WONOKATON adalah sebuah dusun di Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Dari segi bahasa, konon, kata Wono memiliki arti alas. Sementara Katon adalah ketok atau kelihatan.
Dari situlah, masyarakat memaknainya jika Wonokaton adalah alas yang sudah kelihatan.
Artinya, sebuah alas yang dahulunya rimba yang kemudian berubah menjadi bersih dan layak ditinggali, setelah dimukimi manusia.
Orang pertama yang bermukim di wilayah tersebut, disebut-sebut adalah Mbah Manen.
Ia merupakan seorang lelaki asal Madura, sekitar tahun 1800-an silam.
Semula, Mbah Manen dipercaya masyarakat setempat, tinggal di sebuah gua. Gua tersebut dikenal keramat.
Lokasinya, berada di RT 20/RW 8, Dusun Wonokaton, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
“Dahulu, bermukimnya ya, di gua itu. Tempat yang juga menjadi pertapaannya,” kata Ainul Yakin, 60, kepala Dusun Wonokaton, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling.
Konon, Mbah Manen ini merupakan orang sakti. Ia dikenal sebagai pawang hujan dan bisa menyembuhkan orang sakit.
Berdasarkan cerita turun temurun, awal menempati gua itu, si penunggu berupa sosok Singa, tidak menerima kehadirannya. Hingga pertarungan terjadi.
Dan Mbah Manen berhasil memenangkan duel tersebut. Bahkan, sampai membuat si penunggu, dijadikan khodamnya.
Setelah bermukim di sana dengan bantuan khodam dan pasukannya, Mbah Manen membabat alas.
Sebab wilayah tersebut merupakan hutan belantara yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan rindang.
Setelah pembabatan alas itu, wilayah tersebut mulai tampak bersih dan layak huni.
Sampai dalam perkembangannya, Mbah Manen menikahi perempuan cantik yang berasal dari Jawa.
Lambat laun, semakin banyak orang yang bermukim di wilayah setempat. Dari yang semula alas menjadi wilayah yang lebih tampak.
“Mungkin, kondisi tersebut dalam bahasa kuno terdahulu, adalah Wonokaton,” sampainya.
Selama hidupnya, Mbah Manen merupakan tokoh penting. Ia merupakan sosok yang baik, dermawan dan menjadi penolong bagi masyarakat yang sedang kesusahan.
Dia juga diyakini memiliki karomah, untuk bisa menurunkan dan menghentikan hujan. Menyembuhkan orang sakit dan banyak kesaktian yang lainnya.
Bahkan, jika mendapati masyarakat yang sedang diintimidasi oleh Belanda, Mbah Manen menyembunyikannya di gua.
Banyak yang percaya, jika sudah berada di gua, tentara Belanda tidak bisa melihat seorang pun di sana.
“Ada beberapa gua di sini, Mas. Dahulu kata Mbah-mbahku, gua tersebut dijadikan tempat persembunyian warga saat disakiti Belanda,” urainya.
Setelah Mbah Manen meninggal, lokasi tersebut kemudian dijuluki Wonokaton. Bahkan, gua yang sering dijadikan tempatnya bertapa, dianggap keramat.
Terbukti sampai sekarang, gua itu sering didatangi orang dari luar daerah.
Mereka berasal dari Malang, Lumajang, Madura dan beberapa daerah yang lainnya.
Tujuannya beragam. Kebanyakan, untuk mencari kesembuhan, atas penyakit yang diderita.
Saat berobat, biasanya menginap tidur di gua tersebut. Mereka baru pulang, setelah merasa sembuh dari sakit yang diderita.
“Saya mengetahuinya, karena sering mereka yang berkunjung, minta izin ke saya. Mereka membawa mobil. Kalau sudah sembuh tasyakuran,” ujarnya.
Hingga saat ini, kondisi gua tersebut masih terawat kelestariannya.
“Banyak orang yang datang. Kebanyakan, mereka karena menderita penyakit yang tak kunjung sembuh,” tukasnya.
Lestarikan Peninggalan Mbah Manen
Setelah Mbah Manen meninggal dunia, jasadnya dikebumikan di pemakaman yang jaraknya sekitar 500 meter dari gua.
Tempat itu, tak lain adalah gua yang pernah dijadikannya lokasi tirakat, bahkan disebut-sebut pernah mengeluarkan kepingan emas.
Kepala Dusun Wonokaton, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Ainul Yakin menyatakan, jasa Mbah Manen dikenang oleh masyarakat.
Saat menggelar acara desa, makam Mbah Manen tak luput dari tempat yang dijujuki warga.
Selain punden, gua yang berada di lokasi setempat, menjadi peninggalan Mbah Manen.
“Gua ini, menjadi saksi bisu lokasi tirakatnya Mbah Manen,” katanya.
Konon, pada tahun 1980-an, seseorang menemukan pecahan emas di sekitar gua tersebut.
Begitu satu orang menemukan, banyak orang yang memburunya. Setelah tiga kali penemuan selanjutnya, pengecekan kadar emas dilakukan.
Hasilnya mengejutkan. Karena ternyata, bukan emas murni. Melainkan, kuningan.
“Awalnya, emas asli. Tapi setelah tiga kali penemuan, sudah tidak asli lagi. Katanya hanya berupa kuningan. Saya sering bermain di sana dahulu,” papar dia.
Ia tak mengetahui, dari mana emas itu berasal. Namun, meski sempat ramai dengan adanya penemuan emas, gua dan punden Mbah Manen masih banyak dikunjungi orang.
Tak hanya untuk penyembuhan penyakit. Tetapi juga, untuk keberkahan bahkan meminta wangsit.
“Banyak Mas yang datang. Sayangnya, terkadang disalahgunakan. Sebab, ada juga orang yang meminta nomor judi togel,” tuturnya.
Konon mereka yang pernah bertirakat di gua itu, pernah bertemu Singa Putih.
Jika sudah bertemu dan mengikutinya, gua tersebut bisa sampai tembus ke wilayah Gunung Sir, di Desa Kapasan, Kecamatan Nguling.
Walaupun usianya sudah beratus tahun lamanya, punden dan goa ada yang merawat. Sebab masing-masing lokasi, ada juru kuncinya.
Makam Mbah Manen ini dipercantik. Benar-benar dijaga kebersihannya. Begitu juga gua. Dari dahulu, tidak berubah.
“Hanya saja, pohon beringin yang tumbuh di atas gua, sudah ditebang,” ulasnya.
Ada yang Berhasil Keinginannya Terwujud
Perjuangan Mbah Manen dalam membabat alas wilayah Wonokaton dan menjaga masyarakat setempat, membuat makamnya dikeramatkan.
Terbukti sampai saat ini, tempat pemakamannya banyak dikunjungi masyarakat.
Kepala Dusun Wonokaton, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling Ainul Yakin mengatakan, banyak yang datang ke gua dan punden Mbah Manen. Semuanya, rata-rata ingin mencari kesembuhan.
“Sudah banyak yang mendapatkan hasil. Buktinya, banyak yang akhirnya menggelar selamatan. Mereka makan-makan di gua bersama keluarganya sendiri,” sampainya.
Biasanya, orang berkunjung di malam Jumat Legi, hingga siang hari. Ada yang seminggu bahkan sebulan. Rata-rata, meminta kesembuhan penyakit.
Sedangkan di makan Mbah Manen, bukan hanya kesembuhan penyakit. Ada yang meminta pesugihan, nomor togel, dan lainnya.
“Kalau togel dan pesugihan, saya belum menyaksikan secara langsung, ada yang berhasil. Tapi kalau sekedar isu atau pun dongeng keberhasilan, sering. Sementara, untuk yang sembuh dari penyakit, saya pernah menyaksikan sendiri. Meski sebenarnya, ada pula yang gagal,” akunya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin