PASURUAN, Radar Bromo - Stunting adalah kondisi tinggi badan seseorang lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya.
Banyak faktor yang menyebabkan kejadian stunting, termasuk di wilayah Puskesmas Kedawung Wetan, yang tingkat prevalensinya hingga bulan Februari 2025 mencapai 7,9 persen.
Seperti masih terdapat ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis, ibu hamil dengan anemia, pemberian MP-ASI terlalu dini, praktek PHBS yang masih kurang dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, Puskesmas Kedawung Wetan mengadakan inovasi pencegahan stunting dengan Kegiatan “ALPOKAT CETING”.
ALPOKAT CETING ini, merupakan akronim dari Analogi Kelompok Hebat Cegah Stunting.
Di mana kegiatan ini berupa pendampingan kepada sasaran siklus hidup (ibu hamil, ibu menyusui, calon pengantin/WUS/remaja putri, lansia, ibu baduta) oleh Kader Kesehatan dan Lintas Sektor (Tim Penggerak PKK Desa) dan Babinkamtibmas Desa di masing masing dusun di suatu Desa Percontohan yaitu Desa Kedawung Wetan.
“Kegiatan Inovasi Alpokat Ceting dilaksanakan pada bulan September - November 2025 di 3 Dusun Desa Kedawung Wetan. Tujuannya menjadikan kelompok hebat di masing-masing dusun, agar mampu mendampingi masyarakat di wilayah dusun mereka untuk dapat mencegah stunting tingkat rumah tangga,” kata Kepala UOBF Puskesmas Kedawung Wetan, dr. M Darwis Wijaya.
Inovasi ini, dilakukan dengan pendekatan baik secara bersosialisasi langsung maupun pemberian informasi melalui media sosial.
Selain itu kegiatan tersebut, bertujuan pula agar dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam perubahan perilaku.
Serta pola makan yang berhubungan dalam faktor risiko stunting pada anak, menggunakan praktik demonstrasi dan emodemo dan pendekatan menggunakan komunikasi antar pribadi.
“Serta terukur dengan adanya sikap penyebarluasan informasi ke lingkungan sekitar dan keluarga sehingga ada kenaikan status gizi bayi, balita, ibu hamil maupun calon pengantin,” paparnya.
Selain itu, juga pemberdayaan lansia dalam praktik pemberian makanan bayi dan anak mulai dari asi hingga MP-ASI.
Sehingga sasaran kegiatan dapat meningkatkan keterampilan dalam pengolahan bahan makanan maupun perubahan pola makan dan pola hidup yang masih salah.
Dimulai dari kelompok hebat dahulu kemudian dapat disalurkan informasinya ke tetangga, maupun saudara.
Kegiatan pendampingan ini, adalah kegiatan yang membandingan suatu persamaan kejadian sehari-hari.
Seperti praktik pemberian ASI pada ibu menyusui. Namun ada perbedaan kondisi.
Setelah pendampingan dilakukan, kelompok hebat melakukan penyebarluasan informasi melalui media sosial seperti membuat video edukasi melalu WhatsApp, TikTok, dan Instagram masing masing.
Dan melakukan penyebarluasan informasi melalui kegiatan bersosialisai di lingkungan sekitar rumah. (one)
Editor : Jawanto Arifin