekan kerja. Seiring waktu, pertemuan demi pertemuan mengubah semuanya. “Awalnya biasa saja, tapi semakin sering ngobrol, aku makin tertarik. Cara pikirnya, caranya menanggapiku saat curhat, bagaimana ia memberi solusi. Itu yang membuatku jatuh hati,” kata Yolanda yang asli Kota Probolinggo ini.
Mereka semakin dekat. Setiap hari saling berkabar, dari urusan pekerjaan hingga hal-hal sepele. Suatu malam, Yolanda iseng mengeluh lapar dan menyebut beberapa makanan yang ia inginkan. Tirta hanya membalas singkat dan langsung memngirimkan makanan.
Yolanda yang sudah mengantuk hanya bisa menolak. Meski dalam hatinya ia senang sekaligus tersentuh. “Ada, ya, orang yang segitunya cuma gara-gara aku bilang lapar, langsung mengirim makanan,” pikirnya sambil tersenyum.
Selain itu, Tirta memiliki hobi menyanyi dan sering tampil di kafe. Yolanda pun suka bernyanyi. “Pernah ingin tampil bareng, tapi aku malu. Suaraku nggak sebagus dia,” akunya.
Hingga mereka mulai sering pergi berdua. Dari warung mi ayam hingga kedai es krim, setiap tempat menyimpan kenangan. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika mereka menikmati es krim sari kedelai. Di sanalah, untuk pertama kalinya, Yolanda berbicara tentang keluarganya.
Ia bercerita tentang orang tuanya yang keras dan disiplin. Bukan tanpa alasan, ia ingin Tirta siap menghadapi mereka jika suatu saat hubungan mereka semakin serius. “Aku ingin dia tahu medan sebelum bertempur,” ujarnya setengah bercanda.
Namun, kebersamaan mereka mulai menjadi bahan pemikiran. Ibunya khawatir, merasa bahwa seringnya mereka pergi makan bersama, bisa memberatkan Tirta. “Kalau nggak ada kejelasan hubungan, apa nggak merugikan?” tanya ibunya.
Yolanda menyampaikan kekhawatiran itu kepada Tirta. Namun, pria itu hanya tersenyum dan menjawab dengan tenang,
“Anggap saja ini proses. Untuk mencintai seseorang, kita harus saling mengenal, dan itu butuh waktu. Tapi proses itu pasti ada tujuan, aku kira kamu sudah tahu tujuan akhirnya,” cerita Yolanda.
Hubungan mereka terus berkembang. Hingga suatu hari, di sebuah warung rujak, Tirta bertanya secara langsung, “Apa kamu suka padaku? Apa kamu sayang?”. Yolanda hanya tertawa tanpa memberikan jawaban. Tirta tidak marah, tapi pertanyaan itu terus membayanginya.
Dalam perjalanan pulang, mereka berbicara tentang masa depan. Tirta mengungkapkan ambisinya untuk melanjutkan pendidikan S-3. Ia ingin Yolanda juga terus berkembang, tidak hanya berjalan di tempat. “Dia selalu menyemangatiku untuk maju, dan aku semakin nyaman berada di sampingnya,” ujar Yolanda.
Yang membuatnya semakin yakin, Tirta selalu ada dalam segala situasi. Saat ia marah atau sedih, Tirta tidak pernah menghilang. Ia tidak menggunakan silent treatmen. Sebaliknya, ia selalu menelepon untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah. “Dia nggak pernah membiarkanku marah dua kali untuk hal yang sama,” kata Yolanda.
Akhirnya, saat yang dinanti tiba. Yolanda siap memberikan jawaban atas pertanyaan Tirta di warung rujak. Namun sebelum itu, Tirta dengan jujur membuka semua kekurangannya. Ia ingin Yolanda berpikir ulang agar tak menyesal di kemudian hari.
Mendengar itu, Yolanda hanya tersenyum. “Aku terima kamu apa adanya, termasuk masa lalumu.
Aku hanya ingin kamu berjuang dan aku juga akan berjuang bersamamu. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku tidak akan meninggalkanmu sendirian,” katanya.
Malam itu, keduanya tidak hanya menemukan jawaban, tetapi juga sebuah janji. Cinta mereka bukan sekadar rasa nyaman, tetapi sebuah perjalanan yang ingin diperjuangkan bersama. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid