Uniknya, yang memainkannya bukan hanya anak-anak, Orang dewasa juga ada yang keranjingan. Bagi orang dewasa, memainkan latto-latto bak memutar kenangan masa kecil.
Latto-latto sebenarnya adalah sebuah mainan yang umum dimainkan oleh masyarakat pedesaan di era tahun 90-an. Berasal dari bahasa Bugis, latto-latto kemudian berubah jadi katto-katto di Makassar, dan etek-etek di daerah Jawa.
Sejatinya, permainan ini sendiri bukan berasal dari Indonesia. Latto-latto merupakan mainan yang berasal dari Amerika yang konon muncul pada tahun 1960-an. Nama asli dari latto-latto sendiri adalah clankers.
Setelah populer di era tahun 1970-an, clankers kemudian sempat dilarang di beberapa negara karena sempat memakan korban. Sebabnya, ada yang menggunakan bahan bukan dari plastik atau karet. Tapi pakai kaca yang mudah pecah dan rawan mencederai pemainnya.
Setelah melewati berbagai modifikasi, jadilah latto-latto yang sekarang jadi tren. ”Kalau gak bisa main latto-latto ini malu. Awalnya tidak bisa, tapi belajar dan lama kelamaan bisa,” kata Hakim, bocah 7 tahun asal Dringu, Kabupaten Probolinggo.
Jawa Pos Radar Bromo melihat di kalangan masyarakat, banyak anak-anak yang memainkan latto-latto itu. Bahkan ada sampai dilombakan. Siapa durasi paling lama memainkan, maka itulah pemenangnnya.
”Saya kecil dulu, sudah ada mainan tek-tek-tek (latto-latto) ini. Sekarang lagi ramai lagi. Semua anak-anak mainan tek-tek-tek ini,” Mahfud Soleh, 38, warga Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.
Namun ada juga yang melarang anaknya bermain latto-latto karena dianggap berbahaya. Khawatir kena wajah sendiri ataupun perabotan di rumah.
Untuk memainkannya, ada baiknya jaga jarak. Meskipun bahan utamanya dari plastik, tapi cukup keras. Sehingga jika berbenturan dengan anggota tubuh, dapat menyebabkan cedera ringan.
Harus Dalam Pengawasan Orang Tua
Latto-latto termasuk jenis permainan tradisional. Hampir semua permainan, memiliki sisi positif dan negatif. Begitu juga latto-latto. Sehingga orang tua harus tetap mengawasi anak-anaknya saat bermain latto-latto tersebut.
Hal itu diungkapkan praktisi permainan tradisional di Probolinggo, Khairul Umam. Umam-sapaan- akrabnya mengaku, latto-latto termasuk permainan tradisional. Permainan itu sudah ada sejak dulu. Saat dia kecil sering main juga. Namun tenggelam dan belakangan tenar lagi.
”Saya beberapa hari lalu berlibur ke Jogjakarta, ternyata di sana juga ramai anak-anak bermain latto-latto. Di medsos, presiden Jokowi juga memainkannya,” terangnya.
Pria pegiat Negeri Dolanan Anak Indonesia di Desa Tanjung Sari Kecamatan Krejengan mengungkapkan, latto-latto memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, anak-anak bisa sejenak menghilangkan kebiasaan bermain HP.
Saat tenar lagi, latto-latto bak virus yang cepat menular. ”Positifnya lagi, latto-latto bisa melatih keseimbangan dan konsentrasi. Karena kalau tidak fokus, biasanya gagal,” tambahnya.
Umam juga sepakat, saat bermain latto-latto harus dalam pengawasan orang. Bukan hanya bisa mencederai. ”Dikhawatirkan lagi, anak-anak juga lupa dengan waktu,” ungkapnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin