------------------------------------------------------------------------------------------------------
JARUM jam menunjukkan pukul 13.00. Rabu (24/5), kantor DPRD Kota Pasuruan, sudah sepi. Sejumlah pegawai dan security di depan gerbang tengah berbincang santai. Hanya beberapa wakil rakyat yang belum pulang.
Salah satunya Dedy Tjahjo Poernomo. Pria yang menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Pasuruan, itu gampang ditengeri jika masih ada di kantor. Lihat saja di garasi kantor. Jika terparkir sebuah mobil Jeep Utility, artinya Dedy masih ada.
Mobil perang itu memang kerap menjadi kendaraannya saat ngantor. Kondisinya masih mulus. Catnya yang berwarna krem juga orisinil. Bahkan, part di dalamnya juga berfungsi. “Hanya baling-baling di bagian belakang saja tidak saya pasang. Tetapi semuanya masih oke,” ujar Dedy.
Mobil buatan Amerika Serikat yang tenar saat perang dunia kedua itu, setirnya di kiri. Dedy sudah terbiasa mengemudikannya. Bahkan, sampai luar kota sekalipun. Memang tidak setiap hari digunakan. Tetapi, Dedy mengaku puas memilikinya. “Saya dapatnya sudah lebih dari 10 tahun. Sebelum saya jadi anggota dewan,” ujarnya.
Kebetulan saat itu ada warga Kabupaten Lumajang, yang menawarkan mobil dengan nama Truck M151 A2 itu. Harganya masih kisaran puluhan juta rupiah. “Saya tawar dan cocok. Dari Lumajang, saya bawa pukul 15.00 dan baru sampai rumah sekitar pukul 23.00. He... he... he... ,” kenang Dedy.
Maklum, saat kali pertama, Jeep Utility miliknya memang masih perlu sentuhan. Koel mesin perlu diganti karena cepat panas. Saat membawanya kali pertama harus pelan-pelan. Mencari spare part mobil semacam itu sedikit susah. Di pasaran sebenarnya banyak ditemukan yang second. Tapi, tidak menjamin mesinnya kembali sehat.
“Tetapi, sekarang sudah nyaman, karena saya ganti baru. Dapat koel orisinil yang harganya waktu itu lumayan,” katanya.
Dedy memang menggemari mobil-mobil klasik. Di rumahnya, ada sejumlah mobil seperti VW Combi, VW Comando, hingga Mini Cooper yang tampilannya lekat dengan karakter Mr. Bean. Jika dibawa keliling kota, semuanya menjadi perhatian banyak orang. Namun, bagi Dedy, memiliki kendaraan taktis seperti Jeep Utility merupakan sebuah kepuasan.
“Dibilang mahal, ya nggak juga. Saya dapatnya dulu murah, sekarang bisa ratusan juta. Tetapi yang bikin senang, semuanya masih orisinil dan terawat,” jelasnya.
Politisi Golkar ini menyatakan, dengan mengumpulkan mobil klasik merupakan cara baginya untuk bersantai. Sekaligus menepi sejenak dari kesibukan dunia politik. Katanya, mengoleksi mobil klasik memberikan kepuasan tersendiri. Terutama ketika berhasil menemukan dan memulihkan mobil langka. “Kalau ke kantor, hampir semua pernah saya pakai,” kata Dedy.
Ia lebih sering mengemudikan mobil-mobil klasik ketika ada kegiatan di tengah masyarakat. Sebab, ketika mobilnya sudah keluar banyak orang yang ingin berfoto. Terutama Mini Cooper yang begitu mengingatkan serial Mr. Bean.
“Saya juga rutin mengencani mobil koleksi saya. Terutama saat malam. Apalagi saat Ramadan. Biasanya sambil keliling bagikan nasi sahur,” katanya.
Begitu juga dengan H Imron Hamzah, 57, yang juga mengoleksi kendaraan taktis militer. Bahkan, warga Klampisrejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, ini menjadi Ketua Pasuruan American Jeep (PAJ). Juga mempunyai kendaraan perang. Termasuk Jeep Willys dan Gas.
Dua unit kendaraan tempur buatan Amerika dan Uni Soviet, itu juga masih berfungsi. Unit Willys, terparkir di garasi rumah. Sementara, unit Gas, sedang dalam perawatan. “Willys hampir setiap pagi saya pakai jalan-jalan. Keliling desa atau ajak cucu berputar-putar,” ujar pensiunan Koaramatim TNI AL Surabaya ini.
Imron mengaku menggemari kendaraan perang, bukan semata karena basicnya militer. Tetapi, karena kendaraan perang merupakan unit yang tangguh. Serta, pasti pernah jaya di eranya. “Kelihatan gagah. Saya yang sudah berusia saja, terlihat keren saat naik. Banyak kaum Hawa yang melirik saat mengendarainya,” katanya, sembari berkelakar.
Memang saat ingin memiliki kendaraan perang seperti Jeep Willys, butuh perjuangan. Kadang harganya mahal. Namun, Imron sering mengantarkan kawannya membeli dengan harga murah. Semuanya tergantung kondisi.
“Yang paling menyenangkan, komunitas ini masih banyak di Indonesia. Saat kami jalan-jalan dan misalnya mogok, tak perlu khawatir. Cukup calling kawan sesama komunitas, pasti datang walau tak kenal. Inilah rasa persaudaraan yang saya alami saat jalan-jalan dengan Willys,” jelasnya. (tom/rud)
Semakin Orisinal, Makin Mahal
SEBAGAI penggemar kendaraan perang, pemiliknya memang harus memiliki tantangan. Pertama, jelas kendaraan perang tua, usianya pasti uzur. Perlu perawatan ekstra dan mekanik tidak sembarangan. Karena harus mengetahui karakter mobil.
“Yang penting lagi adalah harus menjaga orisinalitas. Saat ini mobil jip perang memang masih banyak di Asia, termasuk Indonesia. Tetapi, mencari yang benar-benar orisinal sangat susah. Semakin orisinal, harganya makin mahal,” ujar Dedy Tjahjo Poernomo.
Karena itulah, Dedy paling ogah mengecat mobil Jeep Utility-nya. Walau ada korosi di beberapa bagian, ia lebih memilih mempertahankannya ketimbang mengubah warna. Repaint akan mengurangi nilai sejarah mobil itu sendiri. Meski dengan warna yang sama.
Begitu pula dengan part mobil. Dedy bahkan sampai harus hunting, saat koel mesin Jeep Utility miliknya harus diganti. “Saya mencari ke berbagai komunitas di Indonesia, tetapi tidak nemu. Saat ke Vietnam dan Thailand, yang juga menjadi sasaran unit ini turun ketika perang dunia, saya tidak menemukannya. Justru saya nemu koel asli di Indonesia. Kini sudah terpasang dan mobil saya bisa diajak ngebut,” beber Dedy.
Hal berbeda diungkapkan Imron Hamzah. Ia sepakat jika makin orisinal, unit kendaraan perang pasti makin mahal. Tetapi, tidak setuju jika part harus dipertahankan saat kondisinya perlu diganti.
“Sekarang unit seperti Willys sudah discontinyu. Tentu sulit untuk mencari part-nya. Seperti bagian mesin juga. Kalau bagi saya, tidak soal menggantinya. Asalkan tidak merubah fisik,” beber Imron.
Ia mencontohkan Willys miliknya, yang sudah diganti sebuah mesin Toyota Feroza. “Mesin lawas yang asli, sudah tidak berfungsi. Tetapi, fisik mobil masih bagus. Maka ya harus diganti. Yang penting kondisinya masih bagus dan layak jalan,” jelasnya. (tom/rud)
Jangan Sembarangan Pasang Aksesoris
BAGI pemilik kendaraan perang, menjadi sebuah kebanggan saat unitnya berfungsi normal. Ini diakui Dedy Tjahjo Poernomo dan Imron Hamzah. Apalagi saat dipakai berkumpul dengan kawan atau komunitas.
Tetapi saat ini makin banyak pemilik kendaraan perang lawas yang terlalu over memodifikasi. “Misalnya membawa banyak barang yang tak sesuai fungsinya. Justru jadi lucu,” beber Imron.
Biasanya, aksesoris yang melekat di mobil perang, berkaitan dengan keperluan di medan perang. Seperti lampu peta atau baca, towing, senapan mesin, tangka, kotak P3K, ban serep, radio komunikasi, sekop hingga kapak. “Tiap jenis, aksesorisnya berbeda-beda. Saat ini memang tidak mudah mencari yang asli. Tapi, banyak jual yang tiruan. Selagi masih sesuai aksesoris bawaan, tidak masalah,” katanya.
Tapi, bagi Dedy Tjahjo Poernomo, keaslian menjadi mutlak. Bahkan, untuk part seperti ban saja, Dedy mengupayakan memakai yang asli. “Harganya untuk satu itu bisa sampai Rp 5 juta dan pesan di Amerika. Karena itulah, pentingnya untuk berkawan dengan sesama pehobi. Seperti masuk ke komunitas. Karena pasti ada channel,” katanya. (tom/rud)
KENDARAAN PERANG YANG MASIH SERING DITEMUI
- Jeep Utility
Mobil rakitan Amerika Serikat yang dibuat pada sekitar tahun 1970. Mobil ini mempunyai penggerak empat roda. Istimewanya, menganut sistem amfibi dan bisa berjalan di air, karena ada baling-baling di belakang roda.
- Jeep Willys
Diciptakan pertama kali pada 1941. Mobil ini dirancang Karl Probst. Jeep Willys merupakan mobil pertama jip khusus atas permintaan pemerintah Amerika Serikat sebagai kendaraan tempur pada Perang Dunia II. Mobil ini diharuskan memiliki spesifikasi daya angkut 272 kilogram, ground clearance kurang dari 914 milimeter, bobotnya 590 kilogram dengan sistem penggerak empat roda.
- Jeep Cj5 dan Cj7
Unit yang dikeluarkan sekitar tahun 1970-an ini spesifikasi ukurannya berbeda. Cj5 lebik kecil dengan transmisi manual. Sementara, Cj7 relatif lebih besar dengan penambahan ruang kemudi yang lebih panjang untuk memungkinkan transmisi otomatis. Saat ini sudah jarang ditemui yang orisinal.
- Gaz
Uni Soviet menjadikan unit ini sebagai kendaraan tempur pada sekitar tahun 1944. Ada dua model yang dikeluarkan kali pertama. Yakni, GAZ-67 dan GAZ-67B yang mesinnya memiliki CC besar, karena di atas 3.000 dengan empat silinder. Top speed-nya bisa sampai 90 kilometer per jam. Editor : Ronald Fernando