Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Enemy Pie Racikan Pelajar asal Sukorejo Pasuruan Sukses Raih Juara 1 Lomba Storytelling Nasional

Muhamad Busthomi • Kamis, 16 April 2026 | 17:23 WIB

 

Shizuka Silmi Ka
Shizuka Silmi Ka'afah dan trofi yang ia peroleh.

 

Langkahnya sempat ragu karena panggung yang dituju dinilainya terlalu besar untuk seorang pelajar madrasah tsanawiyah (MTs). Lomba storytelling nasional dalam ajang ECLAIR 4.0 Exuberant Competition of Al-Maahira 2026. Namun keraguan itu akhirnya dikalahkan oleh satu hal sederhana: keberanian untuk mencoba.

MUHAMAD BUSTHOMI, Sukorejo, Radar Bromo

Nama Shizuka Silmi Ka'afah kini tercatat sebagai juara 1 lomba storytelling nasional dalam ajang ECLAIR 4.0 Exuberant Competition of Al-Maahira.

Prestasi itu diraihnya melalui proses panjang. Mulai rasa ragu, pencarian ide, hingga mencapai kepercayaan diri di hadapan dewan juri.

Pelajar asal Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, tersebut awalnya hanya mendapatkan informasi lomba dari guru dan media sosial.

Ketertarikan muncul tetapi belum sepenuhnya yakin untuk mendaftar.

“Awalnya maju-mundur. Karena ini tingkat nasional, pasti pesertanya juga bagus-bagus,” ungkapnya.

Sampai akhirnya, gadis itu memutuskan ikut serta. Pertimbangannya sederhana: kesempatan tidak datang dua kali. Kalimat sederhana itu menjadi dorongan kuat untuk melangkah lebih jauh.

Babak penyisihan dilakukan secara daring. Dari ratusan peserta, panitia menyaring sepuluh finalis terbaik.

Nama Shizuka masuk dalam daftar tersebut. Lalu final digelar secara luring di lingkungan Al-Maahira Malang.

Di titik itu, tantangan semakin besar.  Tidak seperti lomba bercerita pada umumnya, peserta diwajibkan membawakan karya sendiri.

Artinya, kemampuan tidak hanya diuji dari cara bertutur. Selain berbahasa Inggris, cerita yang dibawa juga harus lahir dari kekuatan ide dan kreativitas dalam menyusun cerita.

Shizuka memilih jalur yang tidak biasa. Inspirasi digali dari berbagai sumber, termasuk platform digital seperti YouTube. Dari potongan cerita yang ditemukan, ide kemudian dikembangkan menjadi narasi baru yang lebih kontekstual.

Judul yang diangkat cukup unik: Enemy Pie—kue pie yang dianggap jahat. Cerita tersebut berkisah tentang seorang anak yang membenci temannya karena sering berbuat jahil.

Rasa kesal memuncak hingga muncul keinginan untuk ‘menyingkirkan’ teman tersebut. Sang ayah kemudian memberi saran yang tidak terduga: membuat ‘enemy pie’.

Namun ada satu syarat. Kue itu hanya bisa diberikan setelah keduanya menghabiskan satu hari penuh bersama.

Alur cerita berkembang dari situ. Rasa enggan berubah menjadi interaksi. Kebencian perlahan mencair. Hingga akhirnya saat kue tersebut dimakan, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada sihir, tidak ada efek buruk.

Pesan justru muncul dari proses yang dijalani. Bukan kue yang mengubah segalanya, melainkan waktu yang dihabiskan bersama.

“Cerita ini mengandung makna tentang empati, memahami orang lain, dan mengubah perspektif kita terhadap orang yang kita anggap musuh sekalipun,” kata Shizuka.

Di atas panggung final, Shizuka membawakan cerita tersebut dengan penuh penghayatan. Ekspresi wajah, intonasi suara, hingga gestur tubuh menyatu membangun suasana.

Meski sempat diliputi rasa gugup, fokus tetap terjaga.  “Awalnya agak nervous. Tapi mencoba tetap positif thinking. Tidak memikirkan hal-hal seperti blank atau kehabisan waktu,” ujarnya.

Pendekatan mental tersebut terbukti efektif. Penampilannya berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Namun hasil akhirnya di luar ekspektasi. Ketika nama pemenang diumumkan, Shizuka sempat tidak percaya. Juara 1 berhasil diraih alumni SDI Ma’arif Al-Manaar itu.

Target awal sebenarnya hanya berada di posisi kedua. Alasannya, kualitas peserta lain dinilai sangat baik.

“Tadinya prediksi juara dua. Soalnya peserta lain ceritanya menarik semua,” katanya.

Prestasi tersebut menambah panjang daftar pencapaian yang sudah diraih sebelumnya. Di rumah, puluhan piala telah tersusun rapi. Sekitar 20 penghargaan dari berbagai kompetisi.

Namun bagi Shizuka, angka tersebut belum cukup. Target berikutnya telah dipasang. Yaitu meraih 50 prestasi selama sekolah di MTsN 1 Kota Malang.

Bukan ambisi buta, ia juga menyematkan semangat konsistensi di dalamnya. Ada keinginan untuk terus berkembang dan tidak cepat puas.

Dukungan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan tersebut. Ibu Shizuka, Amirotul Adzkiya mengungkapkan, bahwa capaian putrinya juga melalui proses seleksi yang tidak mudah sejak awal.

“Di tahunnya anak saya yang lolos tes masuk MTsN 1 Kota Malang hanya tiga. Anak saya dari SDI Ma’arif Al-Manaar, sementara yang lain dari ABC dan Mutiara Ilmu,” tutur Kiki, sapaan Amirotul Adzkiya.

Saat ini, Shizuka sudah kelas VIII dan berhasil masuk dalam program khusus.

“Sekarang sudah lolos tes masuk ke kelas khusus yaitu kelas bilingual,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, pengalaman internasional juga pernah dirasakan sejak dini. Saat kelas VII, Shizuka terpilih mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri.

“Anak saya pernah dikirim pertukaran pelajar ke Singapura dan Malaysia waktu kelas VII,” tambahnya.

Perjalanan yang dijalani juga menjadi pelajaran penting, terutama bagi pelajar seusianya. Bahwa rasa ragu adalah hal yang wajar tetapi tidak boleh menjadi penghalang.

Selain itu, pola pikir positif menjadi kunci lain yang tidak kalah penting. Menurutnya, apa yang dipikirkan sangat berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. “Harus percaya diri, jangan putus asa sebelum mencoba,” ujarnya. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#storytelling #pasuruan #nasi #lomba #Sukorejo