Di Desa Pondokkelor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, perubahan besar bermula dari pohon kelor. Tanaman di pekarangan yang dahulu dianggap biasa itu, kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi dan identitas desa. Dari sinilah gerakan inovasi desa mulai tumbuh secara bertahap dan terstruktur.
====================================
PERUBAHAN ini dimulai ketika Fredericks Ade Candra, S.T. dipercaya memimpin Desa Pondokkelor pada tahun 2022. Ia melihat potensi kelor yang belum tertata dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Dari situlah, pemerintah desa bersama masyarakat mengembangkan gerakan satu rumah satu kelor.
“Awalnya kami ingin menghidupkan kembali identitas Pondokkelor. Kalau namanya Pondokkelor, ya kelornya harus hidup, tumbuh, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Akhirnya kami sepakat membuat program satu rumah satu kelor," ujar Fredericks.
Melalui program ini, kelor pun ditanam di berbagai sudut desa. Sementara pembibitan dikembangkan secara berkelanjutan melalui greenhouse desa. Hingga kini, ribuan pohon kelor tumbuh dan menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
Tidak hanya ditanam. Kelor kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui pemberdayaan masyarakat, terutama ibu-ibu PKK, daun kelor diolah menjadi berbagai produk usaha oleh warga. Potensi bawang merah sebagai komoditas unggulan desa juga dikembangkan untuk memperkuat ekonomi keluarga.
Produk-produk itu lantas dipasarkan melalui Gerai UMKM Glamour (Griya Lokal Moringa). Melalui Gerai ini pula, semua produk lokal diperkenalkan dan dipasarkan secara lebih luas. Baik door to door, juga melalui media sosial.
Inovasi ini semakin berkembang melalui program Pangan Bergizi dan Bernilai Ekonomi Keluarga (PANGANIA) yang digerakkan Ketua TP PKK Desa Pondokkelor Esti Alfianing Tyas, A.Md.Keb. Program itu bahkan berhasil mendapat penghargaan tingkat Jawa Timur Tahun 2024. Sebab, mampu memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang usaha keluarga.
Perubahan tidak hanya terjadi di sektor ekonomi. Perpustakaan Desa Pondokkelor Pintar meraih Juara II Perpustakaan Desa Terbaik Kabupaten Probolinggo Tahun 2025. Prestasi itu diraih berkat inovasi ruang baca yang nyaman dan ber-AC, sehingga anak-anak betah membaca lebih lama.
Di wilayah pesisir dusun Mandaran, kawasan yang dulunya langganan banjir rob juga diubah menjadi lebih tertata dan asri. Di sana, penghijauan dilakukan dengan menanam pohon cemara udang, sekaligus menjadi ruang aktivitas masyarakat.
“Kekompakan dan peran serta warga adalah kunci utama keberhasilan ini. Kalau tidak ada kontribusi masyarakat, meskipun saya punya ide-ide, ya tidak akan jalan,” pungkasnya. (dik/hn/*)
Mengabdi Sepenuh Hati, Gerakkan Desa dengan Inovasi
Perubahan Desa Pondokkelor tidak dimulai dari pembangunan fisik atau program besar. Melainkan dari upaya menyatukan visi seluruh perangkat desa setelah Fredericks Ade Candra, S.T. resmi dilantik sebagai kepala desa.
Ia menyadari bahwa proses pemilihan kepala desa menyisakan perbedaan pilihan. Namun setelah menjadi pemimpin, baginya tidak boleh ada lagi batas antara pendukung maupun bukan pendukung. Pembangunan harus berjalan dengan semangat kebersamaan, beriringan, dan dan gotong royong.
Langkah awal yang dilakukan adalah menyamakan persepsi bahwa seluruh perangkat desa memiliki tanggung jawab sama untuk melayani masyarakat. Pendekatan ini perlahan membangun suasana kerja yang lebih kompak. Ide pembangunan tidak hanya datang dari pemerintah desa, tetapi juga melibatkan warga melalui musyawarah.
“Saya ini kepala desa, saya bukan raja. Saya wajib melayani warga dan saya harus menampung ide-ide atau masukan yang membangun dari warga,” kata Fredericks.
Lulusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya kelahiran Probolinggo, 4 Februari 1991 itu meyakini, kepala desa bukan pemilik tunggal gagasan. Menurutnya, program yang baik harus lahir dari komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat.
Pola ini kemudian menjadi dasar lahirnya berbagai inovasi di Pondokkelor. Mulai dari penguatan keamanan lingkungan, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga digitalisasi pelayanan desa.
Dukungan masyarakat semakin kuat karena mereka merasa ikut memiliki setiap program yang dijalankan. Pemerintah desa tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga penggerak yang menghubungkan potensi warga.
Di balik kepemimpinan Fredericks, peran keluarga juga memberi warna. Sang istri, Esti Alfianing Tyas, A.Md.Keb., yang juga ketua TP PKK Desa Pondokkelor aktif mendorong program pemberdayaan perempuan dan keluarga.
Lelaki kelahiran 4 Februari 1991 itu percaya bahwa kemajuan desa tidak bisa diraih sendirian. Baginya, setiap perubahan positif adalah buah kerja keras seluruh elemen masyarakat.
Demi mewujudkan hal itu, ia menegaskan pentingnya perencanaan berbasis data dalam setiap kebijakan. Mulai dari strategi hingga evaluasi, agar berdampak nyata.
“Terpenting bagi saya kerja ikhlas, kerja melayani dengan sepenuh hati. Menjadikan Pondokkelor Hebat,” pungkasnya. (dik/hn/*)
Integrasikan Teknologi untuk Keamanan dan Pelayanan Warga
Di Desa Pondokkelor, teknologi tidak sekadar mengikuti perkembangan zaman. Namun hadir sebagai solusi atas kebutuhan nyata masyarakat. Dari sini, Desa Pondokkelor mengembangkan inovasi sistem keamanan lingkungan berbasis CCTV yang berangkat dari kebutuhan warga akan lingkungan aman dan nyaman.
Pemerintah desa membangun jaringan CCTV di berbagai titik strategis, lalu mengembangkannya dengan layanan digital desa. Masyarakat dapat memanfaatkan sistem tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan lingkungan.
Inovasi ini membawa hasil nyata. Pondokkelor berhasil meraih Juara I Lomba Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling) Kabupaten Probolinggo dan mempertahankannya pada 2022, 2023, hingga kembali pada 2026. Bahkan, desa ini menjadi rujukan studi tiru dari berbagai daerah di Jawa Timur. Termasuk Bojonegoro dan Madura.
“Kalau desa aman dan nyaman, masyarakat bisa beraktivitas dengan tenang dan kondusif. Karena itu, sejak awal saya punya visi membangun sistem keamanan berbasis CCTV dan teknologi digital. Juga menerapkan one gate sistem saat malam hari” ujarnya.
Seiring waktu, inovasi tersebut diperluas ke layanan pemerintahan. Pemerintah desa mulai mengintegrasikan teknologi dalam pelayanan masyarakat. Termasuk surat-menyurat, buku tamu, hingga sistem pelayanan desa berbasis digital.
Puncaknya, Pondokkelor meraih Juara I Anugerah Inovasi Daerah Kabupaten Probolinggo 2026 kategori Tata Kelola dan Pelayanan Pemerintah melalui program Integrasi Bank Sampah Digital dan CCTV untuk Ketahanan Lingkungan dan Keamanan Desa Berbasis Aplikasi. Program ini menggabungkan kepedulian lingkungan, keamanan, dan pelayanan publik dalam satu sistem.
Bagi pemerintah desa, inovasi tidak harus mahal. Namun harus berani mencari solusi sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin semua pelayanan terintegrasi secara digital. Perlahan kami tinggalkan pola konvensional dan terus menghadirkan inovasi baru yang mempermudah warga, agar warga melihat apa yang kita lakukan,” ungkapnya. (dik/hn/*)
Penghargaan Desa Pondokkelor
1. Juara 1 Anugerah Inovasi Daerah Kabupaten Probolinggo 2026 Kategori Inovasi Bidang Tata Kelola dan Pelayanan Pemerintah
2. Juara Favorit Lomba Satkamling Polres Probolinggo lewat inovasi keamanan digital berbasis data dan CCTV "Pondok Kelor Hebat" 2026
3. Juara 2 Anugerah Inovasi Daerah Kabupaten Probolinggo 2025 Kategori Inovasi Bidang Tata Kelola dan Pelayanan Pemerintah
4. Piagam Pencanangan Program Desa Antikorupsi sebagai Desa Percontohan Antikorupsi Tahun 2025 Kabupaten Probolinggo
5. Juara 2 Perpustakaan Desa Terbaik Kabupaten Probolinggo Tahun 2025
6. Penghargaan Tingkat Provinsi Jawa Timur 2024 melalui Program PANGANIA Pemberdayaan Ekonomi untuk Wanita dan Keluarga
7. Juara 1 Anugerah Inovasi Daerah Kabupaten Probolinggo 2024, Kategori Inovasi dan Teknologi Bidang Ekonomi
8. Juara 1 Lomba Satkamling Tingkat Kabupaten Probolinggo 2023
9. Juara 1 Lomba Satkamling, Kategori Satkamling modern dan tradisional Kabupaten Probolinggo 2022
Editor : Muhammad Fahmi