Di sebuah rumah sederhana di Desa Pohsangit Tengah, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, suara tawa anak-anak nyaris terdengar meriah. Saat senja berganti malam, satu per satu mereka datang membawa buku tulis, pensil, dan rasa ingin tahu yang besar. Lalu, ruang tamu rumah itu menjelma jadi perpustakaan kecil dan ruang belajar yang nyaman.
INNEKE AGUSTIN, Wonomerto, Radar Bromo
Warga mengenal lokasi tersebut sebagai Taman Baca Masyarakat (TBM) Cahaya. Bukan sekadar tempat meminjam buku, tetapi ruang tumbuh bagi anak-anak desa untuk mengenal mimpi, keberanian, dan masa depan.
Taman baca itu berdiri atas inisiatif sepasang suami istri (pasutri) muda, Noor Lia Khan, 25 dan Muhammad Amir Hamzah, 27, pada 2019. Dari sini, telah berdiri lima Taman Baca Masyarakat (TBM) yang tersebar di Kabupaten Probolinggo.
Selain TBM Cahaya di Pohsangit Tengah, mereka mendirikan TBM Pelita Aksara di Kecamatan Tongas, TBM Maslahah dan TBM Serambi di Kecamatan Sumberasih. Dan TBM Bintang Literasi di Kecamatan Kuripan.
Mereka sengaja memilih literasi sebagai jalan pengabdian. Semuanya, menurut Noor, bermula saat dia lulus SMA beberapa tahun lalu. Karena berbagai keterbatasan, Noor tidak bisa melanjutkan kuliah. Namun ia tak ingin hari-harinya berlalu tanpa makna. Ia pun akhirnya membuka les di rumahnya itu.
Baca Juga: Desa Sumberkare di Wonomerto Probolinggo Maksimalkan Pelayanan Publik Berbasis Digital
"Awalnya hanya beberapa anak yang datang. Lama-kelamaan semakin banyak. Sekarang kalau semuanya hadir, bisa sekitar 50 anak dan sampai memenuhi teras rumah," tuturnya.
Dari aktivitas sederhana itu, Noor menyadari bahwa banyak anak sebenarnya memiliki semangat belajar yang tinggi. Namun mereka kekurangan ruang, pendamping, dan akses terhadap buku-buku yang layak.
Setahun berselang, takdir mempertemukannya dengan sang suami, Amir. Pertemuan itu bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga dua cita-cita.
Amir memiliki kegemaran membaca dan kepedulian yang sama terhadap pendidikan masyarakat desa. Bersama, keduanya mulai membangun TBM dengan lebih serius.
Perjuangan mereka perlahan mendapat perhatian. Pada 2022, Disperpusip Kabupaten Probolinggo menyalurkan ribuan buku untuk melengkapi koleksi rumah baca tersebut.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2025, bantuan kembali datang. Perpustakaan Nasional memberikan bantuan ratusan buku beserta rak penyimpanan. TBM Cahaya bahkan pun telah memiliki Nomor Induk Perpustakaan secara resmi.
"Kami memang mengajukan bantuan ke Perpusnas. Alhamdulillah sekarang sudah memiliki Nomor Induk Perpustakaan," ujar Noor.
Kini, sekitar 3.000 buku memenuhi rak-rak sederhana di rumah itu. Mulai buku pelajaran, dongeng, ensiklopedia, hingga buku-buku pengetahuan umum tersedia untuk siapa saja yang ingin belajar.
Peserta didiknya pun berasal dari berbagai usia. Mulai anak prasekolah, pelajar SD hingga SMA, mahasiswa, bahkan anak berkebutuhan khusus.
Meski demikian, Noor mengaku masih memiliki harapan untuk melengkapi koleksi buku-buku bacaan yang lebih berat. Seperti filsafat, sejarah, maupun ilmu sosial lainnya.
"Buku untuk anak-anak sampai mahasiswa sudah cukup banyak. Tapi kami masih kekurangan buku-buku yang isinya lebih mendalam," tuturnya.
Bagi Noor, kehadiran taman baca di pedesaan bukan sekadar menyediakan buku. Lebih dari itu, ia ingin membangun cara berpikir masyarakat melalui budaya membaca.
"Harapannya bukan hanya anak-anak yang gemar membaca, tetapi orang tuanya juga ikut berubah pola pikirnya," ujarnya.
Di balik semua itu, keduanya memiliki misi yang lebih besar. Yaitu, memutus mata rantai pernikahan dini yang masih terjadi di sejumlah wilayah pedesaan. Mereka percaya, pendidikan adalah jalan paling efektif untuk membuka masa depan yang lebih luas.
Karena itu, mereka juga aktif menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah. Seperti SMP dan SMA HATI, Pondok Pesantren Ma'al Barokah di Desa Tunggakcerme, hingga SMA Al Falah Kota Probolinggo Kota Probolinggo.
"Alhamdulillah, sampai sekarang sudah ada sebelas anak yang berhasil kami dampingi hingga bisa terus bersekolah," katanya dengan mata berbinar.
Setiap malam pada hari kerja, pukul 19.00 hingga 21.00, rumah itu selalu dipenuhi anak-anak. Mereka mengerjakan pekerjaan rumah, membaca dongeng, belajar berhitung, menulis, public speaking, bahasa Inggris, menggambar, mewarnai, hingga menari.
Sementara itu, orang tua mereka tak dibiarkan menunggu begitu saja. Noor juga membuka kelas parenting sederhana agar pendidikan di rumah berjalan seiring dengan pendidikan di taman baca. "Semuanya gratis. Kami hanya ingin mereka terus belajar," ucapnya.
Namun bagi Noor dan Amir, literasi tak boleh berhenti di rumah mereka. Sesekali mereka mengangkut buku-buku ke pelosok desa. Mendatangi TPQ maupun lingkungan yang jauh dari akses bacaan.
Program itu mereka beri nama Pustaka Bergerak. Di sana mereka menggelar tikar, membacakan dongeng, mengajak anak-anak mengenal buku, lalu membiarkan rasa ingin tahu tumbuh dengan sendirinya. "Kami ingin buku juga sampai ke pelosok-pelosok desa," katanya.
Perjalanan membangun taman baca tentu bukan tanpa luka. Pada masa-masa awal, Noor mengaku sering dipandang sebelah mata. Bahkan, ia pernah menerima ancaman pembunuhan hanya karena mendirikan taman baca.
Di tengah keterbatasan fasilitas, ia membuat sendiri media belajar. Buku latihan menulis tak mampu dibeli, maka Noor menggambar titik-titik membentuk huruf dan angka di atas lembaran kertas. Tujuannya sederhana, agar anak-anak bisa belajar menyambungkannya menjadi tulisan. Semua dilakukan dengan tangan dan kesabaran.
"Karena kami ingin menghilangkan kebodohan, mungkin ada yang merasa terganggu. Justru itu membuat kami semakin yakin untuk mengubah pola pikir seperti ini. Kami juga butuh dukungan masyarakat dan pemerintah agar gerakan ini terus berjalan," ungkapnya.
Tantangan lain datang dari perkembangan teknologi. Gawai telah menjadi teman akrab anak-anak, membuat buku perlahan tersisih.
Namun Noor tak menyerah. Ia menghidupkan cerita lewat boneka tangan, mendongeng dengan penuh ekspresi, lalu mengajak anak-anak mengenal alam sekitar sebelum akhirnya membuka lembar demi lembar buku.
"Setelah mengenal buku, Alhamdulillah mereka jadi lebih cuek dengan handphone. Mereka lebih senang membaca dan bermain bersama teman-temannya. Motorik mereka juga ikut berkembang," jelasnya.
Di rumah sederhana itu, cahaya tak berasal dari lampu yang menggantung di langit-langit ruang tamu. Cahaya lahir dari halaman-halaman buku yang dibuka setiap malam. Dan selama masih ada tangan yang bersedia membalik halaman demi halaman, cahaya itu akan terus menyala, menerangi masa depan desa dengan ilmu pengetahuan. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi