Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Selama Dua Bulan di Awal 2026, Damkar Terima Empat Laporan Kebakaran

Achmad Arianto • 2026-03-16 09:41:26
PEMBASAHAN: Personel Damkar Pos Unit Dringu melakukan pendinginan tempat produksi tahu yang terbakar di Desa Kalirejo, Kecamatan Dringu beberapa waktu lalu. (dok Jawa Pos Radar Bromo)
PEMBASAHAN: Personel Damkar Pos Unit Dringu melakukan pendinginan tempat produksi tahu yang terbakar di Desa Kalirejo, Kecamatan Dringu beberapa waktu lalu. (dok Jawa Pos Radar Bromo)

 

KRAKSAAN, Radar Bromo -  Anomali cuaca masih terjadi di wilayah Kabupaten Probolinggo. Cuaca kadang mendung kemudian deras, namun juga berpotensi panas.

Hal ini membuat cuaca lingkungan menjadi tidak menentu dan berpotensi terjadinya bencana cuaca ekstrem. Kondisi ini berpengaruh pada tren kebakaran.

Selama dua bulan terakhir insiden kebakaran cukup minim. Sampai Februari, Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo menerima empat laporan kebakaran.

“Sejauh ini insiden kebakaran masih minim. Hal ini bisa terjadi karena lingkungan masih lembab. Tidak kering sehingga mudah terbakar,” kata Kepala Bidang Pengendalian Bahaya Kebakaran dan Non Kebakaran Satpol PP Kabupaten Probolinggo Andrea Persaulian.

Sampai dengan Februari terdapat empat insiden kebakaran yang dilaporkan dan telah ditangani oleh Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo.

Diantaranya adalah kebakaran yang terjadi di Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan. Disebabkan oleh gas bocor.

Selanjutnya kebakaran ruko di Desa Pohsangit Lor, Kecamatan Wonomerto. Disebabkan oleh lilin.

Kemudian kebakaran kandang ayam di Desa Klenang Kidul, Kecamatan Banyuanyar. Kebakaran ini disebabkan korsleting listrik.

Serta kebakaran rumah di Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan yang disebabkan oleh lilin. “Dari laporan yang ada objek yang terbakar adalah bangunan,” katanya.

Sementara itu kebakaran lahan berpotensi terjadi saat musim kemarau. Pasalnya turunnya curah hujan mempengaruhi lingkungan sekitar. Lingkungan menjadi panas dan kering. Banyak tanaman ataupun rumput yang kekurangan air kemudian mengering.

Kondisi demikian membuat api mudah berkobar. Kondisi demikian dapat diperparah dengan angin yang berhembus kencang. Sehingga api yang menyala bisa merambat dengan cepat membakar objek lainnya.

“Kebakaran mayoritas terjadi saat musim kemarau. Tapi bukan tidak mungkin saat kondisi cuaca tak menentu seperti saat ini tidak akan terjadi kebakaran. Sehingga kewaspadaan perlu dilakukan,” pungkasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#damkar #kebakaran