Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sebelum Sukses, Juragan Snack Ini Pernah Ketipu, Rumah-Gudangnya Terbakar

Jawanto Arifin • Sabtu, 6 Agustus 2022 | 22:40 WIB
PEMAIN BESAR: Thohir Anjar Widhodho di tokonya. Dia kini menjadi produsen dan distributor makanan ringan yang omzetnya mencapai puluhan juta. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
PEMAIN BESAR: Thohir Anjar Widhodho di tokonya. Dia kini menjadi produsen dan distributor makanan ringan yang omzetnya mencapai puluhan juta. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
RODA kehidupan benar-benar dirasakan Thohir Anjar Widhodho. Sebelum sukses dengan usahanya sebagai distributor dan produsen makanan ringan (snack), dia pernah tertipu, hingga rumah dan gudang terbakar. Tapi dia tak patah arang hingga kini usahanya beromzet puluhan juta, dan miliki puluhan pekerja serta ratusan sales.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Tapi sebuah ruko yang berada di tepi Jalan raya Lumajang di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo itu sudah ramai akan orang. Mereka adalah sales yang datang untuk mengambil alias kulakan snack.

Saat masuk ke toko, para sales mengambil sendiri snack yang akan dibeli. Snack itu lalu dikumpulkan dan dicatat. Hingga makanan ringan tersebut dibawa ke meja kasir untuk dibayar.

Photo
Photo
Thohir Anjar Widodo dan sang istri Maskuro Tuddarojah di tempat usaha mereka. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Begitulah aktivitas setiap harinya di ruko milik Thohir Anjar Widhodho, 48. Pagi itu Thohir bersama istrinya, Maskuro Tuddarojah, 39. Mereka berdua terlihat menangani langsung sebagai kasir di tempat usahanya tersebut.

Tidak hanya sales yang tengah sibuk kulakan datang ke ruko distributor snack tersebut. Sejumlah pekerja Thohir, tampak sibuk memasukkan snack-snack ke pikap. Rupanya, selain menjadi tempat kulakan sales, Thohir memasarkan sendiri usaha makanan ringannya itu ke luar daerah, Lumajang, hingga Jember.



”Ada tiga mobil pikap yang dipakai untuk pasarkan usaha makanan ringan saya ini ke luar daerah. Jadi, tidak cuma sales-sales. Ada pekerja saya sendiri yang keliling kirim makanan ringan ke Lumajang, Jember dan sejumlah daerah lain,” kata Thohir.

Jangan dikira usaha yang dilakoni Thohir tersebut adalah instan. Pria kelahiran Probolinggo, 4 Juli 1974 itu menyebutkan, dia bahkan harus berdarah-darah sebelum merintis usahanya. Tidak langsung besar seperti saat ini.

Sejumlah perjalanan dan pengalaman pahit pernah dirasakan. Mulai dari ditipu, sampai rumah dan gudangnya terbakar, pernah dihadapi. Bahkan, rumah dan gudangnya sampai disita bank.

”Namanya usaha, jatuh bangun, cerita pahit, pernah saya rasakan. Tapi saya harus bangkit,” ungkapnya.

Usaha distributor dan produsen makan ringan, mulai dirintis Thohir di tahun 2006 lalu. Sebelumnya, dirinya bekerja sebagai sopir, di tempat usaha paving mertuanya. Saat ada pekerja usaha mertuanya, dia berhenti dan memilih menjadi sales makanan ringan.

Dirinya pun berpikir, usaha makanan ringan seperti halnya menjanjikan. Terbukti ada pekerja yang rela meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan tetap, dan berubah haluan dengan usaha keliling menjual makanan ringan.

Dari situ, niat awal menjadi pengusaha muncul di benak Thohir. Dia masih ingat, modal pertamanya adalah dengan meminjam uang kepada saudaranya sebesar Rp 150 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli bahan mentah makaroni, salah satu makanan ringan.



Dari bahan mentah itu, dia menggoreng sendiri dan dikemas untuk dijual. Setelah siap dipasarkan, dia rela berkeliling untuk memasarkan ke toko atau warung-warung. Bahkan, dirinya nekat sebagai promosi, makanan ringan itu dititipkan ke warung, tanpa harus dibayar.

Saat itu penghasilan Thohir dirasa minim. Sehingga dia mulai merekrut teman untuk menjadi sales. Awalnya, usaha makan ringan yang dikelola sendiri, dan dipasarkan oleh temannya berjalan lancar.

Namun, selang beberapa waktu kemudian, temannya tersebut ternyata tidak amanah. ”Saya kena tipu, uang dari sales itu tidak disetorkan ke saya. Padahal, terus ambil barang ke saya. Sampai tidak ada bahan mentah makanan ringan yang bisa saya putar lagi. Modal juga sudah tidak ada,” ungkapnya.

Hingga Thohir merasa ada pertolongan dari yang kuasa datang. Tiba-tiba ada pelaku usaha yang memasokkan bahan mentah makanan ringan pada dirinya. Dari situ, dirinya pun kembali melanjutkan usaha produksi makanan ringan.

Karena banyaknya bahan yang bisa dikelola, dirinya mulai menggunakan jasa tenaga orang lain untuk membantu menggoreng dan lainnya. Dari situ, usahanya pun terus berjalan dan berkembang.

”Belajar dari pengalaman, saya tidak biarkan sales mengambil barang jika uang belum disetorkan. Kemudian, saya menambah mendatangkan snack dari pabrik. Supaya sales yang kulakan ke tempatnya, tidak cari ke tempat lain,” terangnya.

Dari situ, usahanya terus berjalan. Hingga dia memiliki sekitar 25 orang pekerja di gudang produksi makanan ringan. Jenisnya seperti kerupuk, makaroni dan lainnya. Ada juga pekerja yang di toko dan gudang, tempat sales kulakan.



”Sekarang ada sekitar 200 lebih sales yang biasa ambil kulakan di tempat saya. Jumlah itu saya ketahui, karena saat hari raya lebaran, biasanya saya kasih bonus buat sales-sales itu,” ujarnya.

Thohir mengaku, usaha produsen dan distributor makanan ringan miliknya, memakai toko dan gudang yang statusnya saat ini masih sewa. Sedangkan, gudang untuk produksi makanan ringan sendiri. Lokasinya berada di rumah mertuanya.

Bukan tanpa alasan dia memakai rumah mertuanya. Sebab sekitar 4 tahun lalu, dirinya pernah mendapat musibah. Tengah malam, gudang tempat produksi makanan ringan yang berada di belakang rumahnya, terbakar. Seluruh isi gudang, dan mesin produksi makanan ringan, hangus terbakar. Hanya tersisa bangunan rumah.

Saat itu, dirinya pun memutuskan untuk tinggal di rumah mertuanya dan berusaha bangkit usahanya kembali. Dengan sisa modal yang ada, dirinya menyewa ruko di tepi jalan raya untuk menjadi toko dan gudang. Kemudian, membangun gudang produksi makan ringan di lahan mertuanya. Hingga akhirnya, usahanya saat ini kembali normal kembali.

”Alhamdulillah, usaha mulai kembali normal lagi. Tapi untuk rumah tempat tinggal, belum punya sendiri. Semoga saja, bisa segera punya rumah dan toko sendiri lagi. Aamiin,” harapnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin
#distributor snack #juragan snack