Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pernah Jatuh Cinta, Tapi Tak Pernah Happy Ending

Ronald Fernando • Sabtu, 20 Mei 2023 | 17:32 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI
Usia Saiful (nama samaran) sebenarnya sudah terbilang tua. Sudah hampir kepala lima. Tapi dia belum menemukan tulang rusuknya. Dia tak pernah happy ending tiap kali merajut asmara.  Rasanya dia ingin menyenndiri saja sampai tua nanti.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

KEINGANAN (menikah, red) sebenarnya ada. Tapi sudah terlalu tua. Saat remaja ingin dulu punya pasangan seperti di film-film India. Heppy ending,” katanya di salah satu lokasi fasilitas umum (Fasum) milik Pemkab Probolinggo.

Ia ingat betul pacar pertamanya saat masih SMA, tak begitu cantik. Namun disebutnya menarik. Sebut saja namanya Markona.

“Pacar pertama saya sudah pernah saya kenalkan ke orang tua. Namun orang tua tidak setuju. Akhirnya kandas,” kata pria yang bekerja sebagai honorer di salah satu instansi pemerintahan ini.

Pacar keduanya juga sangat diingatnya. Namanya Wati (juga nama samaran) merupakan salah satu siswa SMA tetangga. Saiful mengenalnya saat sedang pertandingan sepak bola antarsekolah.

“Setiap saya kenal wanita pasti langsung saya kenalkan ke orang tua. Giliran Wati, orang tua sudah setuju. Tapi saat di lihat primbonnya, ternyata tidak baik katanya. Akhirnya orang tua juga tidak setuju,” ujarnya.

Dua perjalanan cintanya yang kandas di tengah jalan itu, membuat Saiful cukup terpukul. Hingga akhirnya ia tak begitu fokus mencari pasangan hidup. Selepas lulus SMA, Saiful pun merantau ke negeri Jiran (Malaysia) untuk bekerja menjadi pekerja migran indonesia (PMI).

“Di Malaysia sekitar 4 tahun. Setelah itu pulang karena bapak meninggal. Kemudian cari-cari kerja di sini, hidup berdua bersama ibu. Kerja sembarang sudah, sampai akhirnya menjadi honorer,” ujarnya.

Saat kembali ke Kabupaten Probolinggo, selain berkerja, ia juga fokus menemani dan merawat ibunya yang telah sakit-sakitan. Sehingga ia kembali tak memikirkan untuk mencari pasangan hidup.

“Saat itu fokus merawat ibu sebab sakit parah. Bahkan biaya berobat, saya harus jual rumah karena pemasukan ekonomi sudah tidak nututi. Namanya anak, apapun untuk orang tua bakal dikasih. Sebab adanya kita (anak) karena adanya orang tua,” ujarnya.

Sampai akhirnya ibunya sembuh dari sakit. Saat sembuh pada 2015 lalu, Saiful pun kembali memikirkan masa depannya untuk memiliki pasangan. Namun tak terasa usianya kala itu sudah sekitar umur 40 an.

“Sejak ibu sembuh, mulai ada lagi kenginan untuk menikah. Tapi ragu karena umur sudah cukup tua. Apa ada yang mau? Apalagi pekerjaan cuma sebagai honorer,” ujarnya.

Saiful merupakan pria yang tak begitu suka bergaul. Saat masih SMA, dia berhasil pacaran dengan sejumlah wanita karena di bantu oleh teman-temannya.

Begitu diusianya yang sudah cukup tua ini, ia mulai menanggalkan sifat pemalunya. Untuk mendapatkan sorang pasangan ia rela bertanya. Bahkan meminta kepada temennya Jika ada wanita yang kiranya hendak dipersuntingnya.

“Malu sudah saya taruh, banyak yang menawarkan. Beberapa sudah pernah ketemu, tapi tidak Sampai menikah. Pasti ada saja yang membuat tidak jadi. Entah karena yang perempuan direbut orang, bahkan menghilang tanpa kabar,” ujarnya.

Belakangan ia masih semangat untuk mencari pasangan hidup. Namun saat ini, dirinya tidak begitu mengambil pusing hal tersebut. Semuanya diserahkan kepada Tuhan sang pemberi jodoh.

“Saya tak ambil pusing sudah. Dulu saya memang sedikit pemilih, tapi misal ada wanita, asal satu agama. Insyaallah saya siap. Sudah pasrah terhadap keadaan menjadi perjaka tua ini. Saya serahkan semua urusan kepada Allah,” ujarnya. (mu/fun) Editor : Ronald Fernando
#tak nikah-nikah #bujang lapuk