Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sosok Kiai Sekaruddin, Penyebar Islam di Sukapura yang Rela Bertukar Nyawa Demi Mengusir Belanda

Inayah Maharani • Sabtu, 5 Juli 2025 | 18:27 WIB
ZIARAH: Kepala Desa Sukapura, Untung Arsiadi (tengah) bersama dengan Juru Kunci Punden Watu Susu, R Hadi Brojo Sestro (kanan) saat sedang berziarah ke punden watu susu tempat Kiai Sekaruddin dan Tiga
ZIARAH: Kepala Desa Sukapura, Untung Arsiadi (tengah) bersama dengan Juru Kunci Punden Watu Susu, R Hadi Brojo Sestro (kanan) saat sedang berziarah ke punden watu susu tempat Kiai Sekaruddin dan Tiga

Sebuah punden yang terletak di Desa/Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, begitu diistimewakan oleh warga setempat.

Maklum, sosok yang dimakamkan di punden yang dinamai Punden Watu Susu itu, bukanlah orang sembarangan.

Ia merupakan salah satu pejuang yang melawan penjajahan Belanda, sekaligus disebut-sebut pembawa agama Islam di wilayah setempat.

--------------------

Sosok tersebut dikenal dengan nama Kiai Sekaruddin. Ia merupakan utusan dari Kerajaan Mataram. Ia tinggal di wilayah Sukapura, di kisaran tahun 1749 silam.

Kiai Sekaruddin merupakan pemuda yang berasal dari Pulau Madura.

Selain menyebarkan agama Islam, misinya adalah memerangi Belanda. Saat tinggal di Sukapura, ia membentuk perguruan bernama Laskar Tengger.

Bahkan bersama anak didiknya, ia disebut-sebut kerap terlibat perang Blambangan.

Menurut Juru Kunci Punden Watu Susu, R. Hadi Brojo Sestro, Kiai Sekaruddin merupakan sosok yang disegani.

Karena penyebaran Islam di kawasan Tengger, salah satunya tak lepas dari sosoknya.

Kiai Sekaruddin tak pernah memisahkannya dengan adat-adat suku Tengger.

Bahkan lewat budaya itu, Islam bisa masuk dengan mudah di Tengger.

Kiai Sekaruddin mengajarkan pujian-pujian sholawat dengan diiringi gamelan.

Gamelan sendiri menjadi satu alat musik yang melekat dengan suku Tengger, Karenanya, kedatangannya tak banyak ditentang warga Tengger.

“Beliau mengajarkan dengan baik, melalui gamelan dan tandak atau lengger,” katanya.

Raden Hadi-sapaannya menambahkan, bukan hanya menyebarkan agama Islam. Kiai Sekaruddin turut pula menjaga Sukapura dari ancaman Belanda.

Bahkan, dia rela menukar nyawanya untuk mengusir penjajah Belanda dari Sukapura.

Kiai Sekaruddin ini, dikenal sebagai orang yang sakti. Ia memiliki ajian rawa rontek yang membuatnya tak mudah meninggal.

Ia terlibat dalam perang Blambangan dan perang melawan Belanda.

Hingga suatu ketika, Belanda yang kesulitan untuk mengalahkan Kiai Sekaruddin, mengajukan syarat. Mereka rela meninggalkan Sukapura, asalkan Kiai Sekaruddin meninggal dunia.

Keinginan sepenuh hati untuk menjaga wilayah Sukapura, membuat Kiai Sekaruddin tersentak.

Ia pun rela menukar nyawanya, demi membuat Sukapura bebas dari penjajahan Belanda.

Kiai Sekaruddin pun, mengungkapkan kelemahannya. Untuk membuatnya meninggal selama-lamanya. Yakni dengan memisahkan tubuh dengan kepalanya.

Ia pun harus dipenggal. Kemudian tubuh dan kepalanya, dimakamkan terpisah.

Karena itu, diketahui badan Sang Kiai dimakamkan di Desa Sukapura. Sedangkan kepalanya, dimakamkan di Madura tepatnya di Sampang.

“Katanya antara badan dan kepala harus berjauhan, dan harus beda pulau. Artinya dipisahkan lautan. Makanya, tubuhnya di sini (Sukapura, red) sementara kepalanya dimakamkan di Madura,” katanya. 

Raden Hadi mengaku, tak mengetahui pasti Madura bagian mana, tempat Sang Kiai berasal.

Namun setelah mengetahui bahwa kepalanya dimakamkan di Sampang, dia pun menyimpulkan, Sampang adalah tempat Sang Kiai dilahirkan.  

Di Sampang, makamnya juga ramai dengan peziarah. Menurut masyarakat setempat, Sang Kiai adalah seorang ulama yang dikasihi banyak orang.

“Kemungkinan di sana juga orang yang berpengaruh. Dalam artian ulama. Makamnya juga ramai didatangi,” ujarnya. (ran/one)

----------------

 

PERTUNJUKKAN: Pertujuan kesenian tari di Punden Watu Susu  saat kegiatan bersih Desa Sukapura, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu.
PERTUNJUKKAN: Pertujuan kesenian tari di Punden Watu Susu saat kegiatan bersih Desa Sukapura, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu.

Berdekatan dengan Makam Tiga Sinden

Makam Kiai Sekaruddin di Sukapura, berdekatan dengan tiga makam sinden.

Konon, ketiga sinden ini adalah teman seperjuangan Kiai Sekaruddin dalam menyebarkan agama Islam dan melawan penjajahan Belanda.

Karena itu, sosok ketiga sinden ini, juga sangat dihormati oleh masyarakat Sukapura.

Setiap kegiatan bersih desa, masyarakat Desa Sukapura juga membawakan kesenian tari untuk menari di makam Kiai Sekaruddin dan ketiga sinden.

“Karena mereka, dahulunya adalah sinden. Akhirnya adat turun temurun, katanya harus dibawakan tandan atau lengger,” jelas  Juru Kunci Punden Watu Susu, R. Hadi Brojo Sestro.

Sepeninggalnya Sang Kiai, perjuangan dakwah di Tengger, dilanjutkan oleh saudara kembar bernama Samidro dan Samitro. “Keduanya ini dikenal sebagai adik perguruannya kiai,” katanya.

Berkat keteguhan perjuangannya menyebarkan Islam, kini masyarakat di Sukapura terkenal dengan masyarakat yang toleransi.

Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Tengger lain yang memeluk agama Hindu dan kepercayaan.

Bahkan semua masyarakat Tengger, tetap melestarikan adat istiadat khas Tengger  hingga saat ini. (ran/one

Editor : Fahreza Nuraga
#ziarah #belanda #sejarah #Penyebar #insiden #islam