Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Beras Medium Mendadak Langka di Kabupaten Probolinggo, Padahal Stok di Bulog Cukup, Kok Bisa?

Agus Faiz Musleh • Kamis, 7 Agustus 2025 | 17:09 WIB

 

 

Proses pengangkutan beras SPHP oleh petugas Bulog Kancab Probolinggo untuk didistribusikan di pasaran.
Proses pengangkutan beras SPHP oleh petugas Bulog Kancab Probolinggo untuk didistribusikan di pasaran.

KRAKSAAN, Radar Bromo–Sepekan terakhir, beras medium tiba-tiba langka di pasaran di Kabupaten Probolinggo. Padahal, stok beras di gudang Bulog Kancab Probolinggo sebenarnya cukup. Mencapai 90 ribu ton, cukup untuk kebutuhan selama dua tahun ke depan.

Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo mengungkap, kelangkaan beras medium terjadi bukan karena stok beras terbatas. Bulog memiliki stok beras dalam jumlah cukup.

Bahkan, Bulog melayani distribusi untuk tiga wilayah. Yaitu, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo Reno Handoyo mengatakan, kelangkaan beras medium terjadi karena persoalan teknis. Yaitu, minimnya penebusan beras Bulog oleh toko-toko di tingkat bawah.

“Penebusan minim karena ada sejumlah syarat administrasi yang belum banyak diketahui oleh toko-toko di tingkat bawah. Karena itulah, perlu ada solusi untuk mengatasi sulitnya masyarakat mendapatkan beras medium ini,” tutur Reno, Rabu (6/8).

RDP sendiri dihadiri sejumlah pihak. Ada perwakilan Bulog Kancab Probolinggo, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo.

Reno menyampaikan, sejauh ini ada 112 calon distributor di Bulog.

Namun, diharapkan ada lebih banyak toko kecil di tingkat desa yang ikut serta membeli atau menjadi distribustor beras Bulog.

“Kalau hanya toko-toko besar di pasar yang menebus, tidak efektif. Harus sampai ke desa agar masyarakat benar-benar merasakan dampaknya,” tegasnya.

Reno berharap, ada sinkronisasi antara Bulog, Dinas Ketahanan Pangan, dan DKUPP dalam menyosialisasikan mekanisme penebusan beras. Serta, memperluas jangkauan distribusi hingga ke desa-desa.

“Kami juga minta syarat penebusan dari Bulog disosialisasikan. Sebab, ini belum disosialisasikan secara menyeluruh. Harusnya ini menjadi perhatian semua pihak agar masyarakat bisa langsung menikmati manfaatnya,” katanya.

Wakil Pimpinan Bulog Kancab Probolinggo Muzakki Makmun mengakui, memang ada kelangkaan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) atau beras medium. Kelangkaan terjadi di sejumlah pasar dan toko-toko.

“Kami diundang untuk membahas SPHP karena memang terjadi kelangkaan. Kami diminta untuk memasifkan penjualan beras SPHP,” jelas Muzakki.

Muzakki menjelaskan, stok beras Bulog saat ini tercatat 90 ribu ton. Cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua tahun ke depan.

Karena itu, Bulog membuka peluang bagi toko-toko kecil yang belum bermitra untuk ikut menyalurkan beras SPHP. Asalkan mereka memenuhi persyaratan, seperti memiliki toko tetap, NIB, KTP, dan NPWP.

“Siapa pun bisa ikut, selama ada legalitas dan memenuhi syarat. Maksimal pengambilan 2 ton beras. Lalu harga jual ke masyarakat tidak boleh lebih dari Rp 12.500 per kilogram,” tambahnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Probolinggo Yahyadi menegaskan, secara umum sebenarnya ketersediaan beras di kabupaten dalam kondisi aman.

Bahkan, per 30 Juni 2025 ada surplus sebanyak 1.430 ton beras dalam neraca ketersediaan pangan.

“Karena itu, saya pastikan masyarakat Kabupaten Probolinggo tidak akan kekurangan beras,” kata Yahyadi. (mu/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#beras #medium #langka #bulog #probolinggo