Kecanggihan teknologi semakin memudahkan seseorang untuk terhubung dalam media sosial. Juga bisa dengan cepat melihat video apapun yang diinginkan. Termasuk mengakses konten pornografi.
Jika tidak disaring, penggunaan gadget secara berlebihan bisa menimbulkan dampak yang buruk. Apalagi di kalangan remaja. Karena, bisa saja menyalahgunakan gadget yang dimiliki untuk melihat tontonan pornografi.
Alasan remaja menonton pornografi biasanya karena tertarik. Dimungkinkan ketika berkumpul dengan temannya, ada yang bilang jika sudah menonton. Dari sini, timbul rasa penasaran.
“Karena ingin tahu, dia mengakses konten itu sendirian. Dia penasaran dengan aktivitas seksual dalam tontonan tersebut,” ujar Dokter Fungsional di Puskesmas Kanigaran, Kota Probolinggo, dr. Ajeng Putih Sekarningrum.
Bagi orang dewasa, biasanya untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Bagi yang sudah menikah, mereka merasa aktivitas seksual dengan pasangannya terlalu monoton. Agar bisa semakin bergairah, menonton pornografi.
Bisa jadi sebagai rujukan untuk mengeksplorasi cara berhubungan intim. Kemudian dipraktikkan dengan pasangannya. Tujuannya, agar ada variasi dalam berhubungan. Selain itu, untuk masturbasi. Video yang ditonton menjadi objek fantasi.
“Alasan lainnya mungkin awalnya dia hanya iseng untuk mengisi waktu luang. Ternyata malah ketagihan dan keterusan menontonnya,” ujar perempuan berkerudung itu.
Tontonan pornografi, kata Ajeng, bisa berdampak terhadap kesehatan mental. Karena, tontonan pornografi sering menampilkan adegan yang tidak masuk akal. Seperti ada adegan kekerasan.
“Aktivitas sosial juga akan berdampak. Mereka yang kecanduan pornografi, akan cenderung lebih suka menyendiri untuk menontonnya,” katanya.
Alihkan dengan Kegiatan Positif
Menonton pornografi memiliki banyak dampak negatif. Salah satunya bisa menjadi kesulitan untuk merasa puas dengan pasangan hingga mengganggu konsentrasi saat bekerja atau beraktivitas.
Ketika seseorang sering menonton pornografi, kata dr. Ajeng Putih Sekarningrum, bisa jadi tanggung jawabnya berkurang. Karena waktu istirahat malam digunakan untuk menonton pornografi, sehingga di tempat kerja merasa lelah.
Dampak lainnya, karena keseringan menonton, saat berhubungan dengan pasangannya merasa hambar. Tidak mencapai titik orgasme. Gairah terhadap pasangan berkurang. Ia dan pasangan menjadi sama-sama tidak puas.
Karena itu, bisa mendorongnya berhubungan dengan orang lain. Bahayanya, ia berisiko terpapar penyakit seksual menular. Seperti HIV, hepatitis, hingga gonore.
Ia menyebutkan, sebaiknya waktu luang diisi dengan kegiatan positif untuk mengalihkan dari pornografi. Misalnya, dengan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Bisa juga dengan olahraga rutin. Atau, bermain games, asalkan memperhatikan waktu. Sebab, kecanduan bermain games juga berdampak buruk bagi kesehatan. Bisa membuat seseorang antisosial.
“Orang tua juga perlu mengawasi penggunaan gadget. Misal dengan melakukan pengaturan agar anak tidak terjerumus pada konten 18 plus,” pesannya. (riz/rud) Editor : Jawanto Arifin