Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pernah Ditipu Pekerja, Guru Ini Sukses dengan Usaha Isi Ulang Air

Ronald Fernando • Sabtu, 25 Maret 2023 | 16:12 WIB
SAMPINGAN: Mochamad Rohim di tempat usaha air isi ulangnya. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)
SAMPINGAN: Mochamad Rohim di tempat usaha air isi ulangnya. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)
Mochamad Rohim seharinya adalah guru olahraga asal Ketapang Kota Probolinggo. Dia punya sampingan usaha isi ulang air minum. Sebelum menekuni usaha itu, Rohim pernah ditipu oleh pekerjanya sendiri. Hingga kini dia memiliki ribuan galon isi ulang dan menjadi pemasok air minum ke pulau Gili Ketapang Sumberasih.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

DULUNYA, Rohim hanyalah guru olahraga honorer di sejumah lembaga sekolah. Hingga akhirnya, tahun 2006 saat fokus menjadi guru olahraga di SMKN 3 Kota Proboilnggo, dia lolos dan diangkat menjadi ASN.

Kehidupannya dengan profesi ASN, disyukuri dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun dia punya keinginan untuk memiliki usaha sampingan. Sebagai tambahan pendapatan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Hingga akhirnya, tahun 2016 lalu, dirinya pun buka usaha warung makan lalapan. Namun ternyata, usaha kuliner miliknya tidak berjalan mulus. Dirinya yang sudah menghabiskan modal cukup besar, harus menelan kerugian. Itu karena ulah dari pekerjanya sendiri yang telah menipunya.

”Usaha warung lalapan saya rugi terus. Ternyata, saya ditipu pekerja saya sendiri. Lalapan 40 porsi, lapornya hanya 20 porsi. Kondisi itu hampir tejadi tiap hari. Hingga akhirnya, usaha warung lalapannya tutup,” kata pria yang tinggal di Perumahan Kopian Barat Blok B no 3 Ketapang Kademangan Kota Probolinggo itu.

Rohim mengaku, ada temannya yang menyarankan untuk membuka usaha isi ulang air minum mineral. Tapi waktu itu sekitar tahun 2017, dia hanya miliki tabungan Rp 1 juta. Dengan modal nekat, dirinya pun memberanikan diri ke Malang bersama temannya untuk memesan mesin isi ulang air.

Beruntungnya, dirinya diperbolehkan bayar uang muka mesin itu Rp 1 juta. ”Saya ke Malang pun harus pinjam mobil ke teman. Bahkan bayar sewanya jika ada uang,” ujarnya.

Photo
Photo
SAMPINGAN: Mochamad Rohim di tempat usaha air isi ulangnya. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sekitar seminggu berikutnya, mesin isi ulang air minum itu datang dan harus bayar kekurangannya Rp 44 juta. Karena dirinya memang butuh modal, akhirnya memutuskan untuk pinjam uang pada orang lain.

”Untungnya ada orang yang baik hati dan mau beri pinjaman uang pada saya,” ujarnya.

Dari situ diakui Rohim, dirinya masih harus memutar otak untuk belanja beli galon sebagai modal awal usaha isi ulang air minumnya berjalan. Hingga akhirnya, dirinya minta bantuan pada temannya. Dengan cara motor temannya itu dijual dan sebagai gantinya, temannya itu diganti motor kredit. Nah, cicilan kredit motor itu dibayar dirinya dari hasil usaha isi ulang air minum tersebut.

Uang hasil jual motor itu, digunakan untuk membeli galon kosong. Rohim beruntung dapat 500 buah galon. Semua galon itusebagai pinjaman pada pelanggan-pelangganya. Sehingga, pembeli itu tidak perlu membeli gallon. Tetapi cukup membayar air isi ulangnya.

”Alhamdulillah, motor kredit teman saya itu sudah lunas. Utang untuk membayar mesin isi ulang itupun sudah terbayar,” unkgapnya.

Rohim mengaku, untuk mengembangkan usaha isi ulang air minumnya tidaklah semulus yang dibayangkan. Dirinya harus menawarkan dari rumah ke rumah. Ada yang merespon baik, ada juga yang sampai menolak. Bahkan ada yang membuang air minum dari usahanya.

Tetapi, secara bertahap dan perlahan, air minum usahanya itu dapat diterima masyarakat. Karena air minum dari isi ulang miliknya itu, diproses menggunakan mesin yang menghasilkan air minum dengan TBS yang rendah yakni hanya 0,25 persen. TBS adalah kadar logam berat yang berbahaya di dalam air. Semakin kecil TBS-nya, semakin meringankan kerja ginjal. Semakin besar TBS dalam air itu, semakin menghambat kerja ginjal dalam tubuh.

”Alhamdulillah, sekarang sudah punya 5.000 galon. Banyak pesantren dan sekolah yang menjadi pelanggannya. Bahkan, saya juga kirim ratusan galon air minum ke Gili-Ketapang tiap minggunya,” terangnya. (mas/fun) Editor : Ronald Fernando
#usaha air isi ulang