RAGAM makanan dan gaya hidup modern yang semakin mudah dijangkau ternyata membawa dampak ganda bagi kesehatan. Di balik kepraktisan fast food, minuman manis, kopi kekinian, hingga rokok dan vape, tersimpan risiko yang jarang disadari pria: penurunan kualitas sperma.
Dokter Penyakit Dalam RS Dharma Husada, dr. Adhya Aji Pratama, SpPD menjelaskan bahwa secara umum pria di bawah usia 40 tahun masih memiliki kualitas sperma yang baik. Namun, tak jarang ada pula temuan kasus penurunan kualitas sperma pada pria usia muda.
“Pada usia muda, penurunan kualitas sperma lebih banyak dipicu oleh pola makan dan gaya hidup, bukan karena faktor usia,” katanya.
Berbeda dengan pria usia 40 hingga 50 tahun ke atas, penurunan kualitas sperma biasanya berkaitan dengan penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes.
Kondisi ini menyebabkan aliran darah terganggu, meningkatkan stres tubuh, dan berdampak langsung pada vitalitas pria.
Sementara pada pria muda masa kini, ancaman justru datang dari apa yang dikonsumsi sehari-hari.
Fast food, gorengan, minuman tinggi gula, serta kebiasaan makan instan meningkatkan risiko gangguan sperma.
“Makanan seperti ini memicu peradangan dan gangguan metabolik yang berpengaruh pada produksi sperma. Saya sering menyarankan makanan yang diolah dengan cara kukus atau rebus, seperti ketela, kentang, atau jagung. Lebih sederhana, tapi jauh lebih sehat,” terangnya.
Tak hanya makanan, alkohol, rokok, dan vape juga berperan besar. Alkohol dapat merusak sel sperma, sementara rokok terbukti menurunkan kualitas sperma dari berbagai sisi: pergerakan, bentuk, hingga kerusakan DNA.
“Vape sering dianggap lebih aman, padahal tetap mengandung zat berbahaya. Yang kami khawatirkan adalah efek jangka panjangnya. Karena itu, saya tidak menyarankan juga,” tegasnya.
Kebiasaan ngopi berlebihan, terlebih dengan tambahan gula tinggi, juga perlu diwaspadai.
Meski kopi memiliki manfaat bagi jantung, konsumsi berlebihan justru bisa berdampak negatif bagi kesehatan tubuh meski tidak secara langsung, namun juga berpotensi pada akhirnya merusak kualitas sperma.
Cara Menjaga sejak Usia Muda
Kualitas sperma tidak bisa dinilai dari tampilan luar semata. Menurut dr. Adhya Aji Pratama, sperma yang sehat harus memenuhi beberapa syarat penting secara bersamaan.
“Sperma yang baik itu pergerakannya aktif, bentuknya normal, tingkat keasamannya sesuai, dan jumlahnya cukup, sekitar 15 juta per mililiter,” jelasnya.
Keempat aspek tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Sperma dengan bentuk bagus tetapi pergerakan lambat, atau jumlah cukup namun morfologi buruk, tetap berisiko gagal membuahi sel telur.
“Kalau salah satu tidak terpenuhi, sperma bisa gagal menembus sel telur atau mudah rusak saat proses pembuahan,” ungkap dr. Aji.
Ia menegaskan, kondisi sperma tidak bisa dinilai secara kasat mata. Kekentalan, bau, atau cepat-lambatnya sperma keluar bukan patokan medis. Satu-satunya cara memastikan kualitas sperma adalah melalui pemeriksaan laboratorium atau mikroskopik.
“Dari hasil lab itulah baru bisa diketahui apakah spermanya sehat atau tidak,” katanya.
Untuk menjaga kualitas sperma dan vitalitas pria, dr. Aji membagikan beberapa langkah sederhana namun krusial. Mulai dari mengelola stres dengan baik; istirahat yang cukup, menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi, berolahraga secara rutin, dan menerapkan pola makan sehat dan alami.
“Work-life balance itu penting. Tubuh yang dipaksa kerja terus tanpa istirahat akan memicu stres, dan stres sangat mempengaruhi hormon serta kualitas sperma,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar pria tidak ragu memeriksakan diri ke dokter jika mulai muncul gangguan vitalitas, terutama saat mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.
“Nanti akan kami telusuri dulu pola hidupnya, ada tidak penyakit penyerta, bagaimana tingkat stresnya, lalu dilakukan pemeriksaan laboratorium,” pungkasnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid