Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menderitanya saat Istri Selingkuh dengan Kades meski Sudah Punya Empat Anak

Jawanto Arifin • 2022-12-17 16:21:23
Ilustrasi
Ilustrasi
DIKHIANATI adalah cerita yang menyakitkan. Apalagi jika dikhianati oleh seseorang yang pernah menjadi teman hidup yang sudah memberikan buah hati. Inilah yang dialami Anton (nama samaran), warga Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.

Kisah itu dialami Anton dan Rani (juga nama samaran). Anton yang sudah memiliki empat anak, juga terpaksa harus rela membesarkan anaknya yang berkebutuhan khusus. Untungnya dia tegar dan bisa move on.

Anton kesehariannya adalah aparat. Seorang polisi. Ia mengenal Rani sejak ia masih mengenyam pendidikan bintara kepolisian di tahun 2000. Sementara Rani saat itu masih kuliah sarjana jurusan hukum di salah satu universitas negeri di Kota Malang.

Merasa saling cocok, mereka pun memutuskan berpacaran. Selama empat tahun, keduanya menjalin hubungan jarak jauh. Usai sempat menamatkan pendidikan bintara selama delapan bulan, Anton berdinas di Probolinggo.

“Setelah istri saya waktu itu lulus kuliah, saya langsung memberanikan diri melamar pada 2004. Karena saya tahu selama empat tahun berpacaran, kami saling cocok dan kedua orang tua juga saling kenal,” ungkapnya.

Anton dan Rani lantas menikah setahun berselang. Saat itu Rani sudah memiliki pekerjaan sebagai pengacara di sebuah firma hukum di Kota Probolinggo. Mereka lantas memilih tinggal di sebuah perumahan di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Kehidupan pernikahan mereka semakin bahagia, setelah setahun kemudian keduanya dianugerahi seorang anak laki laki. Meski sama-sama sibuk, keduanya selalu menyempatkan diri memiliki waktu berdua di akhir pekan.



“Pekerjaan kami yang mirip, sama-sama di bidang hukum membuat kami saling mengerti. Saat saya harus lembur karena ada dinas malam, dia paham. Begitu pula saat istri ada pekerjaan di luar kota, saya tidak menuntut,” jelasnya.

Bahtera pernikahan keduanya berjalan mulus selama bertahun-tahun. Anton dan Rani sampai memiliki empat anak. Dua laki-laki dan dua perempuan. Meski anak keempat mereka adalah berstatus anak berkebutuhan khusus, karena menyandang disabilitas motorik.

“Tapi kami tidak pernah membeda-bedakan mereka. Kami tetap menyayangi semuanya. Setiap akhir pekan, kami selalu bawa Intan untuk berobat ke Pasuruan,” kata Anton.

Hingga tahun 2014, rumah tangga Anton dihantam badai. Saat itu Rani mendapatkan klien seorang kepala desa di Probolinggo. Sebut saja namanya Ali (nama samaran).

Awalnya, Anton tidak curiga sama sekali. Sebab selama ini, Rani selalu bekerja secara profesional. Baginya Ali itu sama seperti klien-klien lain. “Apalagi Rani ini selalu cerita pada saya tentang rutinitasnya setiap hari. Jadi saya ya tidak curiga. Sebab sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa,” cerita Anton.

Namun, rupanya pertemuan Rani dan Ali yang intens menimbulkan ketertarikan di antara keduanya. Keduanya bertemu setiap hari. Bahkan di luar urusan kerja. Lama-kelamaan, Rani mulai sering berbohong kepada Anton.

Dia selalu menampik tentang hubungannya dengan Ali. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Rani dan Ali semakin berani bermain api dengan mengirim pesan mesra dan bertemu setiap waktu.



Tidak tahan dengan perbuatan Rani, Anton pun menceraikan wanita yang merupakan tulang rusuknya itu. Seperti yang sudah diduga, Rani langsung mengiyakan. Bahkan, ia meminta hak asuh ketiga anak untuk dirinya. Sementara anak keempat mereka yang berkebutuhan khusus, diserahkan pada Anton.

“Saya iyakan saja saat itu. Karena bagi saya, setia itu harga mati. Toh dari awal saya merasa anak keempat saya adalah anak yang spesial. Tidak berbeda dengan ketiga anak saya yang lain,” tutur Anton.

 

Memilih untuk Menikah Lagi

Bagi Anton, kegagalan menjalani pernikahan bukanlah hal yang patut disesali. Usai bercerai dengan Rani, ia kembali menjalani rutinitasnya sebagai polisi. Sementara Rani langsung menikah dengan Ali.

Selama dua tahun, Anton betah menduda. Saat itu, ia tetap tinggal di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Setiap akhir pekan, ia selalu menjenguk orang tuanya di Kecamatan Grati, lalu mengantar anaknya untuk berobat.

Rutinitasnya itu yang sering pulang-pergi Pasuruan-Probolinggo membuat Anton bertemu dengan Ayu (nama samaran), warga Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Sehari-harinya Ayu adalah PNS di Pasuruan.

Mereka sempat berpacaran. Karena merasa saling cocok, Anton langsung menikahi Ayu. Memiliki anak seorang ABK membuat Anton ingin segera melepas masa dudanya.

“Saya mikirnya waktu itu saya sudah jadi bapak, punya tanggung jawab. Bukan waktunya untuk main-main lagi. Setelah kenal delapan bulan, saya langsung menikahinya,” ujarnya.



Usai menikah, Anton meminta untuk dimutasi ke Pasuruan. Alasannya agar Ayu tidak lelah harus pulang pergi Pasuruan-Probolinggo setiap hari. Kini, ia tinggal di wilayah Kecamatan Pohjentrek.

Pilihannya pada Ayu ternyata tidak salah. Baginya Ayu sosok wanita yang keibuan, perhatian dan sayang dengan keluarga. Meski keduanya belum dianugerahi anak, tapi Ayu sangat sayang kepada anaknya yang berkebutuhan khusus.

Saat Anton dan Ayu sibuk bekerja, anaknya dititipkan pada tetangga. Setiap akhir pekan, Anton dan Ayu membawa Intan menjenguk orang tua Ayu di Dringu, lalu mengunjungi rumah Anton di Kanigaran.

“Dengan mantan istri tetap saling kontak. Karena bagaimanapun dia ibu dari anak-anak saya. Saya sangat bersyukur, kini diberi istri yang sangat sayang dan perhatian sama saya dan anak saya,” pungkas Anton. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin
#istri selingkuh