PERAYAAN Imlek atau Lunar Year merupakan perayaan yang dilakukan pada tanggal 1 bulan 1 Kongzili. Biasanya perayaan ini bersamaan dengan hadirnya musim semi yang dilakukan selama 15 hari atau Cap Go Meh.
Menurut kepercayaan masyarakarat Tionghoa, ketika Imlek para dewa dewi kembali ke khayangan untuk melapor ke Kaisar Langit atas segala yang terjadi selama setahun. Salah satu legenda yang berkaitan dengan Imlek adalah kisah sesosok monster peneror masyarakat yang kerap disebut Guo Nian atau Nian.
Makhluk tersebut memiliki wujud setengah banteng berkepala singa. Ia datang untuk merampas berbagai hasil panen, hewan ternak, hingga masyarakat yang hidup disana.
“Tapi monster Nian ini memiliki ketakutan pada api, suara berisik atau gemuruh, serta warna merah,” ujar Ketua II TITD Sumber Naga Kota Probolinggo, Erfan Sutjianto.
Karena itu, perayaan Imlek banyak menggunakan pernak-pernik berwarna merah ataupun emas. Seperti penggunaan lampion maupun lilin, hingga adanya pertunjukan petasan dan barongsai.
Erfan mengatakan, warna merah dapat digunakan untuk busana, angpau, hingga pernak-pernik lainnya di rumah. Dalam budaya Tionghoa, warna merah dianggap sebagai simbol kebahagiaan, keselamatan, dan keberuntungan.
“Bukan hanya warna merah, tapi saat Imlek dianjurkan menggunakan warna-warna yang menyala. Seperti kuning, emas, ataupun hijau. Tidak disarankan menggunakan warna hitam atau putih, karena melambangkan suasana berduka,” katanya.
Warna kuning dan emas dianggap sebagai lambang kekaisaran, kehormatan, kebesaran, kemuliaan, status yang luhur, rezeki, maupun kekayaan. Sehingga, masyarakat Tionghoa berharap dalam tahun baru Imlek bakal mendapatkan cukup banyak harta kekayaan dan kemuliaan dalam hidup.
Dalam perayaan Imlek, warna kuning sering disimbolisasikan pada buah jeruk. Erfan mengatakan, dalam bahasa Mandarin, jeruk disebut chi zhe. Chi artinya rezeki dan zhe berarti buah.
“Sehingga, jika digabungkan memiliki arti buah pembawa rezeki. Dengan menyediakan dan makan buah jeruk, dipercaya bisa mendatangkan banyak keberuntungan pada tahun itu,” jelasnya.
Masih berkaitan dengan legenda monster Guo Nian, menyalakan petasan juga merupakan cara untuk mengusir roh jahat dari rumah. Selama Imlek, kata Erfan tidak boleh membersihkan rumah, keramas, ataupun memotong kuku. Meski rumah terlihat kotor, sebaiknya dibiarkan saja.
“Selama hari Imlek, Dewa Rezeki akan membagikan keberuntungan, sehingga jika melakukan bersih-bersih, dipercaya akan membuang keberuntungan yang datang. Maka dari itu, rumah sudah harus dibersihkan maksimal sehari sebelum Imlek,” kata Erfan.
Imlek juga bertambah semarak dengan adanya lampion. Lampion berasal dari bahasa Mandarin Denglong yang artinya menerangi, sehingga memiliki makna menjadi penerang kehidupan. Karena itu, masyarakat Tionghoa diharapkan dapat lancar menjalani kehidupan.
Lampion Imlek telah digunakan sejak zaman Dinasti Han Timur (206 SM-220 SM) sebagai sumber cahaya hingga mengusir bintang buas. Seiring berjalannya waktu, lampion diadopsi oleh para Biksu Buddha. Mereka menyalakan lentera pada hari ke-15 Imlek untuk menghormati Buddha.
Saat Dinasti Tang (618-907), praktik itu berubah menjadi sebuah festival yang masih dirayakan setiap tahunnya. Kini lampion tradisional Tiongkok dibagi menjadi tiga jenis. Yaitu, palace lantern (lampion kerajaan), gauze lantern (lampion kertas), dan shadow picture lantern (lampion gambar-bayangan).
“Dahulu lampion hanyalah sebuah lilin yang dikelilingi bambu, kayu, atau jerami. Sementara bagian atas atau penutupnya menggunakan sutra atau kertas agar nyala api tidak tertiup angin,” ujar Erfan.
Angpau atau angpao merupakan hadiah atau pemberian uang pada hari Imlek. Angpao berasal dari kata ang yang berarti merah dan pao yang artinya amplop. Jadi, angpau dapat didefinisikan dengan amplop merah.
Pemberian angpau sejatinya telah dilakukan sejak era Dinasti Qin (221-206 SM). Namun, saat itu masih berupa koin berlubang yang diikat menggunakan benang merah. Ini disebut yā suì qián atau uang keberuntungan untuk mengusir roh jahat. Hal tersebut berkaitan dengan kisah iblis jahat bernama Sui.
Menurut legenda Tiongkok, Sui muncul pada malam tahun baru dan mulai menyakiti anak-anak. Jika kepala seorang anak yang tengah tidur disentuhnya, maka anak itu akan mendadak sakit hingga meninggal dunia.
Para orang tua kemudian memberi anak-anaknya yā suì qián, agar terhindar dari kesialan. Koin yang dililit benang merah dan diletakkan di dekat tempat tidur. Koin yang mengeluarkan cahaya terang membuat iblis Sui ketakutan dan akhirnya tidak mengganggu anak-anak lagi.
Seiring berjalannya waktu, koin dan benang merah berubah menjadi uang yang disimpan dalam angpao. Angpao tidak hanya diberikan saat Imlek. Namun, juga dapat diberikan saat kelulusan, ulang tahun, kelahiran, pernikahan, hingga pindahan ke rumah baru.
“Angpau dipercaya bisa membawa keberuntungan, kebahagiaan, dan keselamatan bagi penerimanya. Memberikan angpau pada hari-hari bahagia dipercaya sebagai cara yang baik untuk mendoakan kebahagiaan orang lain,” ujar Ketua II TITD Sumber Naga Kota Probolinggo, Erfan Sutjianto.
Pemberian angpau, kata Erfan, harus memperhatikan jumlah uang yang akan dibagikan. Nominalnya tidak boleh ganjil, karena melambangkan pemakaman atau suasana berkabung. Tidak diperbolehkan mengandung angka empat. Sebab, dalam bahasa Mandarin angka empat yaitu sì, terdengar seperti kata mati.
“Disarankan memberi angpau dalam jumlah yang memiliki makna baik. Seperti 88 yang berarti shuangxi atau kebahagiaan berganda. Atau angka 2, yang melambangkan pasangan yang langgeng,” jelasnya.
Umumnya pemberi angpau adalah orang-orang yang sudah menikah. Kebudayaan Tionghoa meyakini bahwa menikah adalah tanda bahwa seseorang sudah dewasa.
“Tapi, tidak melarang juga bila ada seorang yang mungkin belum menikah dan sudah mapan secara finansial, bisa memberi angpau. Sementara penerima angpau umumnya anak-anak atau orang dewasa yang belum belum menikah,” kata Erfan. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando